Sunah-Sunah Berbuka yang Sering Terlupakan

 


 السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ

Saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku yang budiman di mana pun berada, terutama para shoimin dan shoimat, hamba-hamba Allah yang berbahagia.

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang senantiasa memberikan kita kenikmatan dalam menjalani hidup ini, baik kenikmatan lahir maupun kenikmatan batin. Termasuk di dalamnya adalah nikmat kesehatan, yang merupakan modal dasar dan utama dalam menjalankan ibadah shaum atau puasa Ramadan ini. Tanpa kesehatan, mustahil kita dapat melaksanakan ibadah puasa yang menuntut kesegaran dan vitalitas. Oleh karena itu, dalam syariat Islam, orang-orang yang sakit diberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain.

Para shoimin dan shoimat yang berbahagia.

Agar puasa kita menjadi sempurna, perlu kita perhatikan hal-hal yang menjadi nilai tambah dalam ibadah ini. Nilai tambah tersebut tentu terdapat dalam sunah-sunah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dengan meneladani beliau, puasa yang kita lakukan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar menjadi puasa yang mencapai sasarannya.

Berikut ini adalah beberapa sunah puasa yang perlu kita perhatikan:

Pertama: Menyegerakan Berbuka (Ta'jil al-Fithr)

Kita semua dianjurkan untuk menyegerakan berbuka puasa ketika waktunya tiba. Hal ini merupakan salah satu sunah penting dalam ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
"Laa yazaalun naasu bikhairin maa 'ajjalul fithrah."
Artinya: "Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, orang yang menyegerakan berbuka mendapatkan nilai tambah berupa pahala sunah. Janganlah kita mengakhirkan berbuka tanpa alasan yang syar'i. Jika menggunakan logika, mungkin ada yang berpikir bahwa menunda berbuka lebih besar pahalanya karena menambah rasa lapar. Namun dalam syariat Islam, ganjaran tidak semata-mata berdasarkan logika, melainkan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Kedua: Berbuka dengan Kurma atau yang Manis

Sunah berikutnya adalah berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis, atau dengan air. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ فَتُمَيْرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
"'An Anasin, annan nabiyya ﷺ kaana yufthiru qabla an yushalliya 'alaa ruthabaatin, fa illam takun fatamaraatin, fa illam takun hasaa hasawaatin min maa'in."
Artinya: "Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ biasa berbuka dengan beberapa butir kurma basah (ruthab) sebelum melaksanakan salat Maghrib. Jika tidak ada, maka dengan kurma kering (tamar). Jika tidak ada, beliau meneguk beberapa teguk air." (HR. Abu Dawud, Turmudzi, dan Ahmad)

Dari sisi kesehatan, hal ini pun telah diakui oleh ilmu kedokteran. Ketika energi kita terkuras setelah seharian berpuasa, maka asupan yang manis dapat dengan cepat mengembalikan energi. Islam, melalui sunah ini, telah membuktikan bahwa ajarannya selaras dengan ilmu pengetahuan dan tidak bertentangan dengan kesehatan.

Ketiga: Berdoa Ketika Berbuka

Berbuka puasa tanpa berdoa tetaplah sah, demikian pula tanpa menyegerakan atau tanpa kurma, puasa tetap sah. Namun, untuk meraih kesempurnaan, kita dianjurkan untuk berdoa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan doa berbuka, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
Dalam riwayat lain disebutkan:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
"Allahumma laka shumtu wa 'alaa rizqika afthartu."
Artinya: "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki pemberian-Mu aku berbuka."

Atau doa yang lebih lengkap:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
"Dzahabazh zhama'u wabtallatil 'uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allah."
Artinya: "Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah beberapa amalan sunah yang perlu kita perhatikan dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan menjalankan sunah-sunah ini, semoga puasa kita benar-benar mencapai sasarannya, baik sebagai bentuk penghambaan kepada Allah (hablum minallah) maupun sebagai latihan yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan jasmani dan rohani kita. Tentu, dengan mengamalkan sunah-sunah Rasulullah, nilai puasa kita akan lebih tinggi, pahala kita akan berlipat ganda, dan tabungan amal kita di bulan Ramadan yang penuh berkah ini akan semakin banyak.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan puasa kita sebagai puasa yang diterima, puasa yang mencapai sasarannya, yaitu untuk mengangkat derajat kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa.

Selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertai kita.

آخِرُ الْكَلَامِ، وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ، الْعَفْوَ مِنْكُمْ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rudianto Abu Huna

Popular posts from this blog

Tafsir Surat Al-'Alaq, ayat 1-5

Tafsir Surat An-Naba, ayat 1-16

Tafsir Surat Al-Baqarah, ayat 155-157