Cari Tafsir

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang telah membuka kitab-Nya dengan firman-Nya:Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Pengantar Tafsir Ibnu katsir

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Bi Qur'an Plus Tafsir Ibnu Katsir

Aplikasi alquran yang kita bahas ini adalah Complete Quran (Indonesia). Aplikasi ini disajikan secara FREE. Dan hanya tersedia untuk Smartphone Android.

Pengantar Sebelum Surat Al Fatihah

Ayat Al-Qur'an seluruhnya berjumlah enam ribu ayat, kemudian selebihnya masih diperselisihkan oleh beberapa ulama. Di antara me-reka ada yang mengatakan tidak lebih dari 6.000 ayat, ada pula yang mengatakan lebih dari 204 ayat. Menurut pendapat yang lain lebih da-ri 214 ayat, pendapat yang lainnya lagi mengatakan lebih dari 219 ayat.

Keutamaan Surat Al-Baqarah

Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, diturunkan bersamaan dengan turunnya delapan puluh malaikat pada tiap-tiap ayatnya. Dikeluarkan dari 'Arasy firman-Nya, "Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)"(Al-Baqarah: 255).

SETAN DIANTARA 'AIN DAN DENGKI

Segala Puji bagi Allah Rabb semesta alam, yang telah memberikan taufik, hidayah dan rahmat-Nya bagi kita semua. Salah satu bentuk rahmat-Nya adalah pemberian ilmu bagi kita sebagai petunjuk dan jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi oleh hamba-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad n penghulu para makhluk, keluarganya yang suci dan para sahabatnya. Tidak pernah habis keajaiban dalam sunnah dan setiap apa yang Beliau ajarkan kepada kita.

Salah satu masalah yang Beliau ingatkan pada kita adalah al ‘Ain. Bahkan Beliau mengingatkan tentang bahaya ‘Ain. Kedahsyatan ‘Ain berpengaruh terhadap kondisi fisik, mental, dan semua hal dalam diri kita. Bahkan Beliau telah mengingatkan bahwa ‘Ain bisa berujung pada kematian. Ini adalah persoalan serius yang telah diingatkan oleh Nabi n sejak ratusan tahun yang lalu.

Dalam dunia ruqyah, ‘Ain sudah sangat dikenal, tetapi bentuk bentuk gangguan yang disebabkan ‘Ain berkembang seiring waktu. ‘Ain muncul menjadi penyakit yang mematikan dan terkadang langka.

Buku-buku rujukan tentang ‘Ain sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi sangat sedikit yang bisa menjelaskan ‘Ain dalam konteks kekinian. Kita bersyukur telah menerbitkan buku karya Syaikh Abu Barra Usamah bin Yassin al Maani.

Penulis dengan sangat detail menjelaskan ‘Ain dalam buku ini. Salah satu yang menjadi kekuatan buku ini adalah penulis seorang praktisi ruqyah dan murid seorang ulama besar. Penulis adalah murid Syaikh Sholih al-Munajjid.

Kita akan menemukan pembahasan tidak secara teori saja tetapi benar-benar aplikatif. Pembahasan ‘Ain dari sudut pandang teori dan praktek lapangan.

Kekuatan buku ini adalah penulis sangat berhati-hati terhadap tajribah, temuan metode baru dalam ruqyah dan terapi ‘Ain. Penulis juga memberikan hujjah-hujjah yang kuat berdasarkan pendapat- pendapat para ulama dan maroji yang kuat.

Secara khusus, penerbit menyampaikan terima kasih kepada Syaikh Abu Barra Usmah bin Yassin al- Maani, yang telah memberikan ijin khusus kepada Yayasan Ruqyah Learning Center Indonesia untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku yang berjudul:
المنهل المعين في إثبات حقيقة الحسد والعين
Semoga kehadiran buku ini bermanfaat bagi umat dan memperkaya khasanah ilmu pengobatan Nabawi.

Daftar  Isi Buku:
Bab 1.     Makna dan Hakikat Hasad serta ‘ain
Bab 2.     Bagaimana ‘ain dan hasad bisa berpengaruh?
Bab 3.     Bagaimana bisa tertimpa ‘ain?
Bab 4.     Dalil-dalil ‘ain dan hasad bisa menimpa.
Bab 5.     Pendapat ulama tentang ‘ain dan Hasad
Bab 6.     Pendapat Dokter-dokter di zaman modern
Bab 7.     Pendapat sebagian penulis dan cendekiawan pada masa modern.
Bab 8.    Hadits-hadits dan atsar-atsar palsu dan dhoif yang membahas ‘ain.
Bab 9.    Jenis-jenis ‘ain dan hasad.
•    Beberapa catatan penting.
•    Jenis-jenis ‘ain
A.    Dilihat dari si pelempar ‘ain
B.    Dilihat dari segi Pengaruh dan akibat yang ditimbulkan.
1)     ‘Ain Yang Mematikan (Seperti Racun & Api)
2)     ‘Ain Yang Membuat Cacat Tubuh.
3)     ‘Ain Yang Membuat Sakit.
4)     ‘Ain yang muncul secara temporer
5)    ‘Ain atau Jiwa yang berhasrat (Kagum – ghibthoh)

Bab 10.  Kisah-kisah terkait ‘ain dan hasad yang diceritakan oleh ulama dan dai.
Bab 11.  Sebab-sebab Hasad.
Bab 12.  Cara Mengetahui si Pelempar ‘ain atau  pendengki.
Bab 13.  Perbedaan antara ‘ain & Hasad.
Bab 14.  Ciri-ciri khusus terkena ‘ain, Metode pengobatannya dan perkara-perkara yang terkait.
A.    Ciri-ciri khusus terkena ‘ain.
1.    Ciri-ciri fisik.
2.    Ciri-ciri sosial.
B.    Mencegah dan Mengobati ‘Ain.


SETAN DIANTARA DENGKI & ‘AIN
PENULIS:
SYAIKH ABUL BARRO’ USAMAH BIN YASIN AL-MA’ANI
PENERBIT: RLC PUBLISHING 2017
UKURAN : 16 cm x 24 cm
HALAMAN : 344

HARGA : Rp. 160.000,-
INFO PEMESANAN HUBUNGI:
085716863625

CARA PENYEMBUHAN DENGAN ALQUR'AN - Mengatasi Ain, Jin dan Sihir




Buku ini diulis oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Sadhan, yang membahas tentang ruqyah syar’iyyah dan pengaruhnya, sebagai terapi dari berbagai macam penyakit, terutama penyakit ‘ain berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لاَ رُقْيَةَ إِلاَّ مِنْ عَيْنٍ أَوْحَمَةٍ
"Tidak ada ruqyah kecuali karena penyakit ‘ain atau (implikasi sengatan yang) beracun."
Tulisan yang yang sangat berharga dan bermanfaat, sumbernya adalah kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta apa-apa yang dibukakan oleh Allah bagi para hamba-Nya berupa doa, rintihan pengaduan, permohonan dan ketergantungan hanya kepada Allah; tidak kepada selain-Nya.
Tidak diragukan lagi bahwa pembahasan tentang masalah ini sangat penting dan dibutuhkan pada setiap zaman dan tempat. Penulisnya adalah seorang yang sudah dikenal kelurusan aqidahnya, kelurusan pemikiran dan ketaqwaannya, semoga Allah memberikan balasan yang baik bagi dirinya, dan menjadikan tulisan ini, ilmu dan upaya penulis yang hanya mencari keridhaan Allah sebagai usaha yang memberikan manfaat bagi saudara-saudaranya yang seiman, yaitu mereka yang terjangkit penyakit hasad, orang-orang yang bersifat hasad dan orang yang terkena penyakit ‘ain (Ma'yun) serta orang-orang yang melemparkan penyakit ‘ain (‘Aa’in).
Sangat disayangkan, sebagian orang berprasangka buruk terhadap saudaranya sendiri, padahal sebagian dari prasangka buruk adalah dosa, dan ini merupakan prasangka buruk yang mendatangkan dosa bagi pelakunya. Mereka berprasangka negatif terhadap aqidah dan pemikiran saudaranya sendiri saat melihat atau mendengar bahwa ia bertanya kepada pasiennya: Apakah ada orang terbayang di dalam benakmu? (saat meruqyah seorang pasien) dan prasangka ini bukan pada tempatnya, padahal saudaranya tersebut sedang mempraktikkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam saat beliau meruqyah Sahl bin Hunaif: "Apakah engkau mencurigai seseorang?" Dia dengan apa yang ditanyakannya sedang melaksanakan dan menjalani sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dia telah menyebutkan bahwa beberapa pasien saat diruqyahnya dan bertanya kepadanya: Apakah engkau mencurigai seseorang? Apakah ada orang yang tergambar di dalam benakmu? Apakah engkau melihat sesuatu yang menyakitimu di dalam mimpimu? dan wawancaranya ini bersama pasien bukanlah tindakan yang mesti menimbulkan keraguan di dalam aqidah dan kebenaran keyakinannya. Sebagaimana hal ini juga tidak termasuk praktik paranormal, kebohongan dan perdukunan saat dirinya menampilkan tindakan seakan-akan mengetahui seluk beluk penyakit, sebab-sebab dan obatnya. Saudara yang kita cintai ini sangat jauh dari apa yang dituduhkan tersebut dan tidak termasuk golongan mereka yang sesat.
Allah telah memberikan manfaat dengan ruqyahnya tersebut orang-orang yang telah terserang penyakit jiwa dan pasien yang lainnya, dari mereka yang terjangkit penyakit jasmani. Dan Allah memberikan nikmat baginya dengan kesuksesan menjalankan praktik ruqyah, hal ini termasuk karomah dari Allah. Dan semoga sebab keberhasilan ini adalah karena ketaqwaannya kepada Allah, dan harapan hanya untuk mendapakan pahala dan ber-taqarrub kepada Allah serta memberikan manfaat bagi saudaranya yang seiman. Dan tidak diragukan lagi bahwa buku ini menyingkap hakikat pemikirannya dan keselamatan dirinya dari apa yang diprasangkakan, juga tidak diragukan lagi bahwa perkaranya seperti apa yang sebutkan dalam firman Allah:
"Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." [QS. Al-Hujurat: 12]
Untuk menyempurnakan manfaat pembahasan buku ini, kami persembahkan sebuah tulisan yang berhubungan dengan ruqyah syar’iyyah agar menjadi bagian dari buku Syaikh Muhammad Al-Sadhan, semoga Allah memberikan taufik dan inayah-Nya bagi penulis buku ini.





Penulis Syekh Abdullah bin Muhammad Al Sadhan
ukuran buku: 16x24 cm
halaman: 160 hal
Berat buku: 500 gr
Penerbit: RLC Publishing
Harga buku: Rp 60.000,-

Untuk Pembayaran buku melalui transfer Ke Rekening Muamalat 3280004282 an Rudianto

Konfirm bila sdh transfer.
Adapun pengiriman melalui JNE.

Pemesanan dan pembayaran Mohon Konfirmasi ke : sms/wa 085716863625

Testimoni tentang Buku ini

Ini adalah buku terbaik yg pernah saya baca tentang penyakit 'Ain. Isinya sangat detail, benar- benar sesuai realita di lapangan, bukan hanya teori. Gagasan penulis dalam terapi 'ain, cara mengambil bekas menjadi solusi yang sangat memudahkan. Buku ini juga telah mendapatkan persetujuan dari 5 Syaikh dari Saudi, sehingga tidak diragukan kualitasnya. Ditulis dengan bahasa sederhana dan salah satu kekuatan buku ini adalah penulisnya adalah seorang terapis, ditulis berdasarkan temuan dan praktek bukan buku yang ditulis dengan studi literatur saja. Sehingga buku ini menjadi jembatan antara teori dan praktek di lapangan.
(M. Nadhif Khalyani - RLC)



⁠⁠⁠AKSI MENGGALI KANDUNGAN AL QUR'AN

⁠⁠⁠AKSI MENGGALI KANDUNGAN AL QUR'AN


Bismillâhirrahmânirrâhîm


📖❤📖❤📖❤📖❤📖

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

‘[Al-Qur’an adalah] sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya…” (QS. Shad [38]: 29)

Saat Al Qur'an dinista....tentu perlu kita bela

Tapi....sudahkah kita tadabburi dan pelajari kandungannya ?


atau....

😵 Bingung saat hendak mencari ayat tema  tertentu dalam Al Qur'an ?

😵 Repot nanya ke ustadz saat ada tugas terkait Al Qur'an



Kini....menggali kandungan Al Qur'an dipermudah dengan software database !!!

Mudah....Modern....Menakjubkan !!!


📖❤📖❤📖❤📖❤📖

Komunitas Pecinta Data Al-Quran (KitaData)

Mencari Para Penggali Kandungan Al Qur'an


untuk mengikuti tantangan belajar di


Qsoft Tutorial Online Training (QTO-T) via Whatsapp

Angkatan VII  -  GRATIS


✨✨✨✨✨✨✨✨

---------------------------------------
❓*Apa itu QSoft* ❓


Ada banyak software Al-Qur’an, tapi QSoft kaya fitur

Ada pencari data Al-Qur’an, tapi QSoft mampu mencari lebih detail


Ayo jawab.....

🗣 Siapa Nabi yang paling sering disebut di Al Qur'an ?

🗣 Adakah ayat sholat yang turun di Madinah ?

🗣 Berapa jumlah ayat yang diawali kata sumpah ?

🗣 Ayat mana saja yang mengandung larangan Alloh yang riwayat  Asbabun nuzulnya sampai pada kita?

🗣 Pada juz berapa ayat Madaniyyah yang paling banyak mengandung perintah zakat ?

🗣 Di Surat mana saja yang bunyi ayatnya  berulang-ulang sama persis?

🗣 Pola fi'il/kata kerja mana yang paling sering dipergunakan Al Qur'an ?



☝🏻☝🏻🤔🤔🤔🤔☝🏻☝🏻

QSoft mampu menjawabnya !!!

Selengkapnya KLIK DISINI

SUNNAH NABAWI APLIKASI ANDROID

Sehubungan untuk menjalin silaturahmi kemajuan dakwah islam dengan pengunjung ibnukatsironline.com, kami menawarkan kepada anda software gratis yaitu SUNNAH NABAWI yang berisi:
- Kumpulan 9 kitab hadits
- Fitur menarik
- Mudah dioperasikan

Info selengkapnya KLIK DISINI

https://3.bp.blogspot.com/-FcluIsfJUxs/WCat6wHaX0I/AAAAAAAAH7U/feOME5tIKngvY0u2ieILwfKUK9RVPbkZwCLcB/s320/

Murotal Al Qur'an dilengkapi suara Terjemahnya





Miliki DVD MUROTTAL DAN TERJEMAH dengan pilihan Qari yang tidak asing lagi yaitu Syaikh Misyari Rasyid, Syaikh Abdurrahman As Sudais dan Syaikh Saad Al Ghamidi masing-masing dilengkapi degan suara terjemah oleh Abdullah Al Jufri lengkap 30 Juz. Cocok untuk disimpan di flash disk dan diputarkan dalam menemani perjalanan Anda. Berminat hubungi di Telp/SMS 085716863625

Tafsir Surat An-Nas, ayat 1-6

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
Ketiga ayat yang pertama merupakan sebagian dari sifat-sifat Allah Swt. yaitu sifat Rububiyah (Tuhan), sifat Al-Mulk (Raja), dan sifat Uluhiyyah (Yang disembah). Dia adalah Tuhan segala sesuatu, Yang memilikinya dan Yang disembah oleh semuanya. Maka segala sesuatu adalah makhluk yang diciptakan-Nya dan milik-Nya serta menjadi hamba-Nya.
Orang yang memohon perlindungan diperintahkan agar dalam permohonannya itu menyebutkan sifat-sifat tersebut agar dihindarkan dari kejahatan godaan yang bersembunyi, yaitu setan yang selalu mendampingi manusia. Karena sesungguhnya tiada seorang manusia pun melainkan mempunyai qarin (pendamping)nya dari kalangan setan yang menghiasi perbuatan-perbuatan fahisyah hingga kelihatan bagus olehnya. Setan itu juga tidak segan-segan mencurahkan segala kemampuannya untuk menyesatkannya melalui bisikan dan godaannya, dan orang yang terhindar dari bisikannya hanyalah orang yang dipelihara oleh Allah Swt.
Di dalam kitab sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا قَدْ وُكِلَ بِهِ قَرِينَةٌ
Tiada seorang pun dari kamu melainkan telah ditugaskan terhadapnya qarin (teman setan) yang mendampinginya.
Mereka bertanya, "Juga termasuk engkau, ya Rasulullah?" Beliau Saw. menjawab:
«نَعَمْ إِلَّا أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ»
Ya, hanya saja Allah membantuku dalam menghadapinya; akhirnya ia masuk Islam, maka ia tidak memerintahkan kepadaku kecuali hanya kebaikan.
Dan di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Anas tentang kisah kunjungan Safiyyah kepada Nabi Saw. yang saat itu sedang i'tikaf, lalu beliau keluar bersamanya di malam hari untuk menghantarkannya pulang ke rumahnya. Kemudian Nabi Saw. bersua dengan dua orang laki-laki dari kalangan Ansar. Di saat melihat Nabi Saw., bergegaslah keduanya pergi dengan cepat. Maka Rasulullah Saw. bersabda:Perlahan-lahanlah kamu berdua, sesungguhnya ia adalah Safiyyah binti Huyayyin.
Maka keduanya berkata.”Subhanallah, ya Rasulullah." Rasulullah Saw. bersabda:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا- أَوْ قَالَ شَرًّا»
Sesungguhnya setan itu mengalir ke dalam tubuh anak Adam melalui aliran darahnya. Dan sesungguhnya aku merasa khawatir bila dilemparkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kamu berdua.
Al-Hafiz Abu Ya'la  Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bahr, telah menceritakan kepada kami Addiy ibnu Abu Imarah, telah menceritakan kepada kami Ziyad An-Numairi, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ وَاضِعٌ خَطْمَهُ  عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ فَإِنْ ذَكَرَ الله خَنَسَ، وَإِنْ نَسِيَ الْتَقَمَ قَلْبَهُ فَذَلِكَ الْوَسْوَاسُ الْخَنَّاسُ»
Sesungguhnya setan itu meletakkan belalainya di hati anak Adam. Jika anak Adam mengingat Allah, maka bersembunyi; dan jika ia lupa kepada Allah, maka setan menelan hatinya; maka itulah yang dimaksud dengan bisikan setan yang tersembunyi.
Hadis ini berpredikat garib.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Asim, bahwa ia pernah mendengar Abu Tamimah yang menceritakan hadis berikut dari orang yang pernah dibonceng oleh Nabi Saw. Ia mengatakan bahwa di suatu ketika keledai yang dikendarai oleh Nabi Saw. tersandung, maka aku berkata, "Celakalah setan itu." Maka Nabi Saw. bersabda:
«لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ: تَعِسَ الشَّيْطَانُ تَعَاظَمَ وَقَالَ: بِقُوَّتِي صَرَعْتُهُ وَإِذَا قُلْتَ: بِاسْمِ اللَّهِ تَصَاغَرَ حَتَّى يصير مثل الذباب وغلب
Janganlah engkau katakan, "Celakalah setan.” Karena sesungguhnya jika engkau katakan,  "Celakalah setan, "maka ia menjadi bertambah besar, lalu mengatakan, "Dengan kekuatanku, aku kalahkan dia.” Tetapi jika engkau katakan, "Bismillah, "maka mengecillah ia hingga menjadi sekecil lalat.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sanadnya jayyid lagi kuat. Dan di dalam hadis ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa hati itu manakala ingat kepada Allah, setan menjadi mengecil dan terkalahkan. Tetapi jika ia tidak ingat kepada Allah, maka setan membesar dan dapat mengalahkannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al-Hanafi, telah menceritakan kepada kami Ad-Dahhak ibnu Usman, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ جَاءَهُ الشَّيْطَانُ فَأَبَسَ بِهِ كَمَا يَبِسُ الرَّجُلُ بِدَابَّتِهِ، فَإِذَا سَكَنَ لَهُ زَنَقَهُ أَوْ أَلْجَمَهُ»
Sesungguhnya seseorang di antara kamu apabila berada di dalam masjid, lalu setan datang, lalu setan diikat olehnya sebagaimana seseorang mengikat hewan kendaraannya. Dan jika ia diam (tidak berzikir kepada Allah), maka setan berbalik mengikat dan mengekangnya.
Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa kalian dapat menyaksikan hal tersebut. Adapun yang dimaksud dengan maznuq yakni orang yang diikat pada lehernya, maka engkau lihat dia condong seperti ini tidak berzikir kepada Allah. Adapun orang yang dikekang, maka ia kelihatan membuka mulutnya dan tidak mengingat Allah Saw. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.
Sa'id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: setan yang biasa bersembunyi. (An-Nas: 4) Bahwa setan bercokol di atas hati anak Adam. Maka apabila ia lupa dan lalai kepada Allah setan menggodanya; dan apabila ia ingat kepada Allah maka setan itu bersembunyi. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.
Al-Mu'tamir ibnu Sulaiman telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa pernah diceritakan kepadanya, sesungguhnya setan yang banyak menggoda itu selalu meniup hati anak Adam manakala ia sedang bersedih hati dan juga manakala sedang senang hati. Tetapi apabila ia sedang ingat kepada Allah, maka setan bersembunyi ketakutan.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, Al-waswas," bahwa makna yang dimaksud ialah setan yang membisikkan godaannya; apabila yang digodanya taat kepada Allah, maka setan bersembunyi.
Firman Allah Swt.:
{الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ}
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (An-Nas: 5)
Apakah makna ayat ini khusus menyangkut Bani Adam saja sebagaimana yang ditunjukkan oleh makna lahiriah ayat, ataukah lebih menyeluruh dari itu menyangkut Bani Adam dan jin? Ada pendapat mengenainya, yang berarti makhluk jin pun termasuk ke dalam pengertian lafaz an-nas secara prioritas. Ibnu Jarir mengatakan bahwa adakalanya digunakan lafaz rijalun minal jin (laki-laki dari kalangan jin) ditujukan terhadap mereka, maka tidaklah heran bila mereka (jin) dikatakan dengan istilah an-nas.
Firman Allah Swt.:
{مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ}
dari (golongan) jin dan manusia. (An-Nas: 6)
Apakah ayat ini merupakan rincian dari firman-Nya: yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (An-Nas: 5) Kemudian dijelaskan oleh firman berikutnya: dari (golongan)jin dan manusia. (An-Nas: 6)
Hal ini menguatkan pendapat yang kedua. Dan menurut pendapat yang lainnya, firman-Nya berikut ini: dari (golongan) jin dan manusia. (An-Nas: 6) merupakan tafsir dari yang selalu membisikkan godaannya terhadap manusia, yaitu dari kalangan setan manusia dan setan jin. Sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
وَكَذلِكَ جَعَلْنا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَياطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu(manusia). (Al-An'am: 112)
Dan semakna dengan apa yang disebutkan oleh Imam Ahmad, bahwa:
حَدَّثَنَا وَكِيع، حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو عُمَر الدِّمَشْقِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدِ بْنِ الْخَشْخَاشِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ، فَجَلَسْتُ، فَقَالَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ صَلَّيْتَ؟ ". قُلْتُ: لَا. قَالَ: "قُمْ فَصَلِّ". قَالَ: فَقُمْتُ فَصَلَّيْتُ، ثُمَّ جَلَسْتُ فَقَالَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ، تَعَوَّذْ بِالْلَّهِ مِنْ شَرِّ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ". قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلِلْإِنْسِ شَيَاطِينُ؟ قَالَ: "نَعَمْ". قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الصَّلَاةُ؟ قَالَ: "خَيْرُ مَوْضُوعٍ، مَنْ شَاءَ أَقَلَّ، وَمَنْ شَاءَ أَكْثَرَ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا الصَّوْمُ؟ قَالَ: "فَرْضٌ يُجْزِئُ، وَعِنْدَ اللَّهِ مَزِيدٌ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَالصَّدَقَةُ؟ قَالَ: "أَضْعَافٌ مُضَاعَفَةٌ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّهَا أَفْضَلُ؟ قَالَ: "جُهد مِنْ مُقل، أَوْ سِرٌّ إِلَى فَقِيرٍ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْأَنْبِيَاءِ كَانَ أَوَّلَ؟ قَالَ: "آدَمُ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَنَبِيٌّ كَانَ؟ قَالَ: "نَعِمَ، نَبِيٌّ مُكَلَّم". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَمِ الْمُرْسَلُونَ؟ قَالَ: "ثَلَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةَ عَشْرَ، جَمًّا غَفيرًا". وَقَالَ مَرَّةً: "خَمْسَةَ عَشْرَ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّمَا أُنْزِلَ عَلَيْكَ أعظم؟ قَالَ: "آيَةُ الْكُرْسِيِّ: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ}
telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, telah menceritakan kepada kami Abu Umar Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Ubaid Al-Khasykhasy, dari Abu Zaryang telah menceritakan bahwa ia datang kepada Rasulullah Saw. yang saat itu berada di dalam masjid. lalu ia duduk. maka Rasulullah Saw. bertanya, "Hai Abu Zar, apakah engkau telah salat?" Aku (Abu Zar) menjawab, "Belum." Rasulullah Saw. bersabda, "Berdirilah dan salatlah kamu!" Maka aku berdiri dan salat, setelah itu aku duduk lagi dan beliau Saw. bersabda: Hai Abu Zar, mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan setan jin. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah setan manusia itu ada?" Beliau Saw. menjawab, "Ya ada." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan salat?" Rasulullah Saw. menjawab: Salat adalah sebaik-baik pekerjaan; barang siapa yang ingin mempersedikitnya atau memperbanyaknya (hendaklah ia melakukan apa yang disukainya —dari salatnya itu—). Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan puasa?" Rasulullah Saw. menjawab: Amal fardu yang berpahala dan di sisi Allah ada tambahannya. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan sedekah?" Rasulullah Saw. menjawab, "Pahalanya dilipatgandakan dengan kelipatan yang banyak." Aku bertanya, "Manakah sedekah yang terbaik, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: Hasil jerih payah dari orang yang merasa sedikit atau yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi kepada orang yang fakir. Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, nabi manakah yang paling pertama?" Beliau menjawab, "Adam." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah dia seorang nabi?" Nabi Saw. menjawab, "Ya, dia seorang nabi dan juga orang yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah Swt." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, ada berapakah para rasul itu?" Rasulullah Saw. menjawab, "Tiga ratus belasan orang, jumlah yang cukup banyak." Di lain kesempatan beliau Saw. bersabda, "Tiga ratus lima belas orang rasul." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, wahyu apakah yang paling besar yang pernah diturunkan kepada engkau?" Rasulullah Saw. menjawab: Ayat kursi, yaitu, "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”(Al-Baqarah: 255)
Imam Nasai meriwayatkan hadis ini melalui Abu Umar Ad-Dimasyqi dengan sanad yang sama. Hadis ini telah diriwayatkan dengan sangat panjang lebar oleh Imam Abu Hatim ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya melalui jalur Lain dan lafaz Lain yang panjang sekali; hanya Allah-Iah Yang Maha Mengetahui.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكِيع، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ ذَرِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الهَمْداني، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحَدِّثُ نَفْسِي بِالشَّيْءِ لَأَنْ أَخِرَّ مِنَ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيْدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan, dari Mansur, dari Zar ibnu Abdullah Al-Hamdani, dari Abdullah ibnu Syaddad, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dalam hatiku timbul suatu pertanyaan yang tidak berani aku mengatakannya. Lebih aku sukai jikalau aku dijatuhkan dari atas langit daripada mengutarakannya." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Nabi Saw. bersabda: Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan hingga hanya sampai batas bisikan (belaka).
Imam Abu Daud dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui hadis Mansur, sedangkan menurut riwayat Imam Nasai ditambahkan Al-A'masy, keduanya dari Zar dengan sanad yang sama.
Demikianlah akhir tafsir kitab Ibnu Kasir, segala puji bagi Allah atas limpahan karunia-Nya, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

---------------

114. Surat An-Nas

(Manusia)
Makkiyah atau Madaniyyah, 6 ayat Turun sesudah Surat Al-Falaq
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
More:

Tafsir Surat Al-Falaq, ayat 1-5

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Saleh, dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, dari Jabir yang mengatakan bahwa al-falaq artinya subuh.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq" bahwa makna yang dimaksud ialah subuh. Dan telah diriwayatkan halyangsemisal dari Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, Abdullah ibnu Muhammad ibnu Aqil, Al-Hasan, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, Ibnu Zaid, dan Malik, dari Zaid ibnu Aslam.
Al-Qurazi. Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat yang lain, yaitu:
فالِقُ الْإِصْباحِ
Dia menyingsingkan pagi. (Al-An'am: 96)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Al-falaq," bahwa makna yang dimaksud ialah makhluk. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak, bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk membaca ta'awwuz dari kejahatan semua makhluk-Nya.
Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah penjara di dalam neraka Jahanam; apabila pintunya dibuka, maka semua penghuni neraka menjerit karena panasnya yang sangat. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya, untuk itu ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suhail ibnu Usman, dari seorang lelaki, dari As-Saddi, dari Zaid ibnu Ali, dari kakek moyangnya, bahwa mereka telah mengatakan bahwa al-falaq adalah nama sebuah sumur di dasar neraka Jahanam yang mempunyai tutup. Apabila tutupnya dibuka, maka keluarlah darinya api yang menggemparkan neraka Jahanam karena panasnya yang sangat berlebihan. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Amr ibnu Anbasah dan As-Saddi serta lain-lainnya.
Sehubungan dengan hal ini telah ada sebuah hadis marfu' yang berpredikat munkar; untuk itu Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq ibnu Wahb Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Mas'ud ibnu Musa ibnu Misykan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Khuzaimah Al-Khurrasani, dari Syu'aib ibnu Safwan, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
«الْفَلَقُ جُبٌّ فِي جَهَنَّمَ مُغَطَّى»
Falaq adalah sebuah sumur di dalam neraka Jahanam yang mempunyai penutup.
Sanad hadis ini garib dan predikat marfu'-nya tidak sahih.
Abu Abdur Rahman Al-Habli telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, bahwa al-falaq adalah nama lain dari neraka Jahanam.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa sesungguhnya falaq adalah subuh. Pendapat inilah yang sahih dan dipilih oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya.
Firman Allah Swt:
{مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ}
dari kejahatan makhluk-Nya. (Al-Falaq: 2)
Yakni dari kejahatan semua makhluk. Sabit Al-Bannani dan Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan bahwa Jahanam, Iblis, dan keturunannya termasuk makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt.
Firman Allah Swt.:
{وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ}
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3)
Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah bila matahari telah tenggelam; demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Mujahid. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abu Najih, dari Mujahid. Dan hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi. Ad-Dahhak. Khasif. Al-Hasan, dan Qatadah, bahwa sesungguhnya makna yang dimaksud ialah malam hari apabila datang dengan kegelapan.
Az-Zuhri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Yakni matahari apabila telah tenggelam.
Telah diriwayatkan pula dari Atiyyah dan Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Yaitu malam hari bila telah pergi.
Abu Mihzan mengatakan dari Abu Hurairah sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Bahwa makna yang dimaksud ialah bintang.
Ibnu Zaid mengatakan, dahulu orang-orang Arab mengatakan bahwa al-gasiq artinya jatuhnya bintang surayya. Berbagai penyakit dan Ta'un mewabah seusai jatuhnya bintang surayya, dan menjadi Lenyap dengan sendirinya bila bintang surayya terbit. Yang dimaksud dengan jatuh ialah tenggelam.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa di antara asar yang bersumber dari mereka ialah apa yang diceritakan kepadaku oleh Nasr Ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku Bakkar, dari Abdullah keponakan Hammam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Aziz ibnu Umar, dari Abdur Rahman ibnu Auf, dari ayahnya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna firman-Nya: dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. (Al-Falaq: 3) Lalu beliau Saw. bersabda, bahwa makna yang dimaksud ialah bintang bila telah tenggelam.
Menurut hemat saya, predikat marfu' hadis ini tidak sahih sampai kepada Nabi Saw. Ibnu Jarir mengatakan, ulama lainnya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah rembulan. Menurut hemat saya, yang dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat demikian ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad.
Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Daud Al-Hafri, dari Ibnu Abu Zi-b, dari Al-Haris ibnu Abu Salamah yang mengatakan bahwa Siti Aisyah r.a. telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. memegang tangannya, lalu memperlihatkan kepadanya rembulan saat terbitnya, kemudian beliau Saw. bersabda:
«تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الْغَاسِقِ إِذَا وَقَبَ»
Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan rembulan ini apabila telah tenggelam.
Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkan di dalam kitab tafsir dari kitab sunan masing-masing melalui hadis Muhammad ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Zi-b, dari pamannya (yaitu Al-Haris ibnu Abdur Rahman) dengan lafazyang sama; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Lafaznya berbunyi seperti berikut:
«تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا فَإِنَّ هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ»
Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam.
Menurut lafaz Imam Nasai disebutkan seperti berikut:
«تَعَوَّذِي بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا، هَذَا الْغَاسِقُ إِذَا وَقَبَ»
Mohonlah perlindungan kepada Allah dari kejahatan (rembulan) ini, yaitu apabila ia telah tenggelam.
Orang-orang yang mengatakan pendapat pertama mengatakan bahwa rembulan merupakan pertanda malam hari bila telah muncul, dan ini tidaklah bertentangan dengan pendapat kami. Karena sesungguhnya rembulan merupakan pertanda malam hari dan rembulan tidak berperan kecuali hanya di malam hari. Demikian pula halnya dengan bintang-bintang; bintang-bintang tidak dapat bersinar kecuali di malam hari; dan hal ini sejalan dengan pendapat yang kami katakan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Firman Allah Swt.:
{وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ}
dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul. (Al-Falaq:4)
Mujahid, Ikrimah. Al-Hasan. Qatadah. dan Ad-Dahhak telah mengatakan bahwa yang dimaksud ialah wanita-wanita penyihir. Mujahid mengatakan bahwa yaitu apabila wanita-wanita penyihir itu mengembus pada buhul-buhulnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa tiada suatu perbuatan pun yang lebih mendekati kepada kemusyrikan selain dari ruqyatul hayyah dan majanin, yakni sejenis perbuatan sihir.
Di dalam hadis lain disebutkan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw., lalu bertanya, "Hai Muhammad, apakah engkau sakit?" Nabi Saw. menjawab, "Ya." Jibril berkata (yakni berdoa):
باسم اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ وَعَيْنٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ
Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari semua penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap orang yang dengki dan kejahatan pandangan mata; semoga Allah menyembuhkanmu.
Barangkali hal ini terjadi di saat Nabi Saw. sakit akibat terkena sihir, kemudian Allah Swt. menyelamatkan dan menyembuhkannya, dan menolak rencana jahat para penyihir dan orang-orang yang dengki dari kalangan orang-orang Yahudi, lalu menimpakannya kepada mereka dan menjadikan kehancuran mereka oleh tipu muslihat mereka sendiri hingga mereka dipermalukan. Tetapi sekalipun mendapat perlakuan demikian, Rasulullah Saw. tidak menegur atau mengecam pelakunya di suatu hari pun, bahkan beliau merasa cukup hanya meminta pertolongan kepada Allah, dan Dia menyembuhkan serta menyehatkannya.
Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Yazid ibnu Hibban, dari Zaid ibnu Arqam yang mengatakan bahwa seorang lelaki Yahudi menyihir Nabi Saw. Karena itu, beliau merasa sakit selama beberapa hari.
Lalu datanglah Jibril dan berkata, "Sesungguhnya seorang lelaki Yahudi telah menyihirmu dan membuat suatu buhul yang ditujukan terhadapmu, lalu ia meletakkannya di dalam sumurmu.'" Lalu Rasulullah Saw. menyuruh seseorang untuk mengambil buhul tersebut dari dalam sumur yang dimaksud. Setelah buhul itu dikeluarkan dari sumur, lalu diberikan kepada Rasulullah Saw. dan beliau membukanya, maka dengan serta merta seakan-akan Rasulullah Saw. baru terlepas dari suatu ikatan. Dan Rasulullah Saw. tidak pernah menyebutkan lelaki Yahudi itu dan tidak pula melihat mukanya sampai beliau wafat.
Imam Nasai telah meriwayatkan hadis ini dari Hamad, dari Abu Mu'awiyah alias Muhammad ibnu Hazim Ad-Darir.
Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitabut Tib, dari kitab sahihnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Sufyan ibnu Uyaynah mengatakan bahwa orang yang mula-mula menceritakan kisah ini kepada kami adalah ibnu Juraij. Ia mengatakan, telah menceritakan kepadaku keluarga Urwah, dari Urwah, lalu aku menanyakan tentangnya kepada Hisyam, maka Hisyam mengatakan bahwa Urwah memang pernah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. pernah disihir hingga beliau beranggapan bahwa dirinya telah mendatangi istri-istrinya, padahal tidak.
Sufyan selanjutnya mengatakan bahwa sihir jenis ini merupakan sihir yang paling keras, bila pengaruhnya demikian. Lalu Rasulullah Saw. bersabda:
«يَا عَائِشَةُ أَعْلِمْتِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَفْتَانِي فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ؟ أَتَانِي رَجُلَانِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَالْآخَرُ عِنْدَ رِجْلَيِّ، فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلْآخَرِ: مَا بَالُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوبٌ  ، قَالَ: وَمَنْ طَبَّهُ، قال لَبِيَدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حليف اليهود كان منافقا، قال: وَفِيمَ؟ قَالَ: فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ ، قَالَ: وَأَيْنَ؟ قَالَ: فِي جُفِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ  في بئر ذروان»
Hai Aisyah, tahukah engkau bahwa Allah telah memberiku nasihat tentang masalah yang aku telah memohon petunjuk dari-Nya mengenainya" Dua orang lelaki datang kepadaku yang salah seorangnya duduk di dekat kepalaku, sedangkan yang lainnya duduk di dekat kakiku. Maka orang yang ada di dekat kepalaku berkata kepada temannya, "Mengapa lelaki ini?” Ia menjawab, "Terkena sihir.” Orang yang berada dekat kepalaku bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?” Ia menjawab, "Lubaid ibnu A 'sam, seorang lelaki dari Bani Zuraiq teman sepakta orang-orang Yahudi, dia adalah seorang munafik.” Yang berada di dekat kepalaku bertanya, "Dengan apa?” Ia menjawab, "Sisir dan rambut.” Orang yang berada di dekat kepalaku bertanya, ' 'Di taruh di mana?'' Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah sebuah batu di dalam sumur Zirwan."
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw. mendatangi sumur tersebut dan mengeluarkannya, kemudian beliau bersabda:
«هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا وَكَأَنَّ مَاءَهَا نقاعة الحناء وكأن نخلها رؤوس الشياطين»
Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku dalam mimpiku; airnya seakan-akan seperti warna pacar (merah) dan pohon-pohon kurmanya seakan-akan seperti kepala-kepala setan.
Kemudian benda itu dikeluarkan dan dikatakan kepada beliau Saw., "Tidakkah engkau membalikkannya?" Rasulullah Saw. menjawab:
«أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى أَحَدٍ مِنَ النَّاسِ شَرًّا»
Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan diriku, dan aku tidak suka menimpakan suatu keburukan terhadap seseorang.
Dan Imam Bukhari meng-isnad-kan hadis ini melalui Isa ibnu Yunus, Abu Damrah alias Anas ibnu Iyad, Abu Usamah, dan Yahya Al-Qattan, yang di dalamnya disebutkan bahwa Aisyah r.a. mengatakan bahwa beliau Saw. sering berilusi seakan-akan telah melakukan sesuatu padahal tidak. Dalam riwayat ini disebutkan pula bahwa setelah itu Nabi Saw. memerintahkan agar sumur tersebut dimatikan, lalu ditimbun.
Imam Bukhari menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abuz Zanad dan Al-Lais ibnu Sa'd, dari Hisyam. Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Abu Usamah alias Hammad ibnu Usamah dan Abdullah ibnu Namir. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Affan, dari Wahb, dari Hisyam dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Ibrahim ibnu Khalid, dari Ma'mar, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Nabi Saw. tinggal selama enam bulan sering mengalami seakan-akan mengerjakan sesuatu, padahal kenyataannya tidak. Kemudian datanglah kepadanya dua malaikat, salah seorang duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya.
Salah seorangnya berkata kepada yang lain, "Kenapa dia?" Yang lain menjawab, "Terkena sihir." Ia bertanya, "Siapakah yang menyihirnya?" Yang lain menjawab, "Labid ibnul A'sam," lalu disebutkan hingga akhir hadis.
Al-Ustaz Al-Mufassir As-Sa'labi telah menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, bahwa ibnu Abbas dan Aisyah pernah menceritakan bahwa pernah ada seorang pemuda Yahudi menjadi pelayan Rasulullah Saw. Lalu orang-orang Yahudi mempengaruhi pemuda itu dengan gencarnya hingga pemuda itu mau menuruti kemauan mereka. Maka ia mengambil beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa buah gigi sisir yang biasa dipakai oleh beliau Saw., setelah itu kedua barang tersebut ia serahkan kepada orang-orang Yahudi.
Lalu mereka menyihir Nabi Saw. melalui kedua benda itu, dan orang yang melakukannya adalah salah seorang dari mereka yang dikenal dengan nama Ibnu A'sam. Kemudian kedua barang tersebut ia tanam di dalam sebuah sumur milik Bani Zuraiq yang dikenal dengan nama Zirwan. Maka Rasulullah Saw. mengalami sakit dan rambut beliau kelihatan rontok. Beliau tinggal selama enam bulan seakan-akan mendatangi istri-istrinya, padahal kenyataannya tidak, dan beliau kelihatan gelisah dan tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dirinya.
Ketika beliau sedang tidur, tiba-tiba ada dua malaikat datang kepadanya. Maka salah seorangnya duduk di dekat kepalanya, sedangkan yang lain duduk di dekat kakinya. Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya kepada malaikat yang ada di dekat kepalanya, "Apakah yang dialami oleh lelaki ini?" Ia menjawab, "Pengaruh Tib." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Apakah Tib itu?" Ia menjawab, "Sihir." Yang ada di dekat kakinya bertanya "Siapakah yang menyihirnya?" Ia menjawab, "Labid Ibnul A'sam, seorang Yahudi." Malaikat yang ada di dekat kakinya bertanya, "Dengan apakah ia menyihirnya?" Ia menjawab, "Dengan rambutnya dan gigi sisirnya." Yang ada di dekat kakinya bertanya, "Di manakah hal itu diletakkan?" Ia menjawab, "Di dalam mayang kurma jantan di bawah batu yang ada di dalam sumur Zirwan."
Al-juff artinya. kulit mayang kurma. Dan ar-raufah adalah sebuah batu yang di dalam sumur, tetapi menonjol digunakan untuk tempat berdirinya orang yang mengambil air.
Maka Rasulullah Saw. terbangun dalam keadaan terkejut, lalu bersabda: Hai Aisyah, tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah telah menceritakan kepadaku tentang penyakitku ini.
Lalu Rasulullah Saw. menyuruh Ali, Az-Zubair, dan Ammar ibnu Yasir untuk mengeringkan sumur tersebut; maka mereka bertiga mengeringkan sumur itu, yang airnya kelihatan seakan-akan seperti warna pacar (merah). Mereka bertiga mengangkat batu itu dan mengeluarkan mayang kurma yang ada di bawahnya. Maka ternyata di dalamnya terdapat beberapa helai rambut Rasulullah Saw. dan beberapa gigi sisirnya, dan tiba-tiba di dalamnya terdapat benang yang berbuhul (mempunyai ikatan) sebanyak dua belas ikatan yang ditusuk dengan jarum.
Maka Allah menurunkan dua surat Mu'awwizatain, dan setiap kali Rasulullah Saw. membaca suatu ayat dari kedua surat tersebut, beliau merasa agak ringan, hingga terlepaslah semua ikatan benang itu dan bangkitlah beliau seakan-akan baru terlepas dari ikatan. Sedangkan Jibril a.s. mengucapkan:  Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang mengganggumu dari orang yang dengki dan pandangan mata yang jahat; semoga Allah menyembuhkanmu.
Setelah itu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah kami menangkap orang yang jahat itu dan membunuhnya?" Rasulullah Saw. menjawab:
"أما أَنَا فَقَدَ شَفَانِي اللَّهُ، وَأَكْرَهُ أَنْ يُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا"
Adapun diriku telah disembuhkan oleh Allah, dan aku tidak suka menimpakan keburukan terhadap orang lain.

Demikianlah bunyi hadis ini tanpa isnad, di dalamnya terdapat hal yang garib dan pada sebagiannya terdapat mungkar yang parah, dan sebagiannya lagi ada yang diperkuat oleh hadis-hadis yang telah disebutkan di atas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

113. Surat Al-Falaq

(Waktu Subuh)
Makkiyah atau Madaniyyah, 5 ayat Turun sesudah Surat Al-Fil
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
More:

PENDAHULUAN TAFSIR AL-FALAQ DAN ANNAS

Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Bahdalah, dari Zurr ibnu Hubaisy yang mengatakan bahwa ia berkata kepada Ubay ibnu Ka'b bahwa sesungguhnya Ibnu Mas'ud tidak menulis Mu'awwizatain (surat Al-Falaq dan surat An-Nas) di dalam mushafnya. Maka Ubay ibnu Ka'b mengatakan, aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw. pernah menceritakan kepadaku bahwa sesungguhnya Jibril a.s. berkata kepadanya: Katakanlah,  "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.” (Al-Falaq: 1), sampai akhir surat. Lalu Nabi Saw. mengucapkannya, dan Jibril berkata kepadanya: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (An-Nas: 1), sampai akhir surat. Lalu Nabi Saw. mengucapkannya, dan kami mengucapkan pula apa yang diucapkan oleh Nabi Saw.
Abu Bakar Al-Humaidi telah meriwayatkan di dalam kitab musnadnya dari Sufyan ibnu Uyaynah, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Abu Lubabah dan Asim ibnu Bahdalah, keduanya pernah mendengar Zurr ibnu Hubaisy mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubay ibnu Ka'b tentang surat Mu'awwizatain; untuk itu ia mengatakan, "Hai Abul Munzir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas'ud menghapuskan surat Mu'awwizatain dari mushaf (nya)." Maka Ubay ibnu Ka'b menjawab, bahwa sesungguhnya ia pernah menanyakannya kepada Rasulullah Saw. Maka beliau Saw. menjawab: Telah dikatakan kepadaku, "Katakanlah!" Maka aku mengatakannya. dan kami mengucapkan apa yang diucapkan oleh Rasulullah Saw., yakni kedua surat Mu'awwizatain tersebut.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا وَكيع، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زِرٍّ قَالَ: سألتُ ابنَ مَسْعُودٍ عَنِ الْمُعَوِّذَتَيْنِ فَقَالَ: سألتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُمَا فَقَالَ: " قِيلَ لِي، فَقُلْتُ لَكُمْ، فَقُولُوا". قَالَ أَبِي: فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحْنُ نَقُولُ
Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Asim, dari Zurr yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada ibnu Mas'ud tentang Mu'awwizatain. Ibnu Mas'ud menjawab, bahwa ia pernah menanyakannya kepada Nabi Saw. Maka beliau Saw. menjawab: Surat tersebut pernah dibacakan kepadaku, dan aku telah membacakannya kepada kalian, maka bacalah oleh kalian. Ubay mengatakan, bahwa lalu Nabi Saw. membacakan surat tersebut, dan kami membacanya.
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Abu Lubabah, dari Zurr ibnu Hubaisy, dan telah menceritakan kepada kami Asim ibnu Zurr yang mengatakan bahwa ia pernah berkata kepada Ubay ibnu K.a' b, untuk itu ia mengatakan, "Hai Abul Munzir, sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas'ud mengatakan anu dan anu." Ubay ibnu Ka'b menjawab, "Aku pernah bertanya kepada Nabi Saw., maka beliau menjawab, 'Telah dibacakan surat tersebut kepadaku, lalu aku membacanya,' dan kami membaca seperti apa yang dibaca oleh Rasulullah Saw." Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula—juga Imam Nasai—dari Qutaibah, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Abdah dan Asim ibnu Abun Nujud, dari Zurr ibnu Hubaisy, dari Ubay ibnu Ka’b dengan lafaz yang sama.
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Azraq alias ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Hassan ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami As-Silt ibnu Bahrain, dari Ibrahim, dari Alqamah yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud pernah menghapus surat Muawwizatain dari mushaf (nya), dan mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. hanya memerintahkan kepada kita agar keduanya dipakai untuk berta'awwuz. Dan Abdullah belum pernah membaca kedua surat itu (dalam salatnya).
Abdullah ibnu Ahmad telah meriwayatkan hal ini melalui hadis Al-A'masy, dari Abu Ishaq, dari Abdur Rahman ibnu Yazid yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud menghapus Mu’awwizatain dari mushafnya, dan ia mengatakan bahwa sesungguhnya kedua surat tersebut bukanlah berasal dari Kitabullah.
Al-A'masy mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Asim, dari Zurr ibnu Hubaisy, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa kami pernah menanyakannya kepada Rasulullah Saw. Maka beliau Saw. menjawab: Pernah dibacakan kepadaku, maka aku membacanya.
Yakni Malaikat Jibril pernah mengajarkan kepada beliau kedua surat itu. Demikianlah menurut pendapat yang terkenal di kalangan kebanyakan ulama qiraah dan ulama fiqih, bahwa Ibnu Mas'ud tidak mencatat kedua surat ini dalam mushafnya. Barangkali dia belum pernah mendengarnya dari Nabi Saw. dan berita tentang keduanya tidak mutawatir menurutnya. Kemudian pada akhirnya ia mencabut kembali pendapatnya dan mengikut kepada pendapat jamaah sahabat. Karena sesungguhnya para sahabat telah menetapkan keduanya di dalam mushaf-mushaf induk dan menyebarkannya ke seluruh kawasan negeri; segala puji bagi Allah atas segala karunia-Nya.
Imam Muslim di dalam kitab sahihnya telah meriwayatkan bahwa telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari bayan dari Qais ibnu Abu Hazim, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
«أَلَمْ تَرَ آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قط قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Tidakkah engkau melihat beberapa ayat yang diturunkan tadi malam yang sama sekali belum pernah ada ayat-ayat yang semisal denganya, yaitu Qul A'Uzu Birabbil Falaq (surat Al-Falaq) dan Qul A 'Uzu Birabbin Nasi (surat An-Nas).
Imam Ahmad dan juga Imam Muslim serta Imam Turmuzi dan Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui hadis Ismail ibnu Abu Khalid, dari Qais ibnu Abu Hazim, dari Uqbah dengan sanad yang sama; Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir, dari Al-Qasim alias Abu Abdur Rahman, dari Uqbah ibnu Amir yang menceritakan bahwa ketika ia sedang menuntun begal kendaraan Rasulullah Saw. di suatu jalan, tiba-tiba Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Uqbah, mengapa engkau tidak naik kendaraan?" Uqbah berkata dalam hatinya bahwa ia tidak mau bergantian menaiki kendaraan karena takut hal itu merupakan perbuatan durhaka karena dengan Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. turun dan Uqbah naik sebentar, lalu turun lagi dan Rasulullah Saw. naik. Setelah itu beliau bersabda, "Hai Uqbah, maukah engkau kuajarkan dua surat yang terbaik untuk dibaca oleh manusia?" Uqbah menjawab, "Tentu saja mau, wahai Rasulullah." Lalu Rasulullah Saw. membacakan kepadaku: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (Al-Falaq: 1), hingga akhir surat. dan firman-Nya: Katakanlah.”Aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara dan menguasai) manusia. (An-Nas: 1). sampai akhir surat. Kemudian salat diiqamahkan dan Rasulullah Saw. maju. lalu membaca kedua surat itu. kemudian beliau berlalu di hadapanku dan bersabda: Bagaimanakah pendapatmu, hai uqbah, bacalah kedua surat itu bila engkau hendak tidur dan bila engkau berdiri (dalam salatmu).
Imam Nasai telah meriwayatkannya melalui hadis Al-Walid ibnu Muslim dan Abdullah ibnu Mubarak, keduanya dari Ibnu Jabir dengan sanad yang sama. Imam Abu Daud serta Imam Nasai telah meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Wahb, dari Maimun ibnu Saleh, dari Al-Ala ibnul Haris, dari Al-Qasim ibnu Abdur Rahman, dari Uqbah dengan sanad yang sama.
Jalur lain.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Abdul Aziz Ar-Ra'ini dan Abu Marhum, dari Yazid ibnu Muhammad Al-Qurasyi, dari Ali ibnu Rabah, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah memerintahkan kepadanya agar membaca Muawwizatain setiap usai dari salat fardunya. Abu Daud, Turmuzi, dan Nasai telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Ali ibnu Abu Rabah; dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib.
Jalur lain.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعة، عَنْ مشَرح بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اقْرَأْ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ، فَإِنَّكَ لَنْ تَقْرَأَ بِمِثْلِهِمَا"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Masyrah ibnu Ahan, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya: Bacalah Mu'awwizatain, karena sesungguhnya engkau tidak akan menjumpai surat yang semisal keduanya.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini secara munfarid.
Jahir lain.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْح، حَدَّثَنَا بَقِيَّة، حَدَّثَنَا بَحير بْنُ سَعْدٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدان، عَنْ جُبَير بْنِ نُفَير، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُهْدِيَتْ لَهُ بَغْلَةٌ شَهْبَاءُ، فَرَكِبَهَا فَأَخَذَ عُقْبَةُ يَقُودُهَا لَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ". فَأَعَادَهَا لَهُ حَتَّى قَرَأَهَا، فَعَرَفَ أَنِّي لَمْ أَفْرَحْ بِهَا جِدًّا، فَقَالَ: "لَعَلَّكَ تَهَاوَنْتَ بِهَا؟ فَمَا قُمْتَ تَصِلِي بِشَيْءٍ مِثْلِهَا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Bujair ibnu Sa'd, dari Khalid ibnu Ma'dan, dari Jubair ibnu Nafir, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan, bahwa Rasulullah Saw. pernah mendapat hadiah berupa seekor begal berwarna abu-abu, lalu beliau mengendarainya, maka Uqbah mengambil tali kendalinya dan menuntunnya. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, "Aku membaca Qul A'uzu Birabbil Falaq (surat Al-Falaq)," maka Nabi Saw. mengulangi bacaannya itu kepada Uqbah hingga akhirnya Uqbah ibnu Amir hafal dan membacanya. Maka Nabi Saw. mengetahui bahwa Uqbah kelihatan tidak begitu gembira menerimanya, lalu beliau Saw. bersabda: Barangkali engkau meremehkannya, padahal tiada suatu bacaan pun dalam salatmu yang semisal dengannya.
Imam Nasai meriwayatkannya dari Amr ibnu Usman, dari Baqiyyah dengan sanad yang sama. Dan Imam Nasai telah meriwayatkannya pula melalui hadis As-Sauri, dari Mu'awiyah ibnu Saleh, dari Abdur Rahman ibnu Nafir dari ayahnya dari Uqbah ibnu Amir, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang Mu'awwizatain, lalu disebutkan hal yang semisal.
Jalur lain.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ، سَمِعْتُ النُّعْمَانَ، عَنْ زِيَادٍ أَبِي الْأَسَدِ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَعَوَّذُوا بِمِثْلِ هَذَيْنَ: " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ " وَ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ "
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir, bahwa ia pernah mendengar An-Nu'man, dari Ziyad ibnul Asad, dari Uqbah ibnu Amir, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya manusia itu belum pernah membaca ta'awuz (memohon perlindungan) dengan bacaan yangsemisal dengan kedua surat berikut, yaitu Qul A Uzu Birabbil Falaq (surat Al-Falaq) dan Qul Alizu Birabbin Nasi (surat An-Nas).
Jalur lain.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أخبرنا قتيبة، حدثنا الليث، عن أبي عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ الْمُقْبِرِيِّ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: كُنْتُ أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: "يَا عُقْبَةُ، قُلْ". فَقُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ؟ فَسَكَتَ عَنِّي، ثُمَّ قَالَ: "قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَسَكَتَ عَنِّي، فَقُلْتُ: اللَّهُمَّ، ارْدُدْهُ عَلَيَّ. فَقَالَ: "يَا عُقْبَةُ، قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يا رسول الله؟ فقال: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ "، فَقَرَأْتُهَا حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى آخِرِهَا، ثُمَّ قَالَ: "قُلْ". قُلْتُ: مَاذَا أَقُولُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ "، فَقَرَأْتُهَا حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى آخِرِهَا، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: "مَا سَأَلَ سَائِلٌ بِمِثْلِهِمَا، وَلَا اسْتَعَاذَ مُسْتَعِيذٌ بِمِثْلِهِمَا"
Imam Nasai mengatakan. telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Lais. dari Abu Ajlan, dari Sa'id Al-Maqbari, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia berjalan bersama Rasulullah Saw., lain beliau bersabda, '"Hai Uqbah, bacalah!" Aku bertanya.”Apakah yang harus kubaca?" Beliau diam, lain bersabda, "Bacalah." Aku bertanya, "Apakah yang harus aku baca, ya Rasulullah." Rasulullah Saw. bersabda: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (surat Al-Falaq: 1), hingga akhir surat. Lalu aku membacanya hingga akhir surat, kemudian beliau Saw. bersabda, "Bacalah." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang harus aku baca?" Rasulullah Saw. bersabda: Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.”(An-Nas: 1), hingga akhir surat. Kemudian aku membacanya hingga akhir surat, dan setelah itu Rasulullah Saw. bersabda: Tiada seorang pun yang meminta dengan bacaan yang semisal dengannya, dan tiada seorang pun yang memohon perlindungan dengan bacaan yang semisal dengannya.
Jalur lain.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yasar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah, dari Al-Ala ibnul Haris, dari Mak-hul, dari Uqbah ibnu Amir, bahwa Rasulullah Saw. membaca kedua surat ini dalam salat Subuhnya.
Jalur lain.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ أَسْلَمَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: اتَّبَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِبٌ، فَوَضَعْتُ يَدَيْ عَلَى قَدَمِهِ فَقُلْتُ: أَقْرِئْنِي سُورَةَ هُودٍ أَوْ سُورَةَ يُوسُفَ. فَقَالَ: "لَنْ تَقْرَأَ شَيْئًا أَنْفَعَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ " قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَق "
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari yazid ibnu Abu Habib, dari Abu Imran Aslam, dari Uqbah ibnu Amir yang mengatakan bahwa ia ikut bersama Rasulullah Saw. yang saat itu beliau berkendaraan. Maka aku pegang kedua telapak kakinya dan aku berkata, "Ajarkanlah kepadaku surat Hud atan surat Yusuf' Maka Rasulullah Saw. bersabda: Engkau tidak akan menemukan suatu bacaan pun yang lebih bermanfaat di sisi Allah daripada Qul A 'uzu Birabbil Falaq (surat Al-Falaq).
Hadis lain.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mahmud ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Al-Walid, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Al-Auza'i, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Muhammad ibnu Ibrahim ibnul Haris, dari Abu Abdullah ibnu Abis, Al-Juhani, bahwaNabi Saw. pernah bersabda kepadanya, "Hai Ibnu Abis, maukah aku tunjukkan kepadamu —maukah kuceritakan kepada-mu— tentang permohonan perlindungan yang paling baik."Ibnu Abis menjawab, "Tentu saja mau, ya Rasulullah." Rasulullah Saw. bersabda: Qul A Uzu Birabbil Falaq dan Qul AUzu Birabbin Nasi, keduanya adalah dua surat (Al-Qur'an).
Semua jalur yang diriwayatkan dari Uqbah ini berkedudukan seperti hadis yang mutawatir, dan memberikan pengertian yang pasti di kalangan sebagian besar ulama ahli tahqiq hadis.
Dalam pembahasan yang terdahulu telah disebutkan melalui riwayat Sada ibnu Ajlan dan Farwah Ibnu Mujahid dari Uqbah:  Maukah aku tunjukkan kepadamu tiga buah surat yang belum pernah diturunkan di dalam kitab Taurat, kitab Injil, kitab Zabur, dan juga di dalam kitab Furqan hal yang semisal dengannya, yaitu Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlas), Qul A Uzu Birabbil Falaq (surat Al-Falaq), dan Qul A uzu Birabbin Nas (surat An-Nas).
Hadis lain.
Imam Ahmad mengatakan. telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Al-Jariri. dari Abul Ala yang mengatakan bahwa seorang lelaki pernah menceritakan bahwa ketika kami sedang bersama Rasulullah Saw. dalam suatu perjalanan. dan orang-orang mengiringinya, dan di waktu lohor panas amat terik, maka tibalah saatnya bagi Rasulullah Saw. untuk turun beristirahat dan juga bagiku. Maka beliau menyusulku dan menepuk pundakku seraya bersabda: Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (surat Al-Falaq: 1), hingga akhir surat.
Rasulullah Saw. membacakannya hingga akhir surat dan aku ikut membacanya bersama beliau. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memeliharadan menguasai) manusia. (surat An-Nas: 1), hingga akhir surat. Dan Rasulullah Saw. membacanya hingga akhir surat dan aku ikut membacanya bersama beliau Saw. Setelah itu beliau Saw. Bersabda: Apabila engkau salat, maka bacalah kedua surat ini.
Menurut makna lahiriah hadis, lelaki tersebut adalah Uqbah ibnu Amir; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Imam Nasai meriwayatkan dari Ya'qub ibnu Ibrahim, dari Ibnu Aliyyah dengan sanad yang sama.
Hadis lain.
Imam Nasai mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, dari Abdullah ibnu Sa'id, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Ruman, dari Uqbah ibnu Amir, dari Abdullah Al-Aslami ibnu Anis, bahwa Rasulullah Saw. meletakkan tanganya ke dadanya, kemudian bersabda, "Katakanlah!" Aku tidak mengetahui apa yang harus kukatakan, kemudian beliau bersabda, "Katakanlah!" Maka aku membaca: Dialah Allah YangMahaesa. (Al-Ikhlas: 1) Kemudian beliau bersabda, "Katakanlah!". Maka aku membaca: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya. (Al-Falaq: 1-2) hingga akhir surat, kemudian beliau Saw. bersabda, "Bacalah!" Maka aku membaca firman-Nya: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. (An-Nas: 1) hingga akhir surat, lalu Rasulullah Saw. bersabda: Demikianlah cara berta'awwuz (memohon perlindungan), dan tiada suatu ta'awwuz pun yang diucapkan oleh orang-orang yang berta 'awwuz semisal dengannya.
Hadis lain.
ImamNasai mengatakan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Ali alias Abu Hafs, telah menceritakan kepada kami Badal, telah menceritakan kepada kami Syaddad ibnu Sa'id alias Abu Talhah, dari Sa'id Al-Jariri, telah menceritakan kepada kami Abu Nadrah, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya, "Hai Jabir, bacalah!" Jabir bertanya, "Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu, apakah yang harus kubaca?" Rasulullah Saw. bersabda: Bacalah Qul A uzu Birabbil Falaq dan Qul A uzu Birabbin Nasi (surat Al-Falaq dan surat An-Nas). Maka aku (Jabir) membaca kedua surat tersebut, setelah itu beliau Saw. bersabda: Bacalah keduanya, dan engkau tidak akan menemukan bacaan yang semisal dengan keduanya.
Dalam hadis Aisyah yang terdahulu telah diceritakan bahwa Rasulullah Saw. membaca kedua surat tersebut, lalu meniupkannya pada kedua tangannya dan mengusapkan kedua telapak tangannya ke kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya.
Imam Malik telah meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah Saw. apabila sakit membacakan kepada dirinya dua surat Mu'awwizatain, lalu meniupkan keduanya pada dirinya. Dan setelah sakit beliau parah, maka akulah (Aisyah) yang membacanya, lalu menggunakan tangan beliau Saw. untuk mengusap dirinya dengan mengharapkan keberkahannya.
Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah ibnu Yusuf dan Muslim, dari Yahya ibnu Yahyadan Abu Daud, dari Al-Qa'nabi dan Imam Nasai, dari Qutaibah dan dari hadis Ibnul Qasim serta Isa ibnu Yunus. Sedangkan Ibnu Majah meriwayatkannya dari hadis Ma'an dan Bisyr ibnu Uinar; kedelapannya bersumber dari Malik dengan sanad yang sama
Dalam pembahasan yang lalu dalam surat Nun telah disebutkan sebuah hadis melalui Abu Nadrah, dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah Saw. membaca penangkal dari penyakit 'ain yang ditimbulkan oleh jin dan manusia. Tetapi setelah diturunkan kedua surat Mu'awwizatain, maka beliau memegangnya dan meninggalkan selain keduanya. Imam Turmuzi, Imam Nasai, dan Imam ibnu Majah telah meriwayatkannya pula, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.