Cari Tafsir

Tafsir Surat Al-Qamar, ayat 47-55

{إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلالٍ وَسُعُرٍ (47) يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ (48) إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ (49) وَمَا أَمْرُنَا إِلا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ (50) وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (51) وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ (53) إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ (54) فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ (55) }
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), "Rasakanlah sentuhan api neraka.” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku catatan. Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.
Allah Swt. menceritakan tentang perihal orang-orang yang berdosa, bahwa mereka berada dalam kesesatan dari kebenaran dan tenggelam di dalam keragu-raguan dan kebimbangan serta kekacauan dalam pikirannya. Hal ini dialami pula oleh tiap-tiap orang yang mempunyai sifat yang sama dari kalangan orang-orang kafir, ahli bid'ah, dan semua golongan yang sesat. Kemudian Allah Swt. berfirman:
{يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ}
(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Al-Qamar: 48)
Yakni sebagaimana mereka berada dalam kegelapan, keragu-raguan, dan kebimbangan, maka mereka mendapat balasan neraka; dan sebagaimana mereka sesat, maka mereka diseret masuk ke dalam neraka dengan muka di bawah. Mereka tidak mengetahui ke manakah mereka dibawa, dan dikatakan kepada mereka dengan nada kecaman dan cemoohan:
{ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ}
Rasakanlah sentuhan api neraka! (Al-Qamar: 48)
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ}
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 49)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا}
dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Al-Furqan: 2)
Dan firman Allah Swt.:
{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى. الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى. وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى}
Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan dan yang menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk. (Al-A'la: 1-3)
Yakni Dia telah menentukan ukuran masing-masing makhluk-Nya dan memberi petunjuk kepada semua makhluk-Nya. Karena itulah maka para imam dari kalangan Ahlus Sunnah menyimpulkan dalil dari ayat ini yang membuktikan akan kebenaran dari takdir Allah yang terdahulu terhadap makhluk-Nya. Yaitu pengetahuan Allah Swt. akan segala sesuatu sebelum kejadiannya dan ketetapan takdir-Nya terhadap mereka sebelum mereka diciptakan oleh-Nya. Dan dengan ayat ini serta ayat-ayat lainnya yang semakna, juga hadis-hadis yang sahih, kalangan Ahlus Sunnah membantah pendapat golongan Qadariyah, yaitu suatu golongan yang muncul di penghujung masa para sahabat. Kami telah membicarakan hal ini dengan rinci berikut semua hadis yang berkaitan dengannya di dalam Syarah Kitabul Iman, bagian dari Syarah Imam Bukhari. Berikut ini kami akan mengetengahkan sebagian hadis-hadis yang berkaitan dengan ayat yang mulia ini.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Ziad ibnu Ismail As-Sahmi, dari Muhammad ibnu Abbad ibnu Ja'far, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi Saw. dengan tujuan berdebat dengannya dalam masalah takdir, maka  turunlah ayat: (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), "Rasakanlah sentuhan api neraka.” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 48-49)
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Turmuzi serta Ibnu Majah melalui hadis Waki' dari Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Ad-Dahhak ibnu Makhlad, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnul Haris, dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa ayat-ayat berikut tiada lain diturunkan berkaitan dengan ahli qadar, yaitu firman Allah Swt.: Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. (Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), "Rasakanlah sentuhan api neraka.” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 47-49)
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Saleh Al-Intaki, telah menceritakan kepadaku Qurrah ibnu Habib, dari Kinanah, telah menceritakan kepadaku Jarir ibnu Hazim, dari Sa'id ibnu Amr ibnu Ja'dah, dari Ibnu Zurarah, dari ayahnya, dari Nabi Saw., bahwa beliau membaca firman-Nya:  (Dikatakan kepada mereka), "Rasakanlah sentuhan api neraka.” Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukurannya. (Al-Qamar: 48-49) Lalu Nabi Saw. bersabda:
"نَزَلَتْ فِي أُنَاسٍ مِنْ أُمَّتِي يَكُونُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُكَذِّبُونَ بِقَدَرِ اللَّهِ"
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sebagian dari umatku yang kelak ada di akhir zaman, mereka mendustakan takdir Allah.
Telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Syuja' Al-Jazari, dari Abdul Malik ibnu Juraij, dari Ata ibnu Abu Rabah yang mengatakan bahwa ia datang kepada Ibnu Abbas yang saat itu sedang menimba air dari sumur zamzam, sedangkan bagian bawah kainnya kebasahan. Lalu aku berkata kepadanya, bahwa sebagian orang ada yang membicarakan masalah takdir. Maka Ibnu Abbas berkata, "Benarkah mereka telah membicarakannya?" Aku menjawab, "Ya." Maka dia berkata, "Demi Allah, tiadalah ayat berikut diturunkan melainkan berkenaan dengan mereka," yaitu firman-Nya: Rasakanlah sentuhan api neraka'. Sesunguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 48-49) Mereka adalah seburuk-buruk umat ini, maka janganlah kamu jenguk orang-orang sakit mereka, jangan pula kamu menyalatkan orang-orang mati mereka. Dan jika kamu menjumpai seseorang dari mereka, coloklah matanya dengan kedua jarimu.
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain yang sebagiannya ada yang berpredikat marfu'. Ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Al-Auzai', dari sebagian saudara-saudaranya, dari Muhammad ibnu Ubaidul Makki, dari Abdullah ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pernah dikatakan kepadanya perihal seorang lelaki yang baru tiba di kalangan mereka, lelaki itu mendustakan takdir. Maka Ibnu Abbas berkata, "Tunjukkanlah (tuntunlah) aku kepadanya —yang saat itu Ibnu Abbas telah buta—." Mereka bertanya, "Hai Abul Abbas, apakah yang hendak engkau lakukan terhadapnya?" Ibnu Abbas menjawab, "Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya jika aku dapat menangkapnya, aku benar-benar akan menggigit hidungnya hingga putus. Dan sesungguhnya jika yang kutangkap itu adalah lehernya, aku benar-benar akan meremukkan kepalanya, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"كَأَنِّي بِنِسَاءِ بَنِي فِهْر يَطُفْنَ بِالْخَزْرَجِ، تَصْطَفِقُ أَلَيَاتُهُنَّ مُشْرِكَاتٍ، هَذَا أَوَّلُ شِرْكِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ بِهِمْ سُوءُ رَأْيِهِمْ حَتَّى يُخْرِجُوا اللَّهَ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدّر خَيْرًا، كَمَا أَخْرَجُوهُ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدَّرَ شَرًّا"
'Seakan-akan (diperlihatkan) kepadaku kaum wanita Bani Fihr berkeliling di kalangan Bani Khazraj, sedangkan pantat mereka digoyang-goyangkan dalam keadaan musyrik. Itulah permulaan syirik yang terjadi di kalangan umat ini. Dan demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sungguh benar-benar akan membinasakan diri mereka sendiri buruknya pendapat mereka, hingga mereka berani mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan kebaikan sebagaimana mereka pun tidak percaya bahwa Allah menakdirkan keburukan'.”
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Abul Mugirah, dari Al-Auza’i, dari Al-Ala ibnul Hajjaj, dari Muhammad ibnu Ubaid, lalu disebutkan hal yang semisal, tetapi mereka tidak ada yang mengetengahkannya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Sa'id, dari Abu Ayyub, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, dari Nafi' yang mengatakan bahwa Ibnu Umar mempunyai sahabat dari kalangan penduduk negeri Syam yang biasa saling berbalas surat dengannya. Kemudian Ibnu Umar berkirim surat kepadanya yang menyebutkan, "Sesungguhnya telah sampai kepadaku suatu berita yang mengatakan bahwa engkau telah memperbincangkan sesuatu mengenai takdir, maka sejak sekarang engkau tidak usah lagi berkirim surat kepadaku (putuslah hubunganku denganmu), karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ يُكَذِّبُونَ بِالْقَدَرِ"
'Kelak di kalangan umatku akan ada beberapa kaum yang mendustakan takdir'.”
Abu Daud telah meriwayatkan hadis ini dari Imam Ahmad Ibnu Hambal dengan sanad yang sama.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَى غُفْرَة، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لِكُلِّ أُمَّةٍ مَجُوسٌ، وَمَجُوسُ أُمَّتِي الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا قَدَرَ. إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ"
Imam Ahmad telah mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Anas ibnu Iyad, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Abdullah maula Gafrah, dari Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Bagi tiap-tiap umat ada Majusinya, dan Majusinya umatku ialah orang-orang yang mengatakan tidak ada takdir. Jika mereka sakit, jangan kalian jenguk; dan jika mereka mati, jangan kalian saksikan (menghadiri) jenazah mereka.
Tiada seorang pun dari Sittah yang mengetengahkan hadis ini dari jalur tersebut.
قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا رِشْدِين، عَنْ أَبِي صَخْرٍ حُمَيد بْنِ زِيَادٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يقول: "سَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ مَسْخٌ، أَلَا وَذَاكَ فِي الْمُكَذِّبِينَ بِالْقَدَرِ وَالزِّنْدِيقِيَّةِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Rasyidin, dari Abu Sakhr Humaid ibnu Ziad, dari Nafi', dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Kelak di kalangan umat ini terdapat kutukan. Ingatlah, hal itu terjadi di kalangan orang-orang yang mendustakan takdir dan kaum Zindiq.
Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadis ini melalui Abu Sakhr alias Humaid ibnu Ziad dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi menilai hadis ini hasan sahih garib.
وَقَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ الطَّبَّاعِ، أَخْبَرَنِي مَالِكٌ، عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ الْيَمَانِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم: "كل شيء بقدرن حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ".
Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnut Tabba', telah menceritakan kepadaku Malik, dari Ziad ibnu Sa'd, dari Amr ibnu Muslim, dari Tawus Al-Yamani yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Umar mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Segala sesuatu terjadi berdasarkan takdir hingga kelemahan dan kepandaian.
Imam Muslim meriwayatkan hadis ini secara munfarid melalui Malik.
Di dalam hadis sahih telah disebutkan sebagai berikut:
"اسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ أَمْرٌ فَقُلْ: قَدَّرُ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، وَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ لَكَانَ كَذَا، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ"
Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika kamu tertimpa suatu perkara, maka katakanlah, "Allah telah menakdirkan (nya), apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.” Dan janganlah kamu mengatakan bahwa seandainya aku melakukan anu, niscaya hal ini tidak terjadi. Karena sesungguhnya law (mengandai-andai) membuka pintu masuk bagi perbuatan setan.
Di dalam hadis yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepadanya:
"وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ لَكَ، لَمْ يَنْفَعُوكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ، لَمْ يَكْتُبْهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، لَمْ يضروك. جفّت الأقلام وطويت الصحف"
Ketahuilah bahwa sekiranya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan oleh Allah bagimu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikannya kepadamu. Dan seandainya mereka bersatu untuk menimpakan mudarat kepadamu dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan oleh Allah atas dirimu, niscaya mereka tidak dapat menimpakan mudarat itu kepadamu. Telah kering semua pena dan semua lembaran telah ditutup.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Siwar, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Mu'awiyah, dari Ayyub. ibnu Ziad, telah menceritakan kepadaku Ubadah ibnul Walid ibnu Ubadah, telah menceritakan kepadaku ayahku, bahwa ia menjenguk Ubadah yang sedang sakit yang menurut pendapatnya tidak ada harapan lagi untuk dapat sembuh. Lalu ia berkata, "Wahai Ayahku, berwasiatlah kepadaku dan bersungguh-sungguhlah bagiku." Maka Ubadah mengatakan, "Dudukkanlah aku." Setelah mereka mendudukkannya, ia berkata, "Hai Anakku, sesungguhnya engkau masih belum merasakan manisnya iman dan masih belum sampai kepada hakikat ilmu mengenai Allah sebelum engkau beriman kepada takdir, takdir yang baik dan takdir yang buruk." Aku bertanya, "Hai Ayahku, bagaimanakah caranya agar aku dapat mengetahui takdir yang baik dan takdir yang buruk?" Ia menjawab, "Perlu engkau ketahui bahwa apa yang luput darimu sudah menjadi takdir tidak akan mengenai dirimu, dan apa yang mengenai dirimu sudah menjadi takdir tidak akan luput darimu. Hai Anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
"إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمُ. ثُمَّ قَالَ لَهُ: اكْتُبْ. فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ"
Sesungguhnya yang pertama diciptakan oleh Allah ialah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Tulislah!' Maka di saat itu juga Al-Qalam bergerak menulis tentang semua makhluk yang akan terjadi sampai hari kiamat.
Hai Anakku, jika engkau mati dalam keadaan tidak beriman terhadapnya, niscaya masuk nerakalah kamu."
Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini dari Yahya ibnu Musa Al-Balkhi, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Abdul Wahid ibnu Sulaim, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Al-Walid ibnu Ubadah, dari ayahnya dengan sanad yang sama. Lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih garib.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Mansur, dari Rib'i ibnu Khirasy, dari seorang lelaki, dari Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ: يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، بَعَثَنِي بِالْحَقِّ، وَيُؤْمِنُ بِالْمَوْتِ، وَيُؤْمِنُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَيُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ"
Tidaklah seseorang di antara kalian beriman sebelum beriman kepada empat perkara, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusannya yang Dia utus dengan membawa kebenaran; beriman kepada adanya hari berbangkit sesudah mati; dan beriman dengan takdir yang baik dan takdir yang buruk.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui hadis An-Nadr ibnu Syumail, dari Syu'bah, dari Mansur dengan sanad yang sama. Hal yang sama telah diriwayatkan. Dan Imam Turmuzi meriwayatkan hadis ini melalui Abu Daud At-Tayalisi dari Syu'bah, dari Mansur, dari Rib'i, dan Ah, lalu Turmuzi mengatakan bahwa riwayat ini menurutku lebih sahih . Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah melalui hadis Syarik, dari Mansur, dari Rib'i, dari Ali dengan sanad yang sama
Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan melalui riwayat Abdullah ibnu Wahb dan lain-lainnya, dari Abu Hani' Al-Khaulani dari Abu Abdur Rahman Al-Habli, dari Abdullah ibnu Amryang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ"
Sesungguhnya Allah telah menulis semua takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit dan bumi dalam jarak lima puluh ribu tahun.
Ibnu Wahb menambahkan firman Allah Swt. dalam hadisnya:
{وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ}
dan adalah 'Arasy-Nya di atas air. (Hud: 7)
Imam Turmuzi telah meriwayatkan pula hadis ini, dan ia mengatakan bahwa predikat hadis ini kalau tidak hasan, sahih, atau garib.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَمَا أَمْرُنَا إِلا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ}
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata (Al-Qamar: 50) .
Ini merupakan berita tentang kepastian berlangsungnya kehendak Allah ter­hadap makhluk-Nya. Sebagaimana yang telah diberitakan, bahwa takdir­Nya berlangsung pula terhadap mereka. Untuk itu Allah Swt berfirman:
{وَمَا أَمْرُنَا إِلا وَاحِدَةٌ}
Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan. (Al-Qamar: 50)
Yakni sesungguhnya Kami hanya memerlukan perintah satu kata saja, tanpa memerlukan kata ulang. Maka apa yang Kami perintahkan untuk ada itu pasti ada dan terjadi seketika itu juga seperti sekejap mata, tanpa ada tenggang waktu barang sedikit pun. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh salah seorang penyair dalam bait syair berikut:
إذَا مَا أرَادَ اللَّهُ أمْرًا فَإِنَّما ... يقُولُ لهُ: كُنْ، قَوَلةً فَيَكُونُ ...
Apabila Allah menghendaki suatu urusan, maka sesungguhnya Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah kamu!" dengan sekali ucap, maka jadilah ia.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ}
Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. (Al-Qamar: 51)
Yaitu orang-orang yang semisal dengan kamu dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul.
{فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ}
Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 51)
Yakni adakah orang yang mengambil pelajaran dari kehinaan yang telah ditimpakan oleh Allah Swt. terhadap mereka dan azab yang telah ditakdirkan oleh Allah terhadap mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ}
Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. (Saba: 54)
*******************
Adapun firman Allah Swt.:
{وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ}
Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. (Al-Qatnar: 52)
Artinya, telah tercatat atas mereka di dalam kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat.
{وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ}
Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar. (Al-Qamar ' 53)
dari amal perbuatan mereka.
{مُسْتَطَرٌ}
adalah tertulis. (Al-Qamar: 53)
Yakni telah terhimpunkan di dalam kitab catatan amal mereka dan telah digariskan dalam lembaran-lembaran mereka, tanpa ada yang terlewatkan; baik yang besar maupun yang kecil, semuanya telah ada di dalamnya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ بَانَكَ: سَمِعْتُ عَامِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، حَدَّثَنِي عَوْفُ بْنُ الْحَارِثِ -وَهُوَ ابْنُ أَخِي عَائِشَةَ لِأُمِّهَا-عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: "يَا عَائِشَةُ، إِيَّاكِ ومُحَقِّرات الذُّنُوبِ، فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Muslim ibnu Banik; ia telah mendengar Amir ibnu Abdullah ibnuz Zubair mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Auf ibnul Haris anak lelaki saudara lelaki ibunya Siti Aisyah, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Hai Aisyah, janganlah kamu melakukan dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya pelakunya tetap akan dituntut oleh Allah.
Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis ini melalui jalur Sa'id ibnu Muslim ibnu Banik Al-Madani yang dinilai siqah oleh Ahmad,
Ibnu Mu-in, dan Abu Hatim serta lain-lainnya. Al-Hafiz Ibnu Asakir telah meriwayatkan hadis ini dalam biografi Sa'id ibnu Muslim melalui jalur lain. Kemudian Sa'id mengatakan bahwa lalu ia menceritakan hadis ini kepada Amir ibnu Hisyam, maka Amir berkata kepadanya, "Celakalah engkau, hai Sa'id ibnu Muslim. Sesungguhnya telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnul Mugirah, bahwa ia pernah melakukan suatu perbuatan dosa, lalu ia menganggap remeh dosanya itu, maka pada malam harinya ia bermimpi didatangi -oleh seseorang yang mengatakan kepadanya, 'Hai Sulaiman,
لَا تَحْقِرنَّ مِنَ الذنوبِ صَغِيرا ... إِنَّ الصَّغير غَدًا يَعُودُ كَبِيرَا ...
إِنَّ الصَّغِيرَ وَلَوْ تَقَادَمَ عَهْدُهُ ... عِنْدَ الْإِلَهِ مُسَطَّرٌ تَسْطِيرَا ...
فَازْجُرْ هَوَاكَ عَنِ الْبَطَالَةِ لَا تَكُنْ ... صَعْبَ الْقِيَادِ وَشَمِّرَنْ تَشْمِيرَا ...
إِنَّ المُحِبَّ إِذَا أَحَبَّ إلههُ ... طَارَ الْفُؤَادُ وأُلْهِم التَّفْكِيرَا ...
فَاسْأَلْ هِدَايَتَكَ الْإِلَهَ بِنِيَّة ... فَكَفَى بِرَبّكَ هَادِيًا وَنَصِيرَا
Jangan sekali-kali kamu meremehkan dosa-dosa kecil, sesungguhnya dosa kecil itu di kemudian hari akan menjadi besar.
Dan sesungguhnya dosa kecil itu sekalipun telah berlalu masanya, di sisi Tuhan tetap tercatat dengan lengkap.
Maka kekanglah hawa nafsumu, jangan segan-segan melakukannya, janganlah kamu menjadi orang yang sulit mengendalikan diri, dan bersiagalah dengan penuh kewaspadaan.
Sesungguhnya orang yang hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Tuhannya, maka hatinya akan bersih dan diberi ilham untuk dapat berpikir.
Maka mintalah kepada Tuhan agar dirimu mendapat petunjuk, dengan permintaan yang ikhlas, maka cukuplah bagimu Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong (mu).
*******************
Firman Allah Swt.:
{إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ}
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai. (Al-Qamar: 54)
Berbeda dengan keadaan yang dialami oleh orang-orang yang celaka karena kesesatan dan kegilaan mereka, akhirnya mereka diseret dengan muka di bawah ke dalam neraka disertai dengan cemoohan kecaman dan makian.
Firman Allah Swt.:
{فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ}
di tempat yang disenangi. (Al-Qamar: 55)
Yaitu di rumah kemuliaan Allah dengan memperoleh rida, karunia, dan anugerah-Nya serta kebaj ikan-Nya yang amat berlimpah.
{عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ}
di sisi Tuhan Yang Berkuasa. (Al-Qamar: 55)
Yakni di sisi Tuhan Yang Mahabesar Yang Menciptakan segala sesuatu dan Yang Menentukan ukuran-ukurannya. Dia Mahakuasa atas semua yang dikehendaki-Nya dari apa yang diinginkan dan yang diperlukan oleh makhluk-Nya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنِ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو -يَبلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-قال: "المقسطون عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ: الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وُلُّوا".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Amr ibnu Aus, dari Abdullah ibnu Amr yang menyampaikannya dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang-orang yang berlaku adil berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sisi Kanan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan di hadapan-Nya merupakan sebelah kanan orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan apa yang dikuasakan kepada mereka.
Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini secara tunggal, juga Imam Nasai melalui Sufyan ibnu Uyaynah berikut dengan sanadnya dengan lafaz yang semisal.

آخِرُ تَفْسِيرِ سُورَةِ "اقْتَرَبَتْ"، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ وَالْمِنَّةُ وَبِهِ التَّوْفِيقُ وَالْعِصْمَةُ