Istimewanya Puasa Ramadan: Ibadah Spesial dengan Ganjaran Langsung dari Allah

 


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Para sahabat yang berbahagia, di mana pun Anda berada, terutama para shaimin dan shaimat, hamba-hamba Allah yang sedang melaksanakan ibadah puasa.

Syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa kita, orang-orang yang beriman ini, di dalam bulan Ramadan masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk dapat menikmati karunia hidup. Ini merupakan karunia yang besar, karunia yang tertinggi. Karena dengan hidup dan badan yang sehat, kita dapat beramal, berbuat, berjuang, berjihad, thalabul ilmi (menuntut ilmu), dan lain sebagainya. Inilah yang saya katakan sebagai modal dasar dan modal pokok.

Nah, di bulan Ramadan inilah kita memperbanyak merenungkan diri. Karena bulan Ramadan pada prinsipnya adalah bulan untuk mengevaluasi diri, mengkalkulasi diri, bulan untuk meng-upgrade diri. Bulan Ramadan adalah bulan yang luar biasa, yang mempunyai banyak predikat nama yang tidak kita temukan pada bulan-bulan lainnya.

Bulan Ramadan itu disebut juga:

  • Syahrul Qur'an (Bulan Al-Qur'an)

  • Syahrul Ibadah (Bulan Ibadah)

  • Syahrus Shiyam (Bulan Puasa)

  • Syahrul Qiyam (Bulan Shalat Malam)

  • Syahrur Rahmah (Bulan Rahmat)

  • Syahrul Maghfirah (Bulan Ampunan)

Luar biasa!

Untuk itu, para shaimin dan shaimat, hamba Allah yang berbahagia, kita perlu mengetahui terlebih dahulu keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadan ini. Karena tidak jarang orang malas melakukan suatu amal karena tidak mengetahui tujuan dan keistimewaan dari amal tersebut.

Puasa berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain.

Ibadah-ibadah lain seperti salat, zakat, dan haji, pada hakikatnya kembali kepada diri kita sendiri. Salat untuk kita, puasa untuk kita, haji untuk kita. Namun puasa memiliki keistimewaan yang spesifik. Puasa adalah kado istimewa yang hanya kita persembahkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Di dalam sebuah hadis qudsi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
"Kullu 'amalibni Adama lahu, illash shiyama, fa innahu li, wa ana ajzii bih."
Artinya: "Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi ganjarannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Memang ibadah-ibadah lain juga memiliki pahala dan ganjaran. Namun tidak ada satu keterangan pun yang mengatakan bahwa Allah langsung yang memberikan ganjarannya, kecuali puasa.

Di dunia ini kita bisa melihat perumpamaannya. Ada pertandingan dengan "Piala Gubernur", tetapi tidak selamanya gubernur yang menyerahkan piala itu; bisa saja diwakilkan oleh lurah atau camat. Namun ada saat-saat tertentu ketika pertandingan itu dianggap besar dan seru, maka piala gubernur itu akan diserahkan langsung oleh gubernurnya sendiri.

Demikian pula dengan puasa. Ia dianggap sebagai ibadah yang spesifik, yang istimewa. "Semua amalmu untukmu," kata Allah, "kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, bukan untukmu. Dan Akulah kelak yang akan langsung memberi ganjarannya." Inilah di antara keistimewaan yang spesifik dari ibadah puasa Ramadan.

Maka rugilah orang-orang Islam yang tidak melaksanakan puasa secara baik dan benar. Benar menurut ketentuan syariat, dan baik menurut ketentuan sunah. Sehingga puasa itu benar-benar terasa menjadi benteng dan tameng bagi yang melakukannya. Baik sebagai benteng dari pengaruh nafsu angkara murka di dunia ini, maupun sebagai benteng yang menghalangi kita masuk ke dalam neraka jahanam. Na'udzubillahi min dzalik.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ، مَا لَمْ يُخْرِقْهَا بِكَذِبٍ أَوْ غِيبَةٍ
"Ash-shiyamu junnatun, ma lam yakhriqha bi kadzibin au ghibatin."
Artinya: "Puasa itu adalah perisai, selama ia tidak dirobek dengan kedustaan atau gunjingan (ghibah)." (HR. An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Puasa menjadi tameng selama tidak dicampuri dengan ucapan bohong dan bergunjing (membicarakan aib atau kejelekan orang). Sebaliknya, kita melatih diri untuk berbicara tentang kebaikan orang, tentang kelebihan orang, tentang kehebatan orang.

Di bulan Ramadan inilah kita mengevaluasi diri. Barangkali di bulan-bulan lain kita tidak sempat. Jadi jelas, apabila puasa dapat kita lakukan secara baik, ia akan menjadi benteng kita dalam mengendalikan kehendak nafsu.

  • Kita tidak mau marah, karena kita membentengi diri dari amarah.

  • Kita tidak mau bohong, karena kita menjaga puasa.

  • Kita tidak mau khianat, menipu, atau berbuat curang.

  • Kita tidak mau melihat maksiat.

  • Kita tidak mau mendengar hal-hal yang diharamkan.

Rasulullah bersabda: "Ash-shiyamu junnatun" — puasa itu adalah benteng untuk mengantisipasi kita dari mengikuti kehendak nafsu.

Namun puasa yang seperti apa? Puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga puasa mata, puasa telinga, puasa hati, puasa bibir, dan puasa lidah.

Inilah yang oleh Imam Al-Ghazali disebut sebagai puasa khususil khusus (puasa khusus dari yang khusus). Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

  1. Puasa Umum (Shaumul 'umum)
    Puasanya orang awam. Yang penting tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami istri. Namun mata masih liar melihat yang dilarang, telinga masih mendengar maksiat. Ini puasa yang sekadar lapar dan dahaga. Puasanya sah, tetapi ganjarannya bisa hilang karena tidak menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa. Kita tentu ingin menghindari puasa yang seperti ini.

  2. Puasa Khusus (Shaumul khusus)
    Puasanya orang-orang saleh. Selain menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, mereka juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

  3. Puasa Khususil Khusus (Shaumul khususil khusus)
    Puasanya orang-orang yang sangat dekat dengan Allah. Mereka tidak hanya menjaga diri dari hal-hal yang haram, tetapi juga menjaga hati dari segala hal yang melalaikan dari mengingat Allah.

Semoga kita termasuk golongan yang kedua dan ketiga. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi puasa kita benar-benar menjadi benteng yang melindungi kita dari perbuatan dosa dan maksiat.

Para hadirin sekalian, saya ucapkan selamat berbuka puasa dan selamat menjalankan ibadah salat Magrib. Semoga Allah merahmati dan menerima amal ibadah kita. Amin ya rabbal 'alamin.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna

Popular posts from this blog

Tafsir Surat Al-'Alaq, ayat 1-5

Tafsir Surat An-Naba, ayat 1-16

Tafsir Surat Al-Baqarah, ayat 155-157