Puasa Sebagai Ibadah Rahasia Yang Penuh Makna
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ
Para jamaah yang dimuliakan Allah, para pecinta dan simpatisan Forum Kaji Kitab Ruqyah Syar'iyyah, para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.
Alhamdulillah, wa syukurillah, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hingga hari ini, Allah masih memberikan kepercayaan kepada kita untuk dapat menjalankan ibadah puasa dengan diberikan kesehatan. Mudah-mudahan dengan kesehatan ini, kita dapat melaksanakan ibadah shaum kita dengan optimal.
Ibadah puasa memiliki keistimewaan yang membedakannya dengan ibadah-ibadah lain seperti salat, zakat, dan haji. Puasa adalah ibadah sir (rahasia), ibadah yang abstrak dan tersembunyi. Ia berbeda dengan ibadah-ibadah yang bersifat jahar (nyata) yang dapat dilihat oleh mata.
Pertama, ibadah haji. Ibadah haji bersifat konkret. Orang yang hendak berhaji tidak bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Jika ada orang yang ingin berpura-pura berhaji, tentu akan ketahuan. Orang lain pergi ke Mekah, ia pergi ke tempat lain. Orang lain mengelilingi Ka'bah, ia mengelilingi rumah lain. Tidak mungkin, karena akan diketahui. Bahkan, orang yang berangkat haji biasanya diantar oleh sanak saudara dan tetangga hingga satu kampung. Jalanan macet. Ini membuktikan bahwa haji termasuk ibadah jahar, ibadah yang nyata dan tidak dapat disembunyikan.
Kedua, ibadah salat. Salat juga merupakan ibadah yang konkret. Bahkan, sebelum salat, kita mendengar seruan azan yang mengajak orang untuk datang ke masjid dan salat berjamaah. Salat tidak bisa dilakukan secara diam-diam. Gerakan-gerakan salat seperti berdiri, rukuk, dan sujud dapat dilihat oleh orang lain. Orang akan tahu apakah kita salat atau tidak.
Ketiga, ibadah zakat. Demikian pula dengan zakat. Kita tidak mungkin mengeluarkan zakat secara sembunyi-sembunyi. Biasanya, orang-orang yang berhak menerima zakat justru datang berduyun-duyun ke rumah kita, terutama setelah diumumkan melalui ketua RT atau tokoh masyarakat. Zakat tidak bisa dilakukan secara rahasia karena ia ibadah yang bersifat sosial dan nyata.
Berbeda dengan puasa, para shoimin dan shoimat yang berbahagia.
Puasa adalah ibadah yang abstrak. Tidak ada seorang pun yang tahu dengan pasti apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak. Mungkin ada yang berkata, "Orang yang berbuka itu kan ramai-ramai, jadi ketahuan." Namun perlu kita pahami, berbuka bukanlah puasa. Begitu pula dengan sahur. Apakah setiap orang yang sahur pasti berpuasa? Demikian juga dengan orang yang berbuka, apakah setiap orang yang berbuka berarti ia berpuasa?
Jika kita merujuk pada definisi puasa secara syar'i, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Tidak disebutkan di dalamnya tentang berbuka dan sahur. Orang bisa berbuka tapi tidak berpuasa. Orang bisa sahur tapi tidak berpuasa. Namun, menahan diri dari makan dan minum dari subuh hingga maghrib adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun, kecuali diri kita sendiri dan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Andaikata ketika kita berwudu di waktu dzuhur, kita sengaja menelan setetes air, maka:
Presiden tidak akan tahu.
Para menteri tidak akan tahu.
Gubernur tidak akan tahu.
Jenderal tidak akan tahu.
Ketua RT dan RW pun tidak akan tahu.
Yang tahu hanyalah kita dan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Inilah hakikat bahwa puasa adalah ibadah sir, ibadah yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh Allah dan hamba-Nya yang bersangkutan.
Lalu, mengapa kita tidak melakukannya? Mengapa di waktu dzuhur, ketika kita berwudu, kita tidak menelan setetes air pun untuk melepas dahaga? Karena kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah Maha Melihat. Keyakinan inilah yang menjadikan puasa kita terjaga.
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
"Ya'lamu khaa-inatal a'yuni wa maa tukhfish shudur."
Artinya: "Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (QS. Ghafir: 19)
Namun, sayangnya, sifat muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) ini seringkali hanya tertanam kuat saat bulan Ramadan. Di bulan ini, kita sangat menjaga puasa karena yakin Allah Maha Melihat. Alangkah indahnya jika didikan Ramadan ini dapat kita bawa ke luar Ramadan. Karena hidup yang terbaik bukanlah hidup yang benar hanya di bulan Ramadan, tetapi hidup yang benar di atas 12 bulan, sepanjang tahun.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa merahmati kita, menjaga kita, dan menanamkan keimanan yang mendalam dalam hati kita, bahwa sesungguhnya hidup ini tujuan utamanya adalah untuk mengabdi kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya dengan menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan.
Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita.
آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Rudianto Abu Huna
