Cari Tafsir

PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah yang telah membuka kitab-Nya dengan firman-Nya:Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Pengantar Tafsir Ibnu katsir

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an kepada hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Bi Qur'an Plus Tafsir Ibnu Katsir

Aplikasi alquran yang kita bahas ini adalah Complete Quran (Indonesia). Aplikasi ini disajikan secara FREE. Dan hanya tersedia untuk Smartphone Android.

Pengantar Sebelum Surat Al Fatihah

Ayat Al-Qur'an seluruhnya berjumlah enam ribu ayat, kemudian selebihnya masih diperselisihkan oleh beberapa ulama. Di antara me-reka ada yang mengatakan tidak lebih dari 6.000 ayat, ada pula yang mengatakan lebih dari 204 ayat. Menurut pendapat yang lain lebih da-ri 214 ayat, pendapat yang lainnya lagi mengatakan lebih dari 219 ayat.

Keutamaan Surat Al-Baqarah

Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, diturunkan bersamaan dengan turunnya delapan puluh malaikat pada tiap-tiap ayatnya. Dikeluarkan dari 'Arasy firman-Nya, "Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)"(Al-Baqarah: 255).

Surat Al-Fatihah - 0015

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ؛ فَإِذَا كبَّر فَكَبِّرُوا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا "
15. Dari Abu Musa Al Asy'ari, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya dijadikan imam untuk diikuti. Jika ia takbir, maka hendaklah kalian takbir. Dan, jika ia membaca (Al Fatihah dan surah Al Qur'an) maka simaklah oleh kalian."
Shahih: Muslim (404)

Surat Al-Fatihah - 0014

عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: " لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِالْحَمْدِ وَسُورَةٍ فِي فَرِيضَةٍ أَوْ غَيْرِهَا "
14. Dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa'id secara marfu': "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca dalam setiap raka'at Alhamdulilah (surah Al Fatihah) dan satu surah Al Qur’an pada shalat fardhu maupun selainnya."
Dha’if: Al Albani (Dha’if Al Jami': 6299)

Surat Al-Fatihah - 0013

عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ "
13. Dari Mahmud bin Ar-Rabi' dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab."
Shahih: Al Bukhari (756) dan Muslim (394).

Surat Al-Fatihah - 0012

مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي قِصَّةِ الْمُسِيءِ صَلَاتَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ: " إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ "
12. Dari Abu Hurairah, mengenai kisah seseorang yang kurang bagus dalam mengerjakan shalatnya bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Jika engkau mengerjakan shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Qur'an.”
Shahih: Al Bukhari (757) dan Muslim (397).

Surat Al-Fatihah - 0011

أَنَّهُ يَشْهَدُهَا مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ
11.”Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan oleh para malaikat malam dan para malaikat siang.”
Shahih: Al Bukhari (648) dan Muslim (649).

Surat Al-Fatihah - 0010

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، فَنِصْفُهَا لِي وَنِصْفُهَا لِعَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
10. Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Separuhnya untuk-Ku dan separuhnya untuk hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.”
Shahih: Al Bukhari (4722)

Surat Al-Fatihah - 0009

قَالَ مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، هُوَ ابْنُ رَاهَوَيْهِ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الْعَلَاءِ، يَعْنِي ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ الحُرَقي (6) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا أُمَّ (7) الْقُرْآنِ فَهِيَ خِداج -ثَلَاثًا-غَيْرُ تَمَامٍ ". فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ، قَالَ: اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الْفَاتِحَةِ: 2] ، قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قال: (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الْفَاتِحَةِ: 3] ، قَالَ اللَّهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ: (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} [الْفَاتِحَةِ: 4] ، قَالَ (1) مَجَّدَنِي عَبْدِي " -وَقَالَ مَرَّةً: " فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي -فَإِذَا قَالَ: (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الْفَاتِحَةِ: 5] ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ* صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} [الْفَاتِحَةِ: 6، 7] ، قَالَ (2) هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ ".
9. Muslim berkata, Ishaq Ibnu Ibrahim Al Hanzhali, yaitu Ibnu Rahawaih menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami dari Al Ala, yakni Ibnu Abdurrahman bin Ya'qub Al Kharaqi dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Barangsiapa mengerjakan shalat yang di dalamnya dia tidak membaca Ummul Qursan, maka shalatnya itu kurang... (diucapkan sebanyak 3 kali), tidak sempurna.” Dikatakan kepada Abu Hurairah, "Sesungguhnya kami shalat di belakang imam." Dia berkata, "Bacalah dia dalam hati. Sebab, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman, Aku membagi shalat (Al Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya. Jika dia mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam', maka Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.' Jika dia mengucapkan, 'Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,' Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.' Jika dia mengucapkan, 'Yang menguasai Hari Pembalasan '. Allah berfirman, 'Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.' Dan pada suatu kali Allah berfirman, Hamba-Ku telah menyerahkan dirinya kepada-Ku.' Jika dia mengucapkan, Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan,' Allah berfirman, 'Ini adalah rahasia antara Aku dan hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.' Jika dia mengucapkan, 'Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,' Allah berfirman, 'Ini adalah hak hamba-Ku. Dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.”
Shahih: Muslim (395)

Surat Al-Fatihah - 0008

PreviousNext
Help > 001. SURAH AL FATIHAH > 0008
0008
قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي فَضَائِلِ الْقُرْآنِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا وَهْبٌ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ مُحَمَّدِ، بْنِ مَعْبَدٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: كُنَّا فِي مَسِيرٍ لَنَا، فَنَزَلْنَا، فَجَاءَتْ جَارِيَةٌ فَقَالَتْ: إِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ سَلِيمٌ، وَإِنَّ نَفَرَنَا غُيَّب، فَهَلْ مِنْكُمْ رَاقٍ؟ فَقَامَ مَعَهَا رجل ما كنا نَأبِنُه برقية، فرقاه، فبرأ، فَأَمَرَ لَهُ بِثَلَاثِينَ شَاةً، وَسَقَانَا لَبَنًا، فَلَمَّا رَجَعَ قُلْنَا لَهُ: أَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً، أَوْ كُنْتَ تَرْقِي؟ قَالَ: لَا مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْكِتَابِ، قُلْنَا: لَا تُحَدِّثُوا شَيْئًا حَتَّى نَأْتِيَ، أَوْ نَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ ذَكَرْنَاهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: " وَمَا كَانَ يُدْريه أَنَّهَا رُقْيَةٌ، اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ "
8. Al Bukhari berkata, Muhammad Al Mutsanna menceritakan kepadaku, Wahb menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami dari Muhammad dari Ma'bad dari Abu Sa'id Al Khudri, dia berkata, Pada suatu ketika kami sedang dalam perjalanan. Kami singgah di suatu tempat. Lalu seorang budak perempuan datang dan berkata, "Sesungguhnya kepala kampung ini disengat binatang dan orang-orang kami sedang tidak berada di tempat. Apakah di antara kalian ada yang pandai meruqyah?" Maka berdirilah seorang laki-laki yang kami kira tidak bisa meruqyah. Laki-laki itu meruqyah si kepala kampung. Si kepala kampung langsung sembuh dan memerintahkan agar laki-laki itu diberi tiga puluh ekor kambing. Dia juga memberi minum kami dengan susu. Ketika laki-laki itu kembali, kami berkata kepadanya, "Apakah kamu pandai meruqyah?" atau; "Apakah kamu bisa meruqyah?" Dia berkata, "Tidak. Aku tidak meruqyahnya kecuali dengan Ummul Kitab." Kami berkata, "Janganlah kalian melakukan sesuatu sampai kita datang atau bertanya kepada Rasulullah SAW" Ketika kami telah tiba di Madinah, kami menceritakan semua itu kepada Nabi SAW Maka beliau berkata, "Bagaimana dia bisa tahu bahwa Ummul Kitab adalah ruqyah? Bagilah kambing-kambing itu, dan berilah aku satu bagian.”
Shahih: Al Bukhari (4474) dan Muslim (2201)

Surat Al-Fatihah - 0007

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عفَّان، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ: " يَا أُبَيُّ "، فَالْتَفَتَ ثُمَّ لَمْ يُجِبْهُ، ثُمَّ قَالَ: أُبَيُّ، فَخَفِّفْ. ثُمَّ انصرف إلى رسول الل هـ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أيْ رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: " وَعَلَيْكَ السَّلَامُ " [قَالَ]  " مَا مَنَعَكَ أيْ أُبَيُّ إِذْ دَعَوْتُكَ أَنْ تُجِيبَنِي؟ ". قَالَ: أيْ رَسُولَ اللَّهِ، كُنْتُ فِي الصَّلَاةِ، قَالَ: " أَوَلَسْتَ تَجِدُ فِيمَا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ (اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الْأَنْفَالِ: 24] ". قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَا أَعُودُ، قَالَ: " أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ تُنَزَّلْ لَا فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا؟ " قُلْتُ: نَعَمْ، أَيْ رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنِّي لِأَرْجُو أَلَّا أَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْبَابِ حَتَّى تَعْلَمَهَا " قَالَ: فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي يُحَدِّثُنِي، وَأَنَا أَتَبَطَّأُ، مَخَافَةَ أَنْ يَبْلُغَ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ الْحَدِيثَ، فَلِمَا دَنَوْنَا مِنَ الْبَابِ قُلْتُ: أيْ رَسُولَ اللَّهِ، مَا السُّورَةُ الَّتِي وَعَدْتَنِي قَالَ: " مَا تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ؟ ". قَالَ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ أُمَّ الْقُرْآنِ، قَالَ: " وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ، وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهَا؛ إِنَّهَا السَّبْعُ المثاني "
7. Imam Ahmad berkata, Affan menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Ala bin Abdurrahman menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW keluar menemui Ubay bin Ka'b ketika dia sedang shalat. Beliau bersabda, "Wahai Ubay!" Ubay menoleh, namun tidak menjawab panggilan beliau." Lalu beliau berkata, "Ubay!" Ubay mempercepat shalatnya, lalu mendatangi Rasulullah SAW dan ia berucap, "Assalamu 'alaika, wahai Rasulullah." Beliau berkata, "Wa 'alaikassalam, apa yang menghalangimu untuk menjawabku saat aku memanggilmu, wahai Ubay"?" Ubay menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi sedang shalat." Beliau berkata, "Tidakkah kamu mendapatkan di antara apa yang diwahyukan oleh Allah SWT kepadaku, 'Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.' (Qs. Al Anfaal [8]: 24)?" Ubay berkata, "Benar, wahai Rasulullah. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Beliau berkata, "Apakah kamu mau aku beritahukan kepadamu sebuah surah yang sama sekali belum pernah diturunkan yang semisal dengannya, tidak dalam Taurat, tidak dalam Injil, tidak dalam Zabur, dan tidak pula dalam Al Furqan?" Ubay berkata, "Aku mau, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku benar-benar berharap agar aku tidak keluar dari pintu ini sampai kamu mengetahuinya.” Lalu Rasulullah SAW memegang tangan Ubay sambil berbicara kepadanya. Ubay memperlambat langkahnya, karena khawatir akan sampai ke pintu sebelum Rasulullah SAW menyelesaikan pembicaraan beliau. Ketika mereka telah mendekati pintu, Ubay berkata, "Wahai Rasulullah, apakah surah yang engkau janjikan kepadaku?" Beliau berkata, "Apa yang kamu baca dalam shalat?" Lalu Ubay membacakan Umm Al Qur'an kepada Rasulullah SAW. Beliaupun bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman tangan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan yang semisal dengannya, tidak dalam Taurat, tidak dalam Injil, tidak dalam Zabur, dan tidak pula dalam Al-Furqan. Sesungguhnya dia adalah As-Sab 'u Al Matsaani.'"
Shahih: At-Tirmidzi (5/2875), Al Albani (Shahih At-Tirmidzi).

Surat Al-Fatihah - 0006

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي مُسْنَدِهِ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ شُعْبَةَ، حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ المُعَلَّى، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ أُجِبْهُ حَتَّى صلَّيت وَأَتَيْتُهُ، فَقَالَ: " مَا مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِي؟ ". قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي. قَالَ: " أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الْأَنْفَالِ: 24] ثُمَّ قَالَ: " لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ". قَالَ: فَأَخَذَ بِيَدِي، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ: " لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ ". قَالَ: " نَعَمْ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ: السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ "
6. Imam Ahmad berkata, Yahya bin Sa'id menceritakan kepada kami dari Syu'bah, ia berkata, Khabib bin Abdurrahman menceritakan kepadaku dari Hafshah bin Ashim, dari Abu Sa'id bin Al Mu'alla RA, dia berkata, "Ketika aku sedang shalat, Rasulullah SAW memanggilku. Aku tidak menjawab panggilan beliau hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku menghampiri beliau. Beliau pun bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk datang kepadaku?" Aku pun menjawab, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tadi dalam keadaan shalat." Maka beliau bersabda, "Bukankah Allah SWT telah berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyerumu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu.' (Qs. Al Anfaal [8]: 24)" beliau lanjut bersabda, ‘Aku akan mengajarkan kepadamu suatu surah yang paling agung di dalam Al Qur’an, sebelum kamu keluar dari masjid ini." Lalu beliau menggandeng tanganku. Pada saat beliau ingin beranjak keluar dari masjid, aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi engkau berkata, 'Aku akan mengajarkan kepadamu suatu surah yang paling agung di dalam Al Qur'an' Beliau bersabda, "Benar. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (surah Al Fatihah), ia adalah As-Sab'ul Matsani dan Al Qur’an Al Azhim yang telah diturunkan kepadaku."
Shahih: Al Bukhari (4474).

Surat Al-Fatihah - 0005

 أُمُّ الْقُرْآنِ عِوَضٌ مِنْ غَيْرِهَا، وَلَيْسَ غَيْرُهَا عِوَضًا عَنْهَا
5.  "Ummul Qur'an adalah pengganti bagi yang lainnya, dan yang lainnya tidak dapat menggantikannya.”
Dha’if: Al Albani (Dha’if Al Jami': 1274)

Surat Al-Fatihah - 0004

لِحَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ فِي الصَّحِيحِ حِينَ رَقَى بِهَا الرَّجُلَ السَّلِيمَ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟
4. Dari Abu Sa'id, -ketika dia meruqyah seorang laki-laki yang disengat binatang-. Rasulullah SAW berkata kepadanya, "Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa Al Fatihah itu adalah ruqyah? "
Shahih: Al Bukhari (2276) dan Muslim (2201).

Surat Al-Fatihah - 0003

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَرْفُوعًا: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ سُمٍّ
3. Dari Abu Sa'id secara marfu', bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Fatihah Al Kitab adalah syifaa" (obat penawar) bagi racun.”
Maudhu': Al Albani (Dha’if Al Jami': 3950).

Surat Al-Fatihah - 0002

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فإنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}  قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي
2. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman: Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta." Jika seorang hamba mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam', maka Allah SWT berfirman, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku."
Shahih: Muslim (395).

Surat Al-Fatihah - 0001

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فإنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}  قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي
2. Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman: Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta." Jika seorang hamba mengucapkan, 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam', maka Allah SWT berfirman, 'Hamba-Ku telah memuji-Ku."
Shahih: Muslim (395).

Tahqiq Tafsir Ibnu Katsir

Mukadimah Tahqiq

Tidak diragukan bahwa proyek yang dilakukan terhadap "Tafsir Ibnu Katsir" ini bukanlah sekedar pekerjaan sederhana dan ringan. Kitab ini meliputi sejumlah hadits yang sangat banyak, bahkan mencapai ratusan atau ribuan hadits Nabi SAW, ditambah lagi dengan adanya berbagai atsar dan yang lainnya. Meneliti setiap hadits dan atsar yang ada, bukanlah pekerjaan yang mudah dan remeh, tentu semua itu membutuhkan waktu yang sangat lama dan jumlah halaman yang menumpuk, namun semua itu tidak menghalangi kami untuk dapat mencapai sebagiannya. Karena itu usaha ini akan terbatas pada:
1.      Merujuk hadits-hadits shahih yang terdapat di dalam kitab Shahihain (Bukhari-Muslim) atau salah satu dari keduanya ke tempatnya masing-masing.
2.      Menjelaskan klaim Al Allamah Al Albani terhadap hadits-hadits yang tidak dimasukkan dalam kitab Shahihain.
3.      Menjelaskan kedudukan hadits-hadits yang tidak terdapat dalam kitab Shahihain dan tidak dikomentari oleh Al Allamah Al Albani rahimahullah. [1]
4.      Menjelaskan sebagian makna kata-kata yang dianggap sulit oleh sebagian pembaca, namun itu sangat sedikit di dalam kitab ini.
Al hafizh rahimahullah banyak menilai sebagian tema yang tidak memerlukan penjelasan lebih luas, ia menyebutkan sebuah hadits namun kemudian menilainya dha’if (lemah), mengklaimnya shahih, hasan, atau menilainya baik (jayyid). Juga menyebutkan berbagai kisah dan menganggapnya janggal, kemudian menjelaskan bahwa kisah tersebut adalah hasil rekayasa ahli kitab dari bani israil (baca; israiliyat), dan sebagainya.
Pada kesempatan ini juga kami tidak lupa untuk menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang ikut andil mentakhrij hadits-hadits dan melakukan berbagai perbandingan.
Mereka adalah; Ridwan bin Athiyah, Thariq bin Habasyi, Khalaf bin Id, Abu Bakar bin Sayyid bin Husain, dan semua yang ikut serta dalam pembentukan kitab ini dengan jerih payah yang tidak temilai.
Akhirnya, kami memohon kepada Allah agar menjadikan upaya ini sebagai amal shalih dan dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk melakukan semua itu. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan nabi kita, Muhammad SAW, keluarga dan seluruh sahabat beliau. Amin.

IMAN KEPADA YANG GHAIB

Akhir-akhir ini, sangat banyak kita jumpai orang-orang yang mengaku dirinya sebagai dukun, tukang ramal, orang pintar, atau kyai yang mampu mengobati berbagai macam penyakit. Mereka menyembuhkan penyakit dengan jalan sihir atau perdukunan, mereka mengaku dirinya sebagai thabib. Masyarakat awam tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi budak setan dan bersama-sama mencemari aqidah secara lembut, tersamar, 'dan' perlahan namun pasti. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata banyak juga korban dari orang-orang yang kesehariannya menjalani ibadah secara tertib.

Sungguh keadaan ini merupakan bencana dan bahaya yang besar bagi Islam dan umat lslam. Ketergantungan kepada Allah tergantikan dengan ketergantungan kepada selain Allah.

Berobat - mencari kesembuhan atas penyakit-diperintahkan oleh Islam. Seorang yang sakit hendaknya berusaha mendatangi seseorang yang ahli untuk diperiksa penyakit apa yang dideritanya dan diobati sesuai dengan obat-obatan yang diperbolehkan syara' sebagaimana dikenal dalam ilmu kedokteran (untuk gangguan medis) , ilmu psikologi (untuk gangguan psikis), dan ilmu ruqyah untuk  gangguan sihir  dan sejenisnya.
Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menurunkan penyakit dan pasti menurunkan pula obatnya. Namun, Allah tidak memberikan obat dari sesuatu yang telah diharamkan kepada ummatNya.

Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi orang-orang yang sakit mendatangi dukun-dukun yang mengaku dirinya dapat mengetahui perkara yang ghaib -yang dengannya ia dapat mengatakan apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan. Sebab, semua yang mereka katakan tentang perkara yang ghaib sesungguhnya hanya didasarkan pada prasangka, perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin dan meminta pertolongan jin-jin tersebut tentang sesuatu yang mereka kehendaki. Dengan cara demikian, dukundukun tersebut telah melakukan kekufuran dan penyesatan.

Dari Amran bin Hushein ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, yang bertanya pada dukun atau yang mendukuninya, yang menyihir atau yang meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. ” (HR Al-Bazaar)

Oleh karena itu, setiap orang wajib menjauhi praktek praktek perdukunan dan mencegah orang-orang mendatanginya. Hendaknya tidak boleh tertipu pengakuan segelintir orang yang  membenarkan apa yang dilakukan para dukun. Sebab, sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dijalankan dalam perdukunan. Bahkan, kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti tentang hukum dan larangan-larangan yang harus mereka pegang.

Agar terhindar dari keburukan, orang harus mengenali keburukan itu. Hudzaifah Bin Yunan berkata, orang-orang yang bertanya tentang kebaikan, Sedangkan aku, aku tanya tentang keburukan, takut terjerumus kedalamnya. Setan adalah musuh nyata manusia, pengetahuan tentangnya diperlukan agar kita dapat menghindari tipu daya makar, konspirasi, dan jerat-jeratnya.

📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari -  M. H Muhammad Hasan Ismail

📮ditulis dan edit ulang oleh Rudi Abu Azka

RUQYAH SYAR'IYYAH - PANDUAN SYARA' DAN BATASAN-BATASANNYA

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah menciptakan manusia kemudian memuliakannya dengan derajat yang tiada terhingga.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Beliau dengan segala pengorbanan dan tanggung jawabnya menunaikan tugas dan menyampaikan amanah dengan sempurna, telah mendidik kita ke jalan yang lurus. Doa dan salam semoga pula senantiasa tercurahkan kepada keluarga, shahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Modul Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abual-Barra` yang terdiri dalam 4 bab yang telah disusun dan diterjemahkan tim dari Ruqyah Learning Center Indonesia ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi para Peruqyah Syar’iyyah di Indonesia pada era saat ini. Materi Ruqyah Syar’iyyah telah dijadikan panduan yang mengarahkan para Peruqyah pada jalan yang lurus dalam memahami dan mengimplementasikan praktek-praktek ruqyah dalam kehidupan. Karena itu, beberapa upaya telah dilakukan untuk menjabarkan atau mengarahkannya sehingga muncullah buku-buku ruqyah yang merujuk kepadanya. Apalagi setelah dakwah ruqyah ini telah diterima oleh masyarakat luas secara terbuka.
Kini, materi-materi yang berkaitan tentang Ruqyah Syar’iyyah,sudah begitu banyak diterjemahkan dan dapat dinikmati secara bebas oleh siapa saja. Itulah kemestian yang harus berlaku, karena dakwah, hidayah, dan jalan lurus ini adalah hak setiap insan. Buku materi DaurahRuqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra` yang ada di hadapan pembaca ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya untuk lebih menyebarkan tentang Ruqyah Syar’iyyah tersebut.
Hal mendasar yang mendorong kami melakukan abstraksi dan menulis deskripsi ini adalah:
1.    Materi Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`adalah seperti peta buta, maksudnya bahwa pembaca tidak mengerti makna poin-poin yang ada di dalamnya tanpa mengikuti daurah-daurahRuqyah Syar’iyyahKarena poin-poin tersebut perlu penjabaran atau penjelasan lebih lanjut.
2.    Kekurangpahaman tentang makna poin-poin yang menyebabkan sebagian pembaca akan bingung dan cukup menyebutnya sebagai poin-poin secara lepas begitu saja dan membiarkan mereka untuk menafsirkannya sendiri-sendiri.
3.    MateriDaurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`ini disusun oleh Tim Penerjemah Ruqyah Learning Center yang berlatar belakang syariah dan juga praktisi Ruqyah Syar’iyyahsehingga mungkin ada sedikit kesalahan di sana-sini.
4.    Ada sebagian Peruqyah yang berusaha menguraikannya namun tidak memberikan gambaran yang jelas tentang poin-poin yang ada dalam materiDaurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra,sehingga menambah jauhnya jarak ilmu dan kepahaman.
5.    Kami berusaha menerjemahkan materi Daurah Ruqyah Syar'iyyah bersama Syaikh Abu al-Barra`ini yang diterbitkan pertama kali secara legal untuk kalangan terbatas oleh Ruqyah Learning Center Indonesia.
Itulah beberapa alasan kami, hingga tak terasa memacu kami untuk bersegera menyelesaikan amanah dakwah ini. Semoga apa yang kami lakukan dapat mempercepat pergerakan dakwah melalui Ruqyah Syar’iyyahyang lebih intensif dan lebih berkembang. Tentu saja, kemajuan tersebut harus senantiasa dilindungi dengan upaya menjaga orisinalitasnya.

Upaya menjaga ashalah Ruqyah Syar’iyyah ini tetap harus dilakukan. Itulah komitmen yang harus selalu kita bangun, dan partisipasi Anda dalam Proyek ini sangat kita diharapkan.

Setiap tindakan dalam terapi ruqyah syar’iyyah haruslah berdasarkan rambu-rambu yang telah ditetapkan dalam nash AlQuran & Assunnah. demikian juga keterangan para ahli ilmu.
Di lapangan banyak terjadi seorang terapis melakukan beberapa percobaan (tajribah) yang ternyata sangat bertentangan dengan tiga hal diatas. Ini terjadi terkadang karena terbatasnya ilmu dalam terapi ruqyah syar’iyyah.

Buku ini menjelaskan mana yang termasuk dalam ruqyah syar’iyyah, mana yang termasuk ‘ilaj syar’iyyah dan mana terapi.

DAFTAR ISI

BAGIAN I
PERKARA-PERKARA PENTING YANG WAJIB DIKETAHUI TERKAIT RUQYAH SYAR’IYYAH_____11
1.       Apa tujuan-tujuan yang harus diupayakan oleh para pelaku Ruqyah Syar’iyyah_____13
2.       Makna Ruqyah Syar’iyyah_____14
3.       Apakah syarat-syarat Ruqyah Syar’iyyah?_____15
4.       Bagaimana tata cara melakukan Ruqyah Syar’iyyah yang benar?_____15
5.       Kapan melakukan ruqyah, sebelum atau sesudah sakit?_____16
6.       Bagaimana jika sakit lalu berobat ke Tukang Sihir?_____17
7.       Siapasebenarnya yang harus menjadi pelaku Ruqyah Syar’iyyah?_____19
8.       Adakah syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seorang Peruqyah?_____19
9.       Apa yang harus dilakukan oleh seorang Peruqyah ketika menemui situasi sulit?_____24
10.   Bagaimana Islam menyikapi Ruqyah Syar’iyyah?_____25
11.   Apakah melakukan Ruqyah Syar’iyyah itu berarti mencederai tawakal kepadaAllah I?_____27
12.   Apakah al-Qur’an dan As-Sunnah itu bisa menjadi obat (syifa)?_____28
13.   Adakah penjelasan as-Sunnah tentang ruqyah dengan menggunakan                al-Qur’an?_____29
14.   Apakah as-Sunnah menjelaskan doa-doa yang digunakan untuk meruqyah?_____34
15.   Hukum meniup dan sedikit meludah dalam meruqyah_____35
16.   Kapan waktu meniup dan sedikit meludah dalam meruqyah?_____37
17.   Hukum meruqyah tanpa tiupan dan tanpa meludah_____38
18.   Hukum mengusap badan dengan telapak tangan setelah meruqyah___38
19.   Hukum meletakkan telapak tangan di badan yang sakit_____39
20.   Hukum meruqyah air lalu meminumnya_____40
21.   Hukum mandi Air Ruqyah di kamar mandi_____40
22.   Hukum menggunakan benda-benda yang halal dalam pengobatan___40
23.   Hukum meruqyah dengan huruf-huruf yang terpisah atau terpotong-potong_____41
24.   Hukum menerima Upah Ruqyah_____41
25.   Hukum Ahli Kitab meruqyah orang Islam_____42
26.   Hukum meruqyah Ahli Kitab_____43
27.   Hukum wanita meruqyah wanita lainnya_____45
28.   Hukum wanita meruqyahpria yang bukan mahramnya_____45
29.   Hukum pria meruqyah sekumpulan wanita_____46
30.   Hukum meruqyah wanita yang sedang nifas atau haid_____47
31.   Hukum meruqyah dalam keadaan nifas atau haid_____48
32.   Hukum meruqyah wanita yang sedang dalam masa ‘iddah karena suaminya wafat_____48
33.   Hukum berwudhu bagi wanita yang sedang haid atau nifas dengan niat sebagai penjagaan_____49
34.   Memanaskan atau mendinginkan air yang telah diruqyah sebelum digunakan mandi_____49
35.   Terapi dengan cara pengambilan bekas dari tempat kejadian yang diduga karena ulah gangguan jin_____50
36.   Hukum membakar kertas untuk mengobati penyakit psikis_____51
37.   Hukum menghina dan mengolok-olok Ruqyah Syar’iyyah dan akftifisnya_____53
38.   Hukum memasang Jimat­_____55

BAGIAN II
KAIDAH-KAIDAH IDEAL BEKAL PERUQYAH UNTUK TERAPI DENGAN RUQYAH SYAR’IYYAH_____61
Kaidah ke-1:     Mengikhlaskan niat dan beramal hanya untuk Allah I___63
Kaidah ke-2:     Memusatkan perhatiannya dalam menanamkan akidah yang benar_____66
Kaidah ke-3:     Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah_____66
Kaidah ke-4:     Fokus mengutamakan sisi dakwah_____67
Kaidah ke-5:     Adanya pembatasan dengan aturan-aturan syar’i khususnya untuk para wanita_____67
Kaidah ke-6:     Menjaga diri dari fitnah wanita_____73
Kaidah ke-7:     Antusias terhadap petunjuk dan arahan serta penjelasan terkait beberapa faktorsetan mengganggu manusia, sebab-sebab dan motif sehingga diganggu setan_____75
Kaidah ke-8:     Yakin dan percaya kepada AllahI_____75
Kaidah ke-9:     Mengamati permasalahan-permasalahan yang rancu_____75
Kaidah ke-10:   Ketentuan tanggung jawab seorang Peruqyah dari sisi syar’i dan medis_____76
Kaidah ke-11:   Bersikap hati-hati dari Istidraj (tipu daya dan makar) setan_____78
Kaidah ke-12:   Memberikan semangat kepada pasien untuk senantiasa bersabar dan mampu bertahan_____78
Kaidah ke-13:   Penyabar dan tidak tergesa-gesa_____81
Kaidah ke-14:   Tauladan yang baik_____81
Kaidah ke-15:   Senantiasa berkonsultasi dan melakukan musyawarah____82
Kaidah ke-16:   Senantiasa menjaga rahasia pasien_____82
Kaidah ke-17:   Menjaga keselamatan pasien_____83
Kaidah ke-18:   Tidak terburu-buru memvonis gangguan kepada pasien___84
Kaidah ke-19:   Berusaha memilih dan menetapkan cara-cara dan metode yang sesuai syar’i dalam menerapi gangguan-gangguan dan penyakit ruhani (Non Medis)_____87
Kaidah ke-20:   Tidak mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain___91
Kaidah ke-21:   Ma’aridh (Tauriyah)_____91
Kaidah ke-22:   Menjauhi tempat-tempat yang dapat menimbulkan fitnah dan keraguan_____92
Kaidah ke-23:   Tidak boleh berlebihan dalam menggunakan perkara-perkara yang dibolehkan_____93
Kaidah ke-24:   Bersikap netral (tidak memihak) dalam menghukumi terhadap para Peruqyah_____94
Kaidah ke-25:   Menanamkan kepercayaan pada diri pasien_____95
Kaidah ke-26:   Kekuatan iman serta proporsional dalam menolak gangguan jin dan setan sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya_____97
Kaidah ke-27:   Sabar dan mengharap keridhaan Allah I atas kedzaliman gangguan setan_____97
Kaidah ke-28:   Memiliki kepribadian yang kuat dan kokoh, tegar dan kuat pada saat interaksi dan berhadapan dengan ruh-ruh jahat (setan)_____99

BAGIAN III
SEPUTAR SIHIR_____101
1.         Definisi Sihir_____103
2.         Hukum datang ke Tukang Sihir dan Peramal_____104
3.         Mengapa Islam mengharamkan Sihir?_____106
4.         Bagaimana kita melindungi diri kita dari Sihir?_____106
5.         Hukum belajar Sihir dan mengajarkannya_____107
6.         Bagaimana memastikan telah terjadi Sihir?_____108
7.         Apakah sanksi bagi Tukang Sihir?_____109
8.         Taubatnya Tukang Sihir_____109
9.         Apakah benar Rasulullahnterkena Sihir?_____110
10.     Apakah sah ucapan cerai yang dilakukan oleh suami yang sedang terkena Sihir?_____112
11.     Hukum meninggalkan shalat bagi orang yang sedang terkena Sihir_____114
12.     Hukum bagi orang yang menyebabkan orang lain terbunuh, atau terluka, atau rusaknya harta orang lain_____114
13.     Apakah boleh pergi ke Tukang Sihir untuk mengobati Sihir dalam kondisi darurat?_____116
14.     Apa metode yang dibenarkan syariat untuk mengatasi Sihir yang sudah terjadi?_____118
15.     Apakah setelah taubat masih boleh ke Tukang Sihir dalam rangka membatalkan Sihirnya?_____121
16.     Apakah harus membacakan ayat ruqyah dan meniupkannya pada Buhul Sihir untuk membatalkannya?_____121
17.     Apakah Sihir yang diminum dan dimakan masih bisa diobati?_____122
18.     Apa hukumnya menggunakan kapak yang memiliki dua sisi untuk mengobati Sihir Impotensi?_____122
19.     Apakah boleh bermain-main dengan benda-benda Sihir ketika menemukannya?_____123
20.     Bagaimana cara mengobati kondisi pasien yang menginjak Buhul Sihir?_____124

BAGIAN IV
PENJELASAN TERKAIT PERMASALAHAN ‘AIN DAN HASAD_____127
Pembahasan ke-1:     Makna ‘Ain dan Hasad_____129
Pembahasan ke-2:     Bagaimana ‘Ain dan HasadMemberikan Dampak Negatif?_____130
Pembahasan ke-3:     Dalil-Dalil Bahwa Seseorang Bisa Menimpakan ‘Aindan Hasad_____131
Pembahasan ke-4:     Jenis-Jenis ‘Ain_____137
Pembahasan ke-5:     Apakah Pengaruh ‘Ain Terbatas Hanya pada Manusia Saja_____142
Pembahasan ke-6:     Sebab-Sebab Muncul ‘Aindan Hasad_____143
Pembahasan ke-7:     Cara Untuk Mengetahui Pelempar ‘Aindan Hasad_____144
Pembahasan ke-8:     Perbedaan Antara ‘Aindan Hasad_____145
Pembahasan ke-9:     Tata Cara Terapi ‘Aindan Hasad_____148
Pembahasan ke-10:   Akibat-Akibat Buruk Hasad_____160
Pembahasan ke-11:   Apakah Pelempar ‘Ain Dipaksa untuk Mandi dan Wudhu?_____161
Pembahasan ke-12:   Beberapa Haditsdan Atsar Palsu serta Dhaif Berkenaan ‘Ain_____163
Pembahasan ke-13:   Apakah Orang Kafir Dapat Menimpakan ‘Ain?____165
Pembahasan ke-14:   Apakah ‘Ain Berakhir Pengaruhnya Dengan Matinya Pelempar ‘Ain?_____167
Pembahasan ke-15:   Apakah ‘AinAkan Lenyap Pengaruhnya Dengan Ruqyahatau Dengan Memberikan Doa Keberkahan, atau Dengan Tiupan yang Dilakukan Oleh Pelempar ‘Ain?_____169
Pembahasan ke-16:   Apakah Pengaruh ‘Ain Berakhir Dengan Tiupan yang Dilakukan Pelempar ‘Ainke Dalam Air Kemudian Diminumkannya Untuk Korban ‘Ain?_____171
Pembahasan ke-17:   Bolehkah Meruqyah Hewan dan Kendaraan karena Lemparan ‘Ain?_____172
Pembahasan ke-18:   Bolehkah Menyiramkan AirBekas Basuhan Pelempar ‘Ain Terhadap Benda-Benda yang Terkena ‘Ain?___173
Pembahasan ke-19:   Apakah Ada Cara-Cara Terapi ‘Ain dan Hasadyang Tidak Sesuai dengan Syar’i?_____174
Pembahasanke-20:    Menggunakan Perkara-Perkara dan Media-Media Sebagai Perlindungan dari ‘Ain dan Hasad_____179

Keterangan-Keterangan Hadits Berkenaan Jimat_____180

JUDUL : RUQYAH SYAR'IYYAH - PANDUAN SYARA' DAN BATASA-BATASANNYA
PENULIS:SYAIKH ABUL BARRO’ USAMAH BIN YASIN AL-MA’ANI
PENERBIT: RLC PUBLISHING 2017
UKURAN : 16 cm x 24 cm
HALAMAN : 180
HARGA : Rp. 75.000,-
PEMESANAN HUBUNGI:
SMS/WA 085716863625