Tafsir Surat Al-Hadid, ayat 7-11
{آمِنُوا
بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ
فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ (7) وَمَا لَكُمْ
لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا بِرَبِّكُمْ
وَقَدْ أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (8) هُوَ الَّذِي يُنزلُ
عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
وَإِنَّ اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (9) وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَا يَسْتَوِي
مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ
دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ
الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (10) مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ
اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ (11)
}
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan
nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu
menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan
(sebagian) dari hartanya memperoleh
pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul
menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia telah
mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dialah yang
menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur'an) supaya Dia
mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu
tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah
yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu
orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan
(Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang
menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan
kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah
pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman
itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.
Allah Swt. memerintahkan kepada manusia agar beriman kepada-Nya dan kepada
Rasul-Nya dengan iman yang sempurna, terus-menerus, lagi teguh dan kokoh. Dan
Allah menganjurkan kepada kalian untuk membelanjakan hartamu yang telah
dijadikan oleh Allah kepadamu sebagai pengganti-Nya dalam mengelolanya. Yakni
harta itu yang ada pada kalian merupakan pinjaman dari Allah, karena
sesungguhnya pada asal mulanya berada di tangan orang-orang sebelum kalian, lalu
beralih ke tangan kalian. Maka Allah Swt. memberi petunjuk kepada kalian agar
menggunakan harta yang dititipkan kepadamu untuk dibelanjakan pada jalan
ketaatan kepada-Nya. Jika mereka mau mengerjakan hal ini, maka manfaatnya bagi
mereka; dan jika tidak, maka perhitungan mereka berada pada-Nya dan Dia kelak
akan menghukum mereka karena meninggalkan kewajiban-kewajiban mereka pada
hartanya.
Firman Allah Swt.:
{مِمَّا
جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ}
yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. (Al-Hadid: 7)
Di dalam ayat ini terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa kelak harta itu
pada akhirnya akan ditinggalkan juga olehmu. Dan beruntunglah jika ahli warismu
menggunakannya untuk jalan ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, berarti ahli
warismu lebih beruntung daripada kamu dengan apa yang telah diberikan oleh Allah
kepadanya. Tetapi bila ahli warismu menggunakan harta yang diwarisnya darimu
untuk tujuan durhaka kepada Allah, berarti kamu telah membantunya untuk berbuat
dosa dan kedurhakaan.
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ،
سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ، عَنْ مُطَرَّف-يَعْنِي بْنَ عَبْدِ الله بن
الشخير-عن أبيه قَالَ: انْتَهَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم
وَهُوَ يَقُولُ: " {أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ} [التَّكَاثُرِ:1] ، يَقُولُ ابْنُ
آدَمَ: مَالِي مَالِي! وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ،
أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟ ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far,
telah menceritakan kepada kami Syu'bah, bahwa ia pernah mendengar Qatadah
menceritakan dari Mutarrif ibnu Abdullah ibnusy Syikhkhir, dari ayahnya yang
telah menceritakan bahwa ketika ia sampai kepada Rasulullah Saw., ia dengar
Rasulullah Saw. sedang bersabda: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; anak
Adam berkata, "Hartaku, hartaku!" Padahal tidak ada bagimu dari hartamu kecuali
apa yang kamu makan, lalu lenyap; atau yang kamu pakai, lalu rusak; atau yang
kamu sedekahkan, maka kamu teruskan.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui Syu'bah dengan sanad yang sama, dan dalam
riwayatnya ditambahkan:
"وَمَا
سِوَى ذَلِكَ فَذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ"
Dan adapun yang selain itu, maka lenyap dan ditinggalkannya untuk orang
lain.
Firman Allah Swt.:
{فَالَّذِينَ
آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ}
Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan
(sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Al-Hadid:
7)
Ini mengandung anjuran untuk beriman dan membelanjakan harta untuk jalan
ketaatan.
Kemudian Allah Swt. berfirman:
{وَمَا
لَكُمْ لَا تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ لِتُؤْمِنُوا
بِرَبِّكُمْ}
Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kamu
supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. (Al-Hadid: 8) '
Yakni faktor apakah yang menghalang-halangi kamu untuk beriman, padahal Rasul
ada di antara kamu yang menyeru kamu ke arah itu, dan menjelaskan kepada kamu
alasan-alasan dan bukti-bukti yang membenarkan apa yang dia sampaikan kepadamu.
Telah diriwayatkan pula kepada kami sebuah hadis yang diriwayatkan melalui
berbagai jalur dalam permulaan Syarah Kitabul Iman dari kitab Sahih
Bukhari, bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw. telah bersabda kepada para
sahabatnya:
"أيُّ
الْمُؤْمِنِينَ أَعْجَبُ إِلَيْكُمْ إِيمَانًا؟ " قَالُوا: الْمَلَائِكَةُ. قَالَ:
"وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قَالُوا:
فَالْأَنْبِيَاءُ. قَالَ: "وَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ وَالْوَحْيُ يَنْزِلُ
عَلَيْهِمْ؟ ". قَالُوا: فَنَحْنُ؟ قَالَ: "وَمَا لَكَمَ لَا تُؤْمِنُونَ وَأَنَا
بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ وَلَكِنْ أَعْجَبُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا قَوْمٌ يجيؤون
بَعْدِكُمْ يَجِدُونَ صُحُفًا يُؤْمِنُونَ بِمَا فِيهَا"
"Orang mukmin manakah yang imannya paling kalian kagumi?” Mereka
menjawab, "Para malaikat.” Nabi Saw. bersabda, "Dan mengapa mereka tidak
beriman, sedangkan mereka berada di sisi Tuhan mereka.” Mereka berkata,
"Kalau begitu, para nabi.” Nabi Saw. menjawab, "Mengapa mereka tidak beriman,
sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka?” Mereka berkata, "Kalau begitu,
kami.” Nabi Saw. bersabda, "Mengapa kamu tidak beriman, sedangkan aku berada
di antara kalian? Tetapi orang mukmin yang paling menakjubkan keimanannya ialah
suatu kaum yang datang sesudah kalian; mereka hanya menjumpai lembaran-lembaran
(mushaf), lalu mereka beriman dengan semua yang terkandung di
dalamnya.”
Kami telah menyebutkan sebagian dari masalah ini di dalam permulaan tafsir
surat Al-Baqarah, yaitu pada firman-Nya:
{الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ}
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib. (Al-Baqarah: 3)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَقَدْ
أَخَذَ مِيثَاقَكُمْ}
Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu. (Al-Hadid: 8)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَاذْكُرُوا
نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ إِذْ قُلْتُمْ
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا}
Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah
diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, "Kami dengar dan kami taati.”
(Al-Maidah: 7)
Yakni baiat (janji setia) mereka kepada Rasulullah Saw. Tetapi Ibnu
Jarir mempunyai dugaan bahwa makna yang dimaksud dengan perjanjian ini adalah
yang diambil dari mereka saat mereka masih berada di dalam sulbi Adam; dan ini
menurut pendapat Mujahid, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{هُوَ
الَّذِي يُنزلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ}
Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang
(Al-Qur'an). (Al-Hadid: 9)
Yaitu alasan-alasan yang jelas, dalil-dalil yang cemerlang, dan bukti-bukti
yang akurat.
{لِيُخْرِجَكُمْ
مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ}
supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. (Al-Hadid:
9)
Yakni dari kegelapan kebodohan, kekufuran, dan pendapat-pendapat yang
bertentangan kepada cahaya petunjuk, keyakinan, dan keimanan.
{وَإِنَّ
اللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ}
Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang
terhadapmu. (Al-Hadid: 9)
Maka Dia menurunkan kitab-kitab dan mengutus rasul-rasul untuk memberi
petunjuk kepada manusia dan melenyapkan semua penyakit dan semua keraguan.
Dan setelah memerintahkan mereka untuk beriman serta membelanjakan harta di
jalan Allah, kemudian Allah kembali menganjurkan mereka kepada keimanan dan
menjelaskan bahwa semua yang menghambat mereka untuk beriman telah dilenyapkan,
sebagaimana dianjurkan pula untuk berinfak. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{وَمَا
لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ
وَالأرْضِ}
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan
Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi?
(Al-Hadid: 10)
Yaitu berinfaklah dan janganlah kamu takut jatuh miskin dan kekurangan karena
sesungguhnya Tuhan yang kamu berinfak di jalan-Nya adalah Yang memiliki langit
dan bumi dan di tangan kekuasaan-Nyalah keduanya dikendalikan, dan di
sisi-Nyalah semua perbendaharaan keduanya. Dialah Yang memiliki 'Arasy dengan
semua yang dikandungnya, dan Dia pulalah yang berfirman:
{وَمَا
أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ
الرَّازِقِينَ}
Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan
Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Saba':39)
Dan firman Allah Swt.:
{مَا
عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ}
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah
kekal. (An-Nahl: 96)
Maka barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya dia wajib berinfak
dan tidak merasa takut akan kekurangan demi melaksanakan perintah Tuhan Yang
mempunyai 'Arasy, dan ia merasa yakin bahwa Allah Swt. pasti akan memberikan
gantinya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{لَا
يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ}
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). (Al-Hadid: 10)
Yakni tidaklah sama orang tersebut dan orang yang tidak berbuat seperti dia,
karena dalam masa sebelum penaklukan Mekah keadaannya sangatlah berat. Pada masa
itu tidaklah beriman kecuali hanya orang-orang yang berpredikatsiddiqin.
Lain halnya sesudah masa penaklukan Mekah, karena Islam telah menang dan
pengaruhnya sangat besar lagi luas serta manusia mulai masuk ke dalam agama
Allah secara berbondong-bondong. Karena itulah maka disebutkan dalam firman
berikutnya:
{أُولَئِكَ
أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا
وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى}
Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan
(hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada
masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Al-Hadid: 10)
Jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-fath ialah
penaklukan kota Mekah dan jatuh ke tangan kaum muslim. Tetapi menurut riwayat
yang bersumber dari Asy-Sya'bi dan lain-lainnya, makna yang dimaksud ialah
Perjanjian Hudaibiyah. Dan barangkali pendapat yang demikian berdalilkan dengan
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yaitu:
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا زُهَير، حَدَّثَنَا حُمَيد الطَّوِيلُ،
عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ كَلَامٌ، فَقَالَ خَالِدٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ:
تَسْتَطِيلُونَ عَلَيْنَا بِأَيَّامٍ سَبَقْتُمُونَا بِهَا؟ فَبَلَغَنَا أَنَّ
ذَلِكَ ذُكر لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: " دَعُوا لِي
أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ-أَوْ
مِثْلَ الْجِبَالِ-ذَهَبًا، مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ"
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan
kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Humaid At-Tawil, dari Anas
yang mengatakan bahwa pernah terjadi perdebatan antara Khalid ibnul Walid dan
Abdur Rahman ibnu Auf. Khalid berkata kepada Abdur Rahman, "Kamu mempunyai
pengaruh atas kami berkat hari-hari yang kamu lebih mendahuluinya daripada
kami." Kemudian hal tersebut diceritakan kepada Nabi Saw. Maka beliau Saw.
bersabda: Biarkanlah aku dan sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada
di dalam genggaman-Nya, seandainya kamu berinfak sebanyak seperti Bukit Uhud
atau seperti gunung berupa emas, maka kamu tetap masih belum dapat mencapai amal
perbuatan mereka (para sahabatku yang terdahulu masuk Islamnya).
Dan telah dimaklumi bahwa masuk Islamnya Khalid yang menjadi lawan bicara
hadis ini adalah di masa antara Perjanjian Hudaibiyah dan penaklukan kota Mekah.
Pertengkaran yang terjadi di antara keduanya ialah di tempat Bani Juzaimah, yang
Rasulullah Saw. mengutus Khalid ibnul Walid bersama sejumlah pasukan kaum muslim
kepada mereka sesudah jatuhnya Mekah ke tangan kaum muslim. Dan ketika mereka
kedatangan Khalid bersama pasukannya, mereka mengatakan, "Sabana, saba-na
(kami masuk agama baru, kami masuk agama baru)." Mereka tidak pandai
mengucapkan, "Kami masuk Islam, kami masuk Islam," padahal yang mereka maksudkan
adalah Islam. Maka Khalid memerintahkan kepada pasukannya untuk memerangi
mereka, dan menghukum mati sebagian dari mereka yang tertawan. Sikap Khalid yang
demikian itu ditentang oleh Abdur Rahman ibnu Auf dan Abdullah ibnu Umar serta
sahabat lainnya; maka bertengkarlah antara Khalid dan Abdur Rahman dalam masalah
tersebut.
Tetapi menurut apa yang terdapat di dalam kitab sahih disebutkan dari
Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. pernah bersabda:
"
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ
مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصيفه"
Janganlah kamu mencaci sahabat-sahabatku, maka demi Tuhan yang jiwaku
berada di dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang dari kamu menginfakkan emas
sebanyak Bukit Uhud, niscaya hal itu masih belum dapat menyamai satu mud
(kati) mereka dan tidak pula separonya.
Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Wahb,
bahwa telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam,
dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang menceritakan bahwa kami
keluar (dari Madinah) bersama Rasulullah Saw. di tahun Hudaibiyah, hingga
manakala kami sampai di Asfan, Rasulullah Saw. bersabda:
"يُوشِكُ
أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ تُحَقِّرُونَ أَعْمَالَكُمْ مَعَ أَعْمَالِهِمْ" فَقُلْنَا:
مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَقُرَيْشٌ؟ قَالَ: لَا وَلَكِنْ أَهْلُ الْيَمَنِ،
هُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً وَأَلْيَنُ قُلُوبًا". فَقُلْنَا: أَهُمْ خَيْرٌ مِنَّا
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "لَوْ كَانَ لِأَحَدِهِمْ جَبَلٌ مِنْ ذَهَبٍ
فَأَنْفَقَهُ، مَا أَدْرَكَ مُدّ أَحَدِكُمْ وَلَا نَصيفه، أَلَا إِنَّ هَذَا
فَضْلُ مَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ النَّاسِ، {لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ
مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ
أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Sudah dekat masanya kedatangan suatu kaum yang kamu pandang kecil amalmu
bila dibandingkan dengan amal mereka. Maka kami bertanya, "Wahai Rasulullah,
siapakah mereka itu? Apakah dari kalangan Quraisy?" Rasulullah Saw. menjawab:
Bukan, tetapi mereka adalah penduduk Yaman, mereka mempunyai perasaan dan
hati yang lebih lembut (daripada kamu). Kami bertanya, "Apakah mereka lebih
baik daripada kami, wahai Rasulullah?" Rasulullah Saw. menjawab: Seandainya
seseorang dari mereka mempunyai gunung emas, lalu mereka infakkan semuanya, maka
hal itu masih belum mencapai satu mud seseorang dari kamu dan tidak pula
separonya; hanya itulah keutamaan yang membedakan antara kita dan orang-orang
lain. Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya
daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah
itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Konteks hadis ini berpredikat garib, karena yang disebutkan di dalam
kitab Sahihain melalui riwayat Jamaah dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Sa'id
konteks ini berkaitan dengan kisah orang-orang Khawarij (yang akan muncul
sesudah itu). Bunyinya:
"تَحْقِرُونَ
صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ
الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمْيَةِ" الْحَدِيثَ.
"Kamu menganggap kecil salatmu bila dibandingkan dengan salat mereka dan
juga puasa kamu bila dibandingkan dengan puasa mereka; mereka keluar dari agama
sebagaimana anak panah yang menembus sasarannya," hingga akhir hadis.
Tetapi Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain, untuk itu
ia menceritakan bahwa:
حَدَّثَنِي
بْنُ الْبَرْقِيِّ، حَدَّثَنَا بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
جَعْفَرٍ، أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ التَّمَّارِ، عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: "يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ قَوْمٌ تُحَقِّرُونَ أَعْمَالَكُمْ مَعَ
أَعْمَالِهِمْ". قُلْنَا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قُرَيْشٌ؟ قَالَ: "لَا
وَلَكِنْ أَهْلُ الْيَمَنِ، لِأَنَّهُمْ أَرَقُّ أَفْئِدَةً، وَأَلْيَنُ قُلُوبًا".
وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْيَمَنِ، فَقَالَ: "هُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ، أَلَا إِنَّ
الْإِيمَانَ يَمَانٍ، وَالْحِكْمَةَ يَمَانِيَةٌ". فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
هُمْ خَيْرٌ مِنَّا؟ قَالَ: "وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ لِأَحَدِهِمْ
جَبَلٌ مِنْ ذَهَبٍ يُنْفِقُهُ مَا أَدَّى مُدّ أَحَدِكُمْ وَلَا نَصِيفَهُ". ثُمَّ
جَمَعَ أَصَابِعَهُ وَمَدَّ خِنْصَرَهُ، وَقَالَ: "أَلَا إِنَّ هَذَا فضلُ مَا
بَيْنَنَا وَبَيْنَ النَّاسِ، {لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ
الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ
بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرٌ}
telah menceritakan kepadaku Ibnul Burqi, telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abu Maryam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah
menceritakan kepadaku Zaid ibnu Aslam, dari Abu Sa'id At-Tammar, dari Abu Sa'id
Al-Khudri, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Hampir tiba masanya
kedatangan suatu kaum yang kamu anggap kecil amalmu bila dibandingkan dengan
amal mereka. Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu, apakah
mereka adalah orang-orang Quraisy?" Rasulullah Saw. menjawab: Bukan, tetapi
mereka adalah penduduk Yaman, karena mereka memiliki perasaan yang lebih lembut
dan hati lebih lunak (daripada kamu). Beliau Saw. mengatakan ini seraya
menunjuk ke arah negeri Yaman, lalu beliau bersabda: Mereka adalah penduduk
Yaman, ingatlah, sesungguhnya iman itu dari Yaman dan hikmah itu dari Yaman
(pula). Maka kami bertanya, "Apakah mereka lebih baik daripada kami?"
Rasulullah Saw. menjawab: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam
genggaman-Nya, seandainya seseorang dari mereka mempunyai gunung emas yang
mereka infakkan, niscaya hal itu masih belum dapat mencapai satu mud seseorang
dari kamu dan tidak pula separonya. Kemudian beliau Saw. menggenggamkan
semua jari jemarinya dan memanjangkan jari manisnya seraya bersabda, "Ingatlah,
sesungguhnya seperti inilah keutamaan antara kita dan orang-orang lain."
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan
berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya
daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah
itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Konteks riwayat ini tidak menyebutkan Hudaibiyah; dan jika penyebutan itu
memang dikenal seperti yang telah tertera di atas, maka takwilnya ialah bahwa
wahyu ini diturunkan sebelum penaklukan Mekah sebagai berita tentang apa yang
akan terjadi sesudahnya. Perihalnya sama dengan firman Allah Swt. dalam surat
Al-Muzammil yang Makkiyyah dan termasuk permulaan wahyu yang diturunkan, yaitu
firman-Nya:
{وَآخَرُونَ
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ} الْآيَةَ
dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah.
(Al-Muzammil: 20), hingga akhir ayat.
Hal ini merupakan berita gembira tentang apa yang akan terjadi di masa
mendatang; hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَكُلا
وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى}
Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih
baik. (Al-Hadid: 10)
Yakni orang-orang yang berinfak sebelum penaklukan Mekah dan yang sesudahnya,
semuanya mendapat pahala dari amalnya masing-masing, sekalipun di antara mereka
terdapat perbedaan dalam keutamaan pahala yang diterimanya. Ayat ini semakna
dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{لَا
يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ
وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ
اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ
دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ
عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا}
Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang)
yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah
dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad
dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada
masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang
besar. (An-Nisa: 95)
Demikian pula hadis yang disebutkan di dalam kitab sahih mengatakan:
"الْمُؤْمِنُ
الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيفِ، وَفِي
كُلٍّ خَيْرٌ"
Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada
orang mukmin yang lemah, tetapi masing-masing mempunyai kebaikannya
(tersendiri).
Sesungguhnya dikatakan demikian hanyalah agar pihak yang lain tidak
diremehkan dengan terpujinya pihak yang pertama, yang berakibat timbulnya dugaan
bahwa pihak yang tidak terpuji adalah orang yang tercela. Untuk itu maka
dilanjutkan dengan memuji pihak yang lain, tetapi dengan menonjolkan keutamaan
yang ada pada pihak yang pertama. Karena itulah maka disebutkan dalam firman
selanjutnya:
{وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ}
Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid: 10)
Yakni berkat pengetahuan-Nya, maka Dia membedakan antara pahala orang yang
menginfakkan hartanya sebelum masa penaklukan Mekah dan berperang di jalan-Nya,
dan orang yang melakukan hal tersebut sesudah masa penaklukan Mekah.
Hal tersebut tiada lain karena Allah mengetahui niat golongan yang pertama
dan keikhlasan mereka yang sempurna, serta infak mereka di masa susah, sulit,
lagi sempit. Di dalam sebuah hadis disebutkan:
"سَبَقَ
دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفٍ"
(Sedekah) satu dirham mendahului (sedekah) seratus ribu
(dirham).
Tidak diragukan lagi di kalangan ahlul iman, bahwa Abu Bakar As-Siddiqlah
yang meraih bagian yang terbesar dan kedudukan yang sangat penting dari ayat
ini. Karena sesungguhnya dialah penghulu orang yang beramal demikian di antara
umat-umat nabi-nabi lainnya. Dia telah membelanjakan seluruh hartanya karena
mengharapkan rida Allah Swt. dan tiada seorang pun yang memiliki nikmat ini rela
mengorbankannya demi agama selain dia.
قَدْ
قَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحُسَيْنُ بْنُ مَسْعُودٍ الْبَغَوِيُّ عِنْدَ تَفْسِيرِ
هَذِهِ الْآيَةِ أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الشُّرَيْحِيُّ
أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ
الثَّعْلَبِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَامِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ،
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ أَيُّوبَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
يُونُسَ، حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَمْرٍو الشَّيْبَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو
إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ آدَمَ بْنِ
عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدَهُ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، وَعَلَيْهِ عَبَاءَةٌ
قَدْ خَلَّها فِي صَدْرِهِ بِخِلَالٍ، فَنَزَلَ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَالِي أَرَى
أَبَا بَكْرٍ عَلَيْهِ عَبَاءَةٌ قَدْ خَلَّها فِي صَدْرِهِ بِخلال؟ فَقَالَ:
"أَنْفَقَ مَالَهُ عليَّ قَبْلَ الْفَتْحِ" قَالَ: فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ:
اقْرَأْ عَلَيْهِ السَّلَامَ، وَقُلْ لَهُ: أَرَاضٍ أنت عني في فقرك هذا أم ساخط؟
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ: "يَا أَبَا بَكْرٍ، إِنَّ اللَّهَ يَقْرَأُ عَلَيْكَ
السَّلَامَ، وَيَقُولُ لَكَ: أَرَاضٍ أنت عَني في فقرك هذا أم ساخط؟ " فَقَالَ:
أَبُو بَكْرٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَسْخَطُ عَلَى رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ؟ إِنِّي
عَنْ رَبِّي رَاضٍ
Abu Muhammad alias Al-Husain ibnu Mas'ud Al-Bagawi telah mengatakan
sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad
ibnu Ibrahim Asy-Syuraihi, telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq alias Ahmad
ibnu Muhammad ibnu Ibrahim As-Sa'labi, telah menceritakan kepada kami Abdullah
ibnu Hamid ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq ibnu
Ayyub, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yunus, telah menceritakan
kepada kami Al-Ala ibnu Amr Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Abu
Ishaq Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Sa'id, dari Adam
ibnu Ali, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa ketika kami sedang berada di
hadapan Nabi Saw. dan Abu Bakar As-Siddiq yang pada saat itu sahabat Abu Bakar
memakai baju 'aba'ah yang ada tambalan pada bagian dadanya, maka turunlah
Jibril dan berkata, "Mengapa kulihat Abu Bakar mengenakan baju 'aba'ah
yang ada tambalan pada bagian dadanya?" Nabi Saw. menjawab, "Dia telah
menginfakkan semua hartanya sebelum masa penaklukan." Jibril berkata,
"Sesungguhnya Allah berfirman, 'Sampaikanlah salam kepadanya dan tanyakanlah
kepadanya apakah dia rela terhadap-Ku dalam kemiskinannya ataukah marah'?"
Maka Rasulullah Saw. bersabda, "Hai Abu Bakar, sesungguhnya Allah telah
mengucapkan salam kepadamu dan berfirman kepadamu, 'Apakah kamu rela dalam
kemiskinanmu karena membela agama-Nya ataukah marah'?" Abu Bakar menjawab,
"Apakah Tuhanku marah kepadaku?" Sesungguhnya aku rela kepada Tuhanku dengan
semuanya ini."
Sanad hadis yang dikemukakan melalui jalur ini daif; hanya Allah-lah
Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{مَنْ
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا}
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik.
(Al-Hadid: 11)
Menurut Umar ibnul Khattab, makna yang dimaksud ialah membelanjakan harta
untuk keperluan jalan Allah. Menurut pendapat yang lain, untuk keperluan
anak-anak. Menurut pendapat yang benar, makna ayat ini umum mencakup semuanya.
Maka tiap-tiap orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dengan niat yang
ikhlas dan tekad yang benar telah termasuk ke dalam makna umum ayat ini. Untuk
itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:
{مَنْ
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ}
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah
akan memperlipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya. (Al-Hadid:
11)
Seperti yang disebutkan dalam ayat lainnya:
{أَضْعَافًا
كَثِيرَةً }
dengan lipat ganda yang banyak. (Al-Baqarah: 245)
Adapun firman Allah Swt.:
وَلَهُ
أَجْرٌ كَرِيمٌ
dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al-Hadid: 11)
Yakni pahala yang baik dan rezeki yang memukaukan, yaitu surga kelak di hari
kiamat.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu
Arafah, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnu Khalifah, dari Humaid
Al-A'raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang mengatakan
bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Swt.: Siapakah yang mau
meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan
(balasan) pinjaman itu untuknya. (Al-Hadid: 11) Abud Dahdah Al-Ansari
berkata, "Wahai Rasulullah, apakah Allah menghendaki pinjaman dari kita?"
Rasulullah Saw. menjawab, "Benar, hai Abud Dahdah." Abu Dahdah berkata,
"Wahai Rasulullah, kemarikanlah tanganmu." Maka Abud Dahdah menjabat tangan
Rasulullah Saw., lalu berkata, "Sesungguhnya aku pinjamkan kepada Tuhanku kebun
kurmaku." Dia mempunyai kebun kurma berisikan enam ratus tangkal kurma, dan Ummu
Dahdah bertempat tinggal di dalam kebun itu bersama anak-anaknya. Lalu Abud
Dahdah datang dan memanggil istrinya, "Hai Ummu Dahdah." Istrinya menjawab,
"Labbaik." Abud Dahdah berkata, "Keluarlah kamu, sesungguhnya kebun ini
telah kupinjamkan kepada Tuhanku."
Menurut riwayat yang lain, saat itu juga Ummu Dahdah berkata kepada Abud
Dahdah, "Beruntunglah bisnismu, hai Abud Dahdah," lalu Ummu Dahdah memindahkan
semua barang dan anak-anaknya dari kebun itu, sedangkan Rasulullah Saw.
bersabda:
"كَمْ
مِنْ عَذْق رَدَاح فِي الْجَنَّةِ لِأَبِي الدَّحْدَاحِ"
Betapa banyaknya pohon kurma yang berbuah subur di dalam surga milik Abu
Dahdah.
Menurut lafaz yang lain disebutkan:
"رُبَّ
نَخْلَةٍ مُدَلَّاةٍ عُرُوقُهَا دُرٌّ وياقوت لأبي الدحداح في
الجنة"
Betapa banyak pohon kurma yang berjuntai buahnya berupa intan dan yaqut
milik Abud Dahdah di dalam surga.