Tafsir Surat Al-Hajj, ayat 25
{إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ
فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (25) }
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan
menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan
untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa
yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami
rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih.
Allah Swt. berfirman, memprotes perbuatan orang-orang kafir yang
menghalang-halangi orang-orang mukmin untuk mendatangi Masjidil Haram guna
menunaikan manasik mereka di dalamnya, juga memprotes pengakuan mereka yang
mengklaim bahwa mereka adalah para penguasa Masjidil Haram. Untuk itu Allah Swt.
telah berfirman:
{وَمَا
كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ}
dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya. Orang-orang yang
berhak menguasainya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. (Al-Anfal: 34),
hingga akhir ayat.
Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa ayat yang sedang
kita bahas adalah ayat Madaniyyah, sama halnya seperti yang disebutkan di dalam
surat Al-Baqarah oleh firman-Nya:
{يَسْأَلُونَكَ
عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ
سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ
مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ}
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah,
"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia)
dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil
Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di
sisi Allah. (Al-Baqarah: 217)
Dan dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:
{إِنَّ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ
الْحَرَامِ}
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan
Allah dan Masjidil Haram. (Al-Hajj: 25)
Yakni ciri khas orang-orang kafir itu di samping mereka adalah kafir, juga
menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dan menghalang-halangi mereka untuk
sampai ke Masjidil Haram. Yaitu menghalang-halangi kaum mukmin yang hendak
menuju ke Masjidil Haram, padahal mereka adalah orang-orang yang paling berhak
terhadap Masjidil Haram. Ungkapan tertib dalam ayat ini sama dengan apa yang
disebutkan dalam ayat lain oleh firman-Nya:
{الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ
تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tenteram. (Ar-Ra'd: 28)
Artinya, ciri khas orang-orang yang beriman itu ialah hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah.
*******************
Firman Allah Swt.:
{الَّذِي
جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ}
yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ
maupun di padang pasir. (Al-Hajj: 25)
Yakni orang-orang kafir itu menghalang-halangi orang-orang yang beriman untuk
dapat sampai ke Masjidil Haram, padahal Allah telah menjadikannya sebagai tempat
ibadah bagi semua manusia, tanpa ada beda, baik yang bermukim di situ maupun
yang datang jauh dari luar.
{سَوَاءً
الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ}
sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.
(Al-Hajj: 25)
Karena itulah maka manusia mempunyai hak yang sama terhadap kawasan Mekah dan
untuk tinggal di dalamnya.
seperti yang telah diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas
sehubungan dengan makna firman-Nya: sama saja, baik yang bermukim di situ
maupun di padang pasir. (Al-Hajj: 25) Bahwa penduduk Mekah dan selain mereka
dapat tinggal di sekitar Masjidil Haram.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sama saja, baik
yang bermukim di situ maupun di padang pasir. (Al-Hajj: 25) Bahwa penduduk
asli Mekah dan selain mereka mempunyai hak yang sama untuk bertempat tinggal di
Mekah.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Saleh, Abdur Rahman ibnu Sabit, dan
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah, bahwa sama saja
haknya bagi penduduk asli Mekah maupun selain mereka dalam bertempat tinggal di
Mekah.
Masalah inilah yang diperselisihkan oleh Imam Syafii dan Ishaq ibnu Rahawaih
di Masjid Khaif, saat itu Imam Ahmad ibnu Hambal hadir pula. Imam Syafii
berpendapat bahwa tanah kawasan Mekah boleh dimiliki, diwariskan, dan disewakan.
Imam Syafii mengatakan pendapat ini berdasarkan sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Az-Zuhri, dari Ali ibnul Hasan, dari Amr ibnu Usman, dari
Usamah ibnu Zaid yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah
Saw.; "Wahai Rasulullah, apakah engkau besok akan turun di rumahmu di Mekah?"
Rasulullah Saw. menjawab, "Apakah Uqail telah meninggalkan sebidang tanah bagi
kami (untuk tempat tinggal)?" Kemudian beliau Saw. bersabda:
"لَا
يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ، وَلَا الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ"
Orang kafir tidak boleh mewarisi orang muslim, dan tidak pula orang muslim
mewarisi orang kafir.
Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain.
Juga dengan sebuah asar yang telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul
Khattab pernah membeli sebuah rumah di Mekah dari Safwan ibnu Umayyah dengan
harga empat ribu dirham, lalu Khalifah Umar menjadikannya sebagai rumah
tahanan.
Tawus dan Amr ibnu Dinar mengatakan, Ishaq ibnu Rahawaih berpendapat bahwa
tanah Mekah tidak dapat diwariskan dan tidak boleh disewakan. Pendapat inilah
yang dianut oleh mazhab segolongan ulama Salaf, dan dinaskan oleh Mujahid serta
Ata. Ishaq ibnu Rahawaih melandasi pendapatnya dengan sebuah riwayat yang
dikemukakan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Isa ibnu
Yunus, dari Umar ibnu Sa'id ibnu Abu Haiwah, dari Usman ibnu Abu Sulaiman, dari
Alqamah ibnu Nadlah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. wafat, begitu
pula Abu Bakar dan Umar; sedangkan kawasan Mekah tiada seorang pun mengklaim
memilikinya, melainkan semuanya adalah tanah sawaib (milik Allah). Barang
siapa yang miskin, boleh tinggal padanya; dan barang siapa yang kaya, boleh
memberikan tempat tinggal.
Abdur Razzaq ibnu Mujahid telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Abdullah ibnu
Amr yang mengatakan bahwa rumah-rumah di Mekah tidak boleh diperjualbelikan,
tidak boleh pula disewakan. Abdur Razzaq telah meriwayatkan pula dari Ibnu
Juraij, bahwa Ata melarang menyewakan tanah Mekah. Ibnu Juraij telah
menceritakan pula kepadanya bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab melarang pembuatan
pintu di rumah-rumah di Mekah agar para jamaah haji dapat tinggal di
halaman-halamannya. Orang yang mula-mula membuat pintu pada rumahnya adalah
Suhail ibnu Amr. Maka Umar ibnul Khattab mengirimkan utusan kepadanya guna
menyelesaikan perkara tersebut. Maka Suhail ibnu Amr menjawab, "Wahai Amirul
Mu’minin, sesungguhnya saya adalah seorang pedagang, maka saya bermaksud
membuat dua buah pintu guna memelihara barang dagangan saya." Maka Khalifah Umar
berkata, "Kalau demikian, kamu boleh melakukannya."
Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Mansur,dari Mujahid, bahwa
Khalifah Umar ibnul Khattab pernah berkata, "Hai ahli Mekah, janganlah kalian
buat pintu-pintu di rumah-rumah kalian agar orang yang datang dari jauh dapat
tinggal di mana pun ia suka."
Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari
seseorang yang mendengarnya dari Ata sehubungan dengan makna firman-Nya: sama
saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir. (Al-Hajj: 25) Bahwa
mereka boleh tinggal di mana pun mereka suka di Mekah.
Imam Daruqutni telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Nujaih, dari
Abdullah ibnu Amr secara mauquf. Barang siapa yang memakan dari hasil
sewa rumah Mekah, berarti dia memakan api."
Imam Ahmad berpendapat pertengahan, untuk itu ia mengatakan bahwa tanah
Mekah boleh dimiliki, tetapi tidak boleh diwariskan dan tidak boleh disewakan.
Pendapatnya ini merupakan kesimpulan gabungan dari dalil-dalil yang ada
mengenai masalah ini. Hanya Allah-lah yang mengetahui kebenarannya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَنْ
يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ}
dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim,
niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih. (Al-Hajj:
25)
Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa perbuatan tersebut ditujukan kepada
orang Arab. Huruf ba dalam ayat ini adalah zaidah, sama halnya
dengan huruf ba yang ada dalam firman-Nya:
{تَنْبُتُ
بِالدُّهْنِ}
yang menghasilkan minyak. (Al-Mu’minun: 20)
Artinya adalah tanbutud duhna (menghasilkan minyak). Begitu pula makna
firman-Nya:
{وَمَنْ
يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ}
dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan. (Al-Hajj:
25)
Artinya adalah man yurid fihi ilhadan, yakni barang siapa yang
bermaksud melakukan kejahatan di dalamnya. Sama pula dengan apa yaag terdapat di
dalam perkataan seorang penyair, yaitu Al-Asya:
ضَمنَتْ
بِرِزْقِ عِيَالِنَا أرْماحُنا ...
بَيْنَ المَرَاجِل، والصّريحَ الْأَجْرَدِ
Tombak-tombak kami yang ada di antara
panci-panci dan wadah-wadah kosong menjadi sarana yang menjamin rezeki anak-anak
kami.
Dan ucapan seorang penyair lainnya, yaitu:
بوَاد
يَمانِ يُنْبتُ الشَّثّ صَدْرُهُ ...
وَأسْفَله بالمَرْخ والشَّبَهَان ...
Di Lembah Yaman di Markh dan Syabhan
tumbuhlah rerumputan di bagian tengah dan bagian bawahnya.
Akan tetapi, pendapat yang terbaik ialah yang mengatakan bahwa kata kerja
yurid dalam ayat ini mengandung makna yuhimmu. Karena itulah maka
diperlukan adanya huruf ba sebagai ta'diyah:
{وَمَنْ
يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ}
dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan. (Al-Hajj:
25)
Yakni berniat hendak melakukan suatu perbuatan maksiat yang besar di
dalamnya.
Firman-Nya:
{بِظُلْمٍ}
secara zalim. (Al-Hajj: 25)
Yaitu melakukannya dengan sengaja dan sadar bahwa perbuatannya itu adalah
perbuatan zalim, tidak mengandung arti lain. Demikianlah menurut penafsiran Ibnu
Juraij, dari Ibnu Abbas; pendapat ini dapat dijadikan sebagai pegangan.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud
dengan zalim di sini adalah perbuatan musyrik.
Mujahid mengatakan, maksudnya bila disembah di dalamnya selain Allah. Hal
yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan lain-lainnya yang bukan hanya
seorang.
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa perbuatan zalim ini ialah
bila kamu melanggar kesucian tanah haram dengan melakukan perbuatan yang
diharamkan oleh Allah kamu melakukannya, seperti perbuatan menyakiti orang lain
atau membunuh. Dengan kata lain, kamu menganiaya orang yang tidak menganiaya
kamu dan membunuh orang yang tidak bermaksud membunuhmu. Apabila seseorang
melakukan hal tersebut, pastilah baginya azab yang pedih.
Mujahid mengatakan bahwa zalim di sini maksudnya perbuatan yang buruk atau
jahat akan ia lakukan di tanah suci. Ini merupakan salah satu dari kekhususan
tanah suci, yaitu bahwa seorang yang jauh akan dihukum dengan keburukan oleh
Allah bilamana ia berniat akan melakukannya di tanah suci, sekalipun ia masih
belum melakukannya.
Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya, bahwa
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami
Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari As-Saddi yang
mengatakan bahwa ia pernah mendengar seseorang menceritakan hadis dari Ibnu
Mas'ud sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di
dalamnya melakukan kejahatan secara zalim. (Al-Hajj: 25) Bahwa seandainya
ada seorang lelaki berniat akan melakukan suatu kejahatan secara zalim di
dalamnya, sedangkan ia masih berada di negeri 'Adn yang jauh, tentulah Allah
akan merasakan kepadanya sebagian dari azab-Nya yang pedih.
Syu'bah mengatakan, "As-Saddi-lah orang yang me-rafa'-kannya bagi kami, dan
saya tidak me-rafa'-kannya bagi kalian."
Syu'bah bermaksud bahwa dia pun ikut terlibat dalam me-rafa-kan hadis
ini. Ahmad telah meriwayatkannya dari Yazid ibnu Harun dengan sanad yang
sama.
Menurut saya, sanad hadis ini berpredikat sahih dengan syarat Imam Bukhari,
tetapi predikat mauquf-nya lebih mendekati kebenaran daripada predikat
marfu'-nya. Karena itulah maka Syu'bah meyakinkan akan ke-mauquf-annya
hanya sampai pada perkataan sahabat Ibnu Mas'ud r.a.
Demikian pula Asbat dan As-Sauri telah meriwayatkannya dari As-Saddi, dari
Murrah, dari Ibnu Mas'ud secara mauquf hanya Allah yang mengetahui
kebenarannya.
As-Sauri telah meriwayatkan dari As-Saddi, dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud yang
mengatakan bahwa tiada seorang lelaki pun yang berniat akan melakukan suatu
perbuatan jahat (di tanah suci), melainkan dicatatkan baginya niat jahatnya itu.
Dan seandainya seorang lelaki yang berada jauh di negeri 'Adn berniat akan
membunuh seseorang di tanah suci ini, tentulah Allah akan merasakan terhadapnya
sebagian dari azab-Nya yang pedih.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak ibnu Muzahim. Sufyan As-Sauri
telah meriwayatkan dari Mansur, dari Mujahid sehubungan dengan makna
bi-ilhadin fihi. Ia mengatakan bahwa maknanya adalah ilhadin fihi.
Pada mulanya ia menolak, kemudian mengiyakan (yakni huruf ba-nya
dapat dikatakan sebagai ba zaidah atau ba ta'diyah, pent.)
Telah diriwayatkan dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr hal yang semisal
dengan riwayat di atas. Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa mencaci pelayan
adalah perbuatan zalim, terlebih lagi yang lebih parah dari itu.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Ata, dari Maimun ibnu
Mahran, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang
bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya. (Al-Hajj: 25) Bahwa
termasuk perbuatan zalim ialah seorang amir melakukan perniagaan di tanah suci.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa memperjualbelikan makanan di tanah suci
merupakan perbuatan ilhad (jahat).
Habib ibnu Abu Sabit telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan
siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya.
(Al-Hajj: 25) Makna yang dimaksud ialah melakukan penimbunan di Mekah. Hal
yang sama telah dikatakan oleh bukan hanya seorang.
قَالَ
ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاقَ
الْجَوْهَرِيُّ، أَنْبَأَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ يَحْيَى، عَنْ
عَمِّهِ عُمَارَةَ بْنِ ثَوْبَانَ، حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَاذَانَ، عَنْ يَعْلَى
بْنِ أُمَيَّةَ؛ أن رسولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: "احْتِكَارُ الطَّعَامِ
بِمَكَّةَ إِلْحَادٌ"
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ishaq Al-Jauhari, telah menceritakan
kepada kami Abu Asim, dari Ja'far ibnu Yahya, dari pamannya (Imarah ibnu
Sauban), telah menceritakan kepadaku Musa ibnu Bazan, dari Ya'la ibnu Umayyah,
bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Melakukan penimbunan makanan di Mekah
merupakan perbuatan jahat.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah
menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Lahi'ah, telah menceritakan kepada kami Ata ibnu Dinar, telah
menceritakan kepadaku Sa'id ibnu Jubair yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah
mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan siapa yang bermaksud di
dalamnya melakukan kejahatan secara aniaya. (Al-Hajj: 25) Bahwa ayat ini
diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Unais. Rasulullah Saw. mengutusnya
bersama dua orang lelaki, yang salah seorangnya dari kalangan Muhajirin,
sedangkan yang lainnya dari kalangan Ansar. Kemudian di tengah jalan mereka
saling membanggakan diri dengan keturunannya masing-masing. Abdullah ibnu Unais
naik pitam, akhirnya ia membunuh orang Ansar tersebut. Kemudian ia murtad dari
Islam dan lari ke Mekah (menggabungkan diri dengan orang-orang musyrik). Lalu
turunlah firman Allah Swt.: dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan
kejahatan secara zalim. (Al-Hajj: 25) Yakni barang siapa yang datang ke
tanah suci dengan niat berbuat jahat. Yang dimaksud ialah menyimpang dari ajaran
Islam (alias kafir).
Semua asar yang telah disebutkan di atas —sekalipun pengertiannya menunjukkan
bahwa hal-hal tersebut termasuk perbuatan ilhad (jahat)— tetapi makna
yang dimaksud lebih mencakup dari semuanya, bahkan di dalam pengertiannya
terkandung peringatan terhadap perbuatan yang lebih parah daripada hanya sekadar
perbuatan ilhad. Karena itulah di saat tentara bergajah bermaksud
merobohkan Ka'bah, mereka diazab oleh Allah. Seperti yang disebutkan di dalam
firman-Nya:
{وَأَرْسَلَ
عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ *تَرْمِيهِمْ
بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ * فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ}
dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang
melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia
menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al-Fil: 3-5)
Yakni Allah menghancurkan mereka dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai
pelajaran dan peringatan terhadap setiap orang yang berniat akan melakukan
perbuatan jahat terhadap Baitullah. Karena itulah telah disebutkan di
dalam sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"يَغْزُو
هَذَا الْبَيْتَ جَيْشٌ، حَتَّى إِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الْأَرْضِ خُسِف
بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ" الْحَدِيثَ
Kelak Baitullah ini akan diserang oleh suatu tentara, hingga manakala
mereka berada di tengah padang sahara, maka barisan yang terdepan dan barisan
terbelakang dari mereka semuanya dibenamkan ke dalam bumi.
# Hadis ini menceritakan kejadian yang akan terjadi menjelang hari kiamat
nanti. Orang-orang tersebut dikenal dengan sebutan Zus Suwaiqatain
(pent).#
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كُنَاسة، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ
بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ أَبِيهِ قَالَ: أَتَى عبدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عبدَ اللَّهِ
بْنَ الزُّبَيْرِ، فَقَالَ: يَا ابْنَ الزُّبَيْرِ، إِيَّاكَ وَالْإِلْحَادَ فِي
حَرَم اللَّهِ، فَإِنِّي سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم
يَقُولُ: "إِنَّهُ سيلحدُ فِيهِ رَجُلٌ مَنْ قُرَيْشٍ، لَوْ تُوزَن ذُنُوبُهُ
بِذُنُوبِ الثَّقَلَيْنِ لَرَجَحَتْ"، فَانْظُرْ لَا تَكُنْ هُوَ
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kanasah,
telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Sa'id, dari ayahnya yang mengatakan,
bahwa Abdullah ibnu Umar datang menemui Abdullah Ibnuz Zubair, lalu ia bertanya,
"Hai Ibnuz Zubair, jangan sekali-kali kamu berbuat ilhad di tanah suci
Allah ini, karena sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda,
'Sesungguhnya kelak akan berbuat ilhad seseorang lelaki dari kalangan Quraisy
di Masjidil Haram ini; seandainya dosa-dosanya ditimbang dengan dosa-dosa dua
makhluk (jin dan manusia), tentulah dosanya lebih berat.' Maka berhati-hatilah,
janganlah sampai dia itu adalah kamu."
Imam Ahmad telah mengatakan pula di dalam Musnad Abdullah ibnu Amr ibnul
As,
حَدَّثَنَا
هاشم، حدثنا إسحاق بن سعيد، حَدَّثَنَا
سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ: أَتَى عبدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو ابنَ الزُّبَيْرِ،
وَهُوَ جَالِسٌ فِي الحِجْر فَقَالَ: يَا بْنَ الزُّبَيْرِ، إِيَّاكَ والإلحادَ فِي
الْحَرَمِ، فَإِنِّي أَشْهَدُ لسَمعتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: "يَحِلُّهَا وَيَحِلُّ بِهِ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ، وَلَوْ وُزنت
ذُنُوبُهُ بِذُنُوبِ الثَّقَلَيْنِ لَوَزَنَتْهَا". قَالَ: فَانْظُرْ لَا تَكُنْ
هُوَ
bahwa telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami
Ishaq ibnu Sa'id, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Amr yang mengatakan,
bahwa Abdullah ibnu Umar datang kepada Abdullah ibnuz Zubair yang saat itu
sedang duduk di Hijir Isma'il. Lalu Ibnu Umar berkata, "Hai Ibnuz Zubair,
hati-hatilah terhadap perbuatan ilhad di tanah suci, karena
sesungguhnya aku bersumpah bahwa aku pernah mendengar Rasulullah Saw.
bersabda, 'Bahwa kelak tanah suci ini akan dihalalkan oleh seorang lelaki
dari kalangan Quraisy; seandainya dosa-dosa dia ditimbang dengan dosa-dosa dua
makhluk (jin dan manusia), tentulah sebanding'." Kemudian Abdullah ibnu Umar
berkata, "Maka perhatikanlah, janganlah sampai dia adalah kamu."
Akan tetapi, tiada seorang pun dari pemilik kitab hadis yang
mengetengahkannya dari kedua jalur periwayatan ini.