Cari Tafsir

Tafsir Surat Al-Kahfi, ayat 85-88

83-84{فَأَتْبَعَ سَبَبًا (85) حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا (86) قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا (87) وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا (88) }

maka dia pun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata, "Hai Zulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” Berkata Zulqarnain, "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”
Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia pun menempuh suatu jalan. (Al-Kahfi: 85) Yang dimaksud dengan sababan ialah tempat.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia pun menempuh suatu jalan. (Al-Kahfr. 85) Bahwa yang dimaksud ialah tempat dan jalan antara belahan timur dan barat, yakni yang menghubungkan di antara keduanya. Menurut suatu riwayat yang bersumberkan dari Mujahid, sababan ialah kedua belahan bumi yang berlawanan letaknya.
Qatadah telah mengatakan bahwa makna ayat ialah, maka dia pun menempuh semua tempat di bumi dan semua tanda-tanda yang ada padanya.
Ad-Dahhak telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia pun menempuh suatu jalan. (Al-Kahfi: 85) Yakni tempat-tempat yang ada di bumi,
Sa'id ibnu Jubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka dia pun menempuh suatu jalan. (Al-Kahfi: 85) Bahwa yang dimaksud dengan sababan ialah ilmu.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Ubaid ibnu Ya'la serta As-Saddi.
Matar mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sababan ialah tanda-tanda dan bekas-bekas peninggalan yang telah ada sebelum zaman itu.
*******************
Firman Allah Swt.:
{حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ}
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari. (Al-Kahfi: 86)
Artinya, Zulqarnain menempuh suatu jalan hingga sampailah perjalanan­nya itu ke ufuk barat bagian bumi, yakni belahan bumi yang ada di barat. Adapun pengertian yang menjurus ke arah bahwa dia sampai ke tempat terbenamnya matahari yang ada di langit, maka hal ini mustahil. Sedangkan apa yang disebut-sebut oleh para pendongeng dan tukang cerita yang menyebutkan bahwaZulqarnain berjalan selama suatu masa di bumi, sedangkan matahari terbenam di belakangnya; kisah ini adalah dongeng belaka, tidak ada kenyataannya. Kebanyakan kisah tersebut bersumber dari mitos atau dongengan kaum Ahli Kitab yang penuh dengan hal-hal yang mungkar dan kedustaan.
Firman Allah Swt.:
{وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ}
dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. (Al-Kahfi: 86)
Yakni menurut pandangan matanya ia melihat matahari tenggelam di lautan. Demikianlah halnya setiap orang yang sampai di suatu pantai, akan melihat seakan-akan terbenam di dalamnya. Padahal matahari itu sendiri tidak pernah meninggalkan garis edar yang telah ditetapkan baginya
Hami-ah berakar dari kata al-hama-ah menurut salah satu di antara dua qiraat (dialek) mengenainya, artinya lumpur hitam, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
{إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ}
Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (Al-Hijr: 28)
Yaitu tanah liat yang halus, seperti yang telah diterangkan dalam babnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wabh, telah menceritakan kepada kami Nafi' ibnu Na'im; ia pernah mendengar Abdur Rahman Al-A'raj berkata bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa makna ayat ini ialah matahari itu terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam. Kemudian ia menafsirkannya, bahwa air laut itu berwarna hitam.
Nafi' mengatakan bahwa Ka'b Al-Ahbar pernah ditanya tentang makna ayat ini. Maka dia menjawab, "Kalian (orang Arab) lebih mengetahui tentang Al-Qur'an daripada diriku. Tetapi aku menjumpai keterangan di dalam kitab (terdahulu) ku, bahwa matahari itu terbenam ke dalam lumpur yang berwarna hitam." Hal yang sama telah diriwayatkan bukan hanya oleh seorang saja dari Ibnu Abbas. Pendapat inilah yang dipegang oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Sa'ad ibnu Aus, dari Musadda', dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka'b, bahwa Nabi Saw. membacakan ayat ini kepadanya dengan bunyi Hami-ah.
Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Zulqarnain melihat matahari itu terbenam di dalam laut yang airnya panas. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.
Ibnu Jarir mengatakan, hal yang benar ialah bahwa kedua pendapat tersebut bersumber dari dua qiraat yang terkenal, yakni Hami-ah dan Hamiyah; mana saja yang dipilih bacaannya benar. 
Menurut pendapat kami, kedua pendapat tidak bertentangan dari segi maknanya; karena air laut itu bisa jadi airnya panas mengingat berada di dekat panas matahari saat tenggelamnya, sebab sinar matahari langsung mengenainya tanpa penghalang. Makna hami-ah ialah di dalam air laut yang berlumpur hitam. Sama seperti yang dikatakan oleh Ka'bul Ahbar dan lain-lainnya.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ، حَدَّثَنِي مَوْلًى لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الشَّمْسِ حِينَ غَابَتْ، فَقَالَ: "فِي نَارِ اللَّهِ الْحَامِيَةِ [فِي نَارِ اللَّهِ الْحَامِيَةِ]، لَوْلَا مَا يَزَعُهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ، لَأَحْرَقَتْ مَا عَلَى الْأَرْضِ".
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Al-Awwam, telah menceritakan kepadaku seorang bekas budak Abdullah ibnu Amr, dari Abdullah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. memandang ke arah matahari yang sedang terbenam, lalu bersabda: Tenggelam di dalam api Allah yang sangat panas, seandainya tidak dikendalikan oleh perintah Allah, tentulah panas matahari ini dapat membakar semua yang ada di permukaan bumi.
Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad Yazid ibnu Harun, tetapi kesahihan predikat marfu' hadis ini masih diragukan. Barangkali hal ini bersumber dari perkataan Abdullah ibnu Amr yang berasal dari kedua teman wanitanya yang ia jumpai dalam perang Yarmuk. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Hamzah, telah menceritakan kepada kami Muhammad (yakni Ibnu Bisyr), telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Maimun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Hadir; Ibnu Abbas pernah menceritakan kepadanya bahwa Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan membaca suatu ayat dalam surat Al-Kahfi, yaitu firman-Nya dengan bacaan berikut: terbenam di dalam laut yang panas (airnya). (Al-Kahfi: 86) Maka Ibnu Abbas berkata kepada Mu'awiyah, "Kami membacanya hanya dengan bacaan hami-ah (bukan Hamiyah)." Hami-ah artinya berlumpur hitam, sedangkan hamiyah berarti yang panas airnya. Mu'awiyah bertanya kepada Abdullah ibnu 'Amr, "Bagaimanakah menurut bacaanmu?" Abdullah ibnu 'Amr menjawab, "Saya membacanya seperti bacaanmu."
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata kepada Mu'awiyah, "Al-Qur'an diturunkan di dalam rumahku." Maka ia mengirimkan utusan kepada Ka'b untuk menanyakan, "Di manakah matahari terbenam menurut berita yang kamu jumpai di dalam kitab Taurat?" Ka'b menjawabnya, "Tanyakanlah kepada ahli bahasa Arab, karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui maknanya. Tetapi sesungguhnya saya menjumpai keterangan di dalam kitab Taurat, bahwa matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur." Seraya mengisyaratkan tangannya ke arah ufuk barat."
Ibnu Hadir berkata (kepada Ibnu Abbas), "Seandainya aku berada di sisimu (saat itu), tentulah aku akan memberikan keterangan kepadamu yang menambah informasi buatmu tentang makna hami-ah." Ibnu Abbas bertanya, "Kalau begitu, apakah informasimu itu?".
Ibnu Hadir berkata bahwa menurut syair peninggalan zaman dahulu dari kaum Tubba' yang menceritakan kisah Zulqarnain, seorang raja yang berilmu lagi disiplin dengan ilmu pengetahuannya, disebutkan:
فَرَأى مَغِيبَ الشَّمْسِ عِنْدَ غُرُوبها ... فِي عَيْنِ ذِي خُلب وَثأط حَرْمَدِ
Dia telah mencapai belahan timur dan barat dengan menempuh semua jalan menuju kesuksesannya dengan bijaksana dan kebaikan.
Maka ia menyaksikan matahari tenggelam di belahan barat, matahari tenggelam di laut yang berlumpur hitam lagi panas.
Ibnu Abbas bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan khalab?" Ibnu Hadir menjawab, "Tanah liat atau lumpur." Ibnu Abbas bertanya,"Apakah yang dimaksud dengan satin?" Ibnu Hadir menjawab, "Panas." Ibnu Abbas bertanya,"Apakah yang dimaksud dengan hurmud?'. Ibnu Hadir menjawab,"Berwarna hitam."
Maka Ibnu Abbas memanggil seorang lelaki atau seorang pemuda, lalu berkata, "Catatlah apa yang dikatakan oleh lelaki ini (Ibnu Hadir)."
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa ketika Ibnu Abbas sedang membaca surat Al-Kahfi, yaitu sampai pada firman-Nya: dia melihat matahari tenggelam di dalam laut yang berlumpur hitam. (Al-Kahfi: 86) Maka Ka'b berkata, "Demi Tuhan yang jiwa Ka'b ini berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku belum pernah mendengar seseorang mem­bacanya seperti apa yang diturunkan di dalam kitab Taurat selain dari Ibnu Abbas. Karena sesungguhnya kami menjumpainya di dalam kitab Taurat disebutkan bahwa matahari tenggelam di dalam lumpur yang hitam."
Abu Ya'la Al-Mausuli mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Israil, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf yang telah mengatakan sehubungan dengan pendapat Ibnu Juraij tentang makna firman-Nya: dan dia mendapati di situ segolongan umat. (Al-Kahfi: 86) Kaum itu tinggal di sebuah kota yang memiliki dua ribu pintu; seandainya tidak ada suara penghuni tempat itu, tentulah manusia dapat mendengar suara gemuruh matahari saat tenggelamnya (di lumpur hitam itu).
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا}
dan dia mendapati di situ segolongan umat. (Al-Kahfi: 86)
Yakni segolongan umat manusia, yang menurut sahibul hikayat disebutkan bahwa mereka adalah umat yang besar dari kalangan Bani Adam.
Firman Allah Swt.:
{قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا}
Kami berkata, "Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.” (Al-Kahfi: 86)
Dengan kata lain, Allah Swt. telah menjadikan Zulqarnain menang atas mereka, berkuasa atas mereka, dan mereka tunduk patuh di bawah kekuasaannya. Jika Zulqarnain menghendaki mereka dibunuh, ia dapat membunuh atau menahan mereka. Dan jika dia menghendaki mereka dibebaskan atau dengan tebusan, ia dapat melakukannya pula menurut apa yang dikehendakinya. Dan ternyata prinsip keadilan dan imannya yang mendalam dapat diketahui melalui sikapnya yang adil dan bijaksana terhadap mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{أَمَّا مَنْ ظَلَمَ}
Adapun orang yang aniaya. (Al-Kahfi: 87)
Yaitu orang yang tetap dalam kekafiran dan kemusyrikannya terhadap Tuhannya.
{فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ}
maka kami kelak akan mengazabnya. (Al-Kahfi: 87)
Qatadah mengafakan bahwa azab atau hukuman tersebut ialah hukuman mati. As-Saddi mengatakan bahwa dipanaskan buat menghukum mereka pelat tembaga, lalu mereka diletakkan di dalam lempengan itu hingga lebur. Wahb ibnu Muhabbih mengatakan bahwa Zulqarnain menangkap semua orang yang aniaya, lalu mereka dimasukkan ke dalam rumah mereka dan semua pintunya dikunci, sedangkan mereka disekap di dalamnya. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
Firman Allah Swt.:
{ثُمَّ يُرَدُّ إِلَى رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا}
kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. (Al-Kahfi: 87)
Maksudnya siksaan yang keras, menyakitkan lagi sangat berat. Di dalam ayat ini terkandung makna yang mengukuhkan bahwa hari kembali dan  hari pembalasan itu ada.
Firman Allah Swt.:
{وَأَمَّا مَنْ آمَنَ}
Adapun orang-orang yang beriman. (Al-Kahfi: 88)
Yakni mau mengikuti apa yang kami serukan kepadanya, yaitu mau menyembah Allah semata, tiada sekutu baginya.
{فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَى}
maka baginya pahala yang terbaik. (Al-Kahfi: 88)
kelak di hari akhirat di sisi Allah Swt.
{وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا}
dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami.”(Al-Kahfi: 88)
Mujahid mengatakan bahwa ma'rufan artinya perintah yang baik.