Keberkahan Sahur: Antara Sunnah dan Kesehatan
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ
Para para sahabat yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.
Marilah kita senantiasa mawas diri dan mengadakan evaluasi terhadap aktivitas kita di bulan Ramadan. Agar puasa kita tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan yang tanpa dampak, melainkan menjadi ibadah yang bermakna. Meskipun ada unsur rutinitas di dalamnya, namun puasa adalah kebutuhan yang mutlak dan urgen bagi kita dalam rangka belajar mengendalikan hawa nafsu yang selalu cenderung berlebih-lebihan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 53:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
"Innan nafsa la ammaaratun bis suu'i illa maa rahima rabbi."
Artinya: "Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku." (QS. Yusuf: 53)
Nah, salah satu latihan atau upgrading agar manusia dapat belajar mengendalikan hawa nafsu, maka Allah Syariatkan ibadah yang bernama puasa. Dalam bahasa agama disebut shaum atau shiyam, yang secara etimologi berarti al-imsak (menahan) atau bisa juga diartikan sebagai pembakaran. Maksudnya, di bulan Ramadan ini, semua dosa-dosa kita apabila kita mampu menjalankan puasa dengan benar, pada hakikatnya sama dengan kita membakar dosa-dosa tersebut.
Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.
Dalam penjelasan saya sebelumnya, telah saya sampaikan tentang pentingnya menambah nilai-nilai sunnah dalam puasa kita. Di antaranya adalah menyegerakan berbuka, berbuka dengan kurma atau yang manis, dan berdoa ketika berbuka.
Dan yang keempat, yang tidak kalah pentingnya, adalah makan sahur di penghujung malam. Tujuannya agar menambah kekuatan saat menjalankan puasa. Itulah sebabnya orang yang makan sahur di bulan Ramadan diberi nilai tambah oleh Allah dengan sebutan sunnah. Karena dengan sahur, berarti ia turut menjaga kelestarian kesehatannya sendiri.
Orang yang berpuasa tanpa sahur, nilai ganjarannya tentu lebih rendah dibanding mereka yang melaksanakan sahur. Dari sisi kesehatan pun terlihat jelas, dengan makan sahur berarti kita mempersiapkan energi, menambah vitamin, dan memperkuat kondisi badan untuk menghadapi perjalanan ibadah seharian penuh.
Ibarat mobil yang akan berangkat jauh, misalnya ke Garut atau Tasikmalaya, ia mengisi bensin terlebih dahulu di dekat rumah. Itu sebagai persiapan agar kendaraan tidak berhenti di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar. Tentu berbeda dengan mereka yang tidak sahur, badannya akan terasa lemas, letih, dan lesu, meskipun jika dipaksakan tetap bisa bertahan.
Namun perlu dipahami, bagi mereka yang tidak sahur karena ketiduran atau kesiangan, puasanya tetap sah dan ia tidak berdosa. Berbeda dengan mereka yang sengaja meninggalkan sahur dengan anggapan "sahur itu merepotkan" atau "makan malam jam 11 saja sudah cukup", maka ganjarannya tidak sebesar mereka yang bersusah payah bangun untuk makan sahur.
Mengapa dengan makan sahur ganjarannya lebih tinggi? Karena Islam adalah agama yang rasional dan up-to-date. Setiap sesuatu yang dicapai dengan susah payah, pasti nilainya tinggi. Saya ulangi: sesuatu yang dicapai dengan susah payah, pasti nilainya tinggi.
Coba perhatikan, salat sunah apa yang paling berat dilakukan? Pasti salat tahajud. Karena harus tidur terlebih dahulu, lalu bangun di tengah malam untuk melaksanakannya. Apalagi bagi mereka yang rumahnya sederhana, tempat wudhunya di luar rumah, dalam keadaan gelap dan dingin. Sungguh sebuah kesulitan yang luar biasa.
Itulah mengapa dalam syariat Islam, salat sunah yang paling besar ganjarannya adalah salat tahajud. Karena faktor kesulitannya lebih tinggi dibanding salat-salat sunah lainnya. Di samping dikerjakan di malam hari, ia juga harus mengalahkan rasa kantuk yang berat demi melaksanakan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam Islam, ganjaran suatu ibadah dapat dianalogikan dengan olahraga lompat indah. Semakin tinggi tingkat kesulitan yang dilakukan, semakin tinggi pula nilai yang diberikan oleh juri.
Seorang atlet yang terjun dari papan setinggi 10 meter, melakukan putaran dan atraksi di udara, lalu masuk ke air dengan sempurna, nilainya bisa 8 atau 9. Berbeda dengan orang yang langsung terjun biasa dari ketinggian yang sama tanpa atraksi, nilainya paling hanya 6.
Demikian pula dengan sahur. Mana yang lebih enak? Sahur atau tidak sahur? Jelas lebih enak tidak sahur, karena tidak perlu mengganggu tidur nyenyak. Tapi justru di situlah letak keutamaannya. Karena adanya unsur kesulitan dan perjuangan, maka ganjarannya pun lebih besar.
Makanya, sahur termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat dianjurkan. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
"'An Anasin radhiyallahu 'anhu qaala: Qaala Rasulullahi ﷺ: Tasahharu fa inna fis sahuri barakah."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Ada hikmah dan berkah yang dapat kita petik dan nikmati dari sahur, terutama bagi mereka yang melakukannya dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.
Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan dengan penuh kesungguhan ini tidak menjadi puasa yang sia-sia. Jangan sampai puasa kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Kita ingin puasa kita menjadi puasa yang sempurna, sah secara syariat, dan bernilai ganjaran di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Saya ucapkan selamat berbuka puasa dan selamat menunaikan ibadah salat Maghrib. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua.
آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
