Ramadan Bulan Lipat Ganda: Keutamaan Sedekah, Memberi Makan Berbuka, dan Tadarus Al-Qur'an
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ
Para Sahabat yang dimuliakan Allah di mana pun Anda berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.
Di saat kita menunggu datangnya waktu berbuka dan waktu salat Magrib ini, seperti biasa, alangkah baiknya kita mengadakan evaluasi tentang ibadah shaum yang kita lakukan. Agar benar-benar dapat menjadi puasa yang mempunyai bobot dan makna di sisi Allah, tidak sekadar lapar perut dan dahaga kerongkongan, tetapi benar-benar dapat mencapai sasaran dari puasa itu.
Di antara sasaran minimal dari puasa adalah menumbuhkan perasaan sosial yang mendalam di dalam lubuk hati kita. Bahwa ternyata dalam hidup ini, kita masih berbahagia meskipun lapar karena berpuasa. Kita berpuasa dengan sahur, kita masih berbahagia. Kita berpuasa dengan tidur di kasur yang nyaman, kita tetap berbahagia. Kita lapar karena puasa, tetapi kita yakin saat Magrib tiba, kita akan berbuka dengan makanan yang telah disiapkan, bahkan sejak Zuhur kolak sudah tersedia di atas meja.
Namun, alangkah menderitanya saudara-saudara kita yang ekonominya jauh di bawah kita, atau dapat kita katakan fakir miskin yang amat sangat. Mereka juga merasakan lapar seperti kita yang berpuasa ini, meskipun barangkali mereka tidak sedang berpuasa. Yang jelas, mereka tidak memiliki makanan untuk dimakan. Kalau kita berpuasa dengan sahur, mereka tidak punya sahur karena memang sudah lapar. Kita berpuasa dan menanti waktu berbuka, sementara mereka tidak memiliki apa pun untuk berbuka. Dengan apa mereka akan berbuka?
Maka minimal puasa itu dapat melahirkan dan menumbuhkan perasaan sosial kemasyarakatan seperti itu. Itulah puasa yang benar-benar sesuai dengan yang diperintahkan dalam syariat.
Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.
Pada kesempatan yang lalu, kita telah membahas dan mengungkap keutamaan-keutamaan yang merupakan ibadah sunah atau ibadah tambahan dalam menjalani ibadah puasa. Di antaranya adalah:
Pertama: Memberi Makanan untuk Orang Berbuka
Sebagaimana telah saya jelaskan, memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa memiliki keutamaan yang sangat besar. Orang yang memberi makan berbuka akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran orang yang berpuasa, tanpa mengurangi ganjaran orang yang berpuasa sedikit pun. Seperti orang yang mendapat ganjaran dua kali puasa.
Haditsnya telah saya sampaikan pada waktu yang lalu, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Man faththara shaa-iman kaana lahu mitslu ajrihi, ghayra annahu laa yanqushu min ajrish shaa-imi syai-an."
Artinya: "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Hadits shahih)
Kedua: Memperbanyak Sedekah di Bulan Ramadan
Hendaklah kita memperbanyak sedekah selama bulan puasa. Sebab tidak ada keutamaan yang lebih tinggi nilainya dibanding sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadan. Sedekah di saat perut lapar, di saat mata mengantuk, di saat badan letih dan lesu, kemudian kita keluarkan sedikit nafkah atau harta yang kita miliki untuk disedekahkan kepada orang lain, maka Nabi memuji ibadah yang demikian sebagai amal yang sangat afdal dan utama.
Sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ قَالَ: شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ. قِيلَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
"An Anasin radhiyallahu 'anhu qaala: su-ilannabiyyu ﷺ: ayyush shiyaami afdalu ba'da Ramadhana? Qaala: Sya'banu lita'zhiimi Ramadhana. Qiila: fa ayyush shadaqati afdalu? Qaala: shadaqatun fii Ramadhana."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi ﷺ ditanya, 'Puasa apakah yang paling utama setelah Ramadan?' Beliau menjawab, 'Puasa Sya'ban dalam rangka mengagungkan Ramadan.' Ditanyakan lagi, 'Sedekah apakah yang paling utama?' Beliau menjawab, 'Sedekah di bulan Ramadan.'" (HR. Tirmidzi)
Itulah sebabnya mengapa sebagian umat Islam menghitung hartanya sejak datangnya bulan Ramadan dan mengeluarkan zakatnya pada bulan ini, agar mendapat pelipatgandaan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sedekah di bulan Ramadan dan di bulan lainnya berbeda nilainya. Yang tertinggi adalah sedekah di bulan Ramadan.
Jadi, di antara sunah-sunah puasa menurut hadis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah memperbanyak sedekah. Tentu sedekah tidak hanya berbentuk uang. Boleh berbentuk baju, celana, makanan, sarung, sandal, selendang, dan lain sebagainya. Yang penting, di bulan Ramadan ini kita memperbanyak sedekah. Karena sedekah di bulan Ramadan ganjarannya berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta'ala melipatgandakan ganjaran amal termasuk sedekah dengan lipat ganda yang banyak.
Maka rugilah manusia yang tidak berbuat apa-apa di bulan Ramadan, kecuali hanya lapar perutnya saja. Lebih rugi lagi dan lebih celaka orang yang tidak ikut berpuasa, tetapi ikut berhari raya. Hal ini perlu mendapat perhatian. Di bulan Ramadan ini, kita sebagai bangsa Indonesia wajib menghormati bulan yang mulia ini. Artinya, makan di siang hari tidak boleh dilakukan secara demonstratif yang dapat memancing kemarahan orang lain.
Memang orang yang melihat orang makan di siang hari Ramadan akan marah, dan itu wajar. Tetapi yang lebih patut disalahkan adalah orang yang makan di siang hari Ramadan dengan tidak tahu diri. Seringkali kita ribut hanya pada akibatnya—orang puasa marah—tetapi tidak melihat sebabnya. Sebabnya adalah karena ada orang yang berpesta pora makan di siang hari Ramadan di tempat-tempat umum. Inilah manusia yang sudah tidak tahu malu, manusia yang telah dicabut rasa malunya, dan mereka akan berbuat sewenang-wenang sekehendaknya, tidak ubahnya seperti binatang.
Islam bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ
"Al-haya'u minal iman."
Artinya: "Rasa malu itu adalah bagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang memiliki rasa malu menunjukkan bahwa ia masih memiliki iman.
Ketiga: Memperbanyak Membaca dan Mempelajari Al-Qur'an
Yang selanjutnya termasuk sunah di bulan Ramadan adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya dengan sebaik-baiknya. Menelaah maknanya, merenungi artinya, memahami asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), serta berjanji kepada Allah untuk mengamalkan apa yang terkandung di dalam Al-Qur'anul Karim dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, ibadah yang tertinggi nilainya adalah membaca Al-Qur'an, dan menuntut ilmu yang tertinggi nilainya adalah mempelajari Al-Qur'an.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
"Khairukum man ta'allamal Qur'aana wa 'allamahu."
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
Semoga kita di bulan Ramadan ini dapat memperbanyak bertadarus, membaca Al-Qur'anul Karim, yang merupakan amal istimewa dan nomor satu di sisi Allah.
Selamat berbuka puasa dan selamat menunaikan ibadah salat Magrib. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita. Amin Allahumma amin.
آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
